carisinyal-web-banner-retina 35

Exynos 2600 Setara Apa? Inilah 5 Chipset Pesaingnya

Ditulis oleh Hilman Mulya Nugraha

Exynos 2600 menjadi salah satu chip andalan yang paling ditunggu-tunggu pada awal 2026. Chip buatan Samsung ini hadir sebagai dapur pacu utama Galaxy S26 dan Galaxy S26 Plus di sebagian besar negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Eropa, dan Asia Tenggara.

Hanya pasar Amerika Serikat dan Tiongkok yang mendapatkan varian Snapdragon 8 Elite Gen 5, sementara Galaxy S26 Ultra menggunakan chip tersebut di semua pasar global.

Exynos 2600 dibangun di atas proses fabrikasi 2nm GAA (Gate-All-Around) milik Samsung Foundry, menjadikannya chip smartphone pertama di dunia yang menggunakan node 2nm. Saya mengapresiasi langkah ini. Pasalnya, fabrikasi modern saat ini porsinya dikuasasi TSMC.

Kehadiran fabrikasi 2nm milik Samsung jelas bisa jadi ajang pembuktian bahwa mereka kini melakukan perbaikan.

Exynos 2600 sendiri hadir dengan CPU 10 core berbasis ARM C1 (ARMv9.3). Di dalamnya terdapat konfigurasi 1 core C1-Ultra (3,8 GHz), 3 core C1-Pro (3,25 GHz), dan 6 core efisiensi (2,75 GHz), yang dipadukan dengan GPU Xclipse 960 berbasis AMD RDNA 3.5.

Exynos 2600 memang kencang dan menjadi tonggak penting bagi Samsung. Namun, penyebutan kencang ini juga harus mengacu pada hasil skor.

Berdasarkan pengujian pada unit Samsung Galaxy S26 Plus, chip ini mencatatkan skor AnTuTu v10 sekitar 3,1 juta poin, sedangkan pada AnTuTu v11 berada di angka 3,3 hingga 3,5 juta poin. Sementara pada Geekbench 6, chip ini meraih skor single-core di kisaran 3.105 hingga 3.197 dan multi-core 10.444 hingga 11.012.

Berdasarkan hasil skor tersebut, kira-kira chip apa saja yang performanya setara atau setidaknya mendekati Exynos 2600? Berikut daftar lengkapnya.

1. MediaTek Dimensity 9500

Dimensity 9500

MediaTek Dimensity 9500 adalah chip flagship andalan MediaTek yang banyak digunakan di ponsel Android kelas atas pada periode akhir 2025 hingga 2026. Di Indonesia, chip ini hadir melalui vivo X300 dan vivo X300 Pro yang sudah resmi dipasarkan dengan garansi resmi, serta OPPO Find X9 dan Find X9 Pro.

Dimensity 9500 dibangun di atas proses fabrikasi TSMC 3nm generasi terbaru dengan total sekitar 30 miliar transistor.

Arsitekturnya mengusung konfigurasi All-Big-Core dengan 1 core C1-Ultra (4,21 GHz) sebagai prime core, 3 core C1-Premium (3,5 GHz), dan 4 core C1-Pro (2,7 GHz). GPU Mali G1-Ultra MC2 menawarkan peningkatan performa grafis 33 persen dan efisiensi daya 42 persen lebih baik dibanding pendahulunya, dilengkapi dukungan ray tracing generasi kedua.

NPU generasi kesembilan dengan daya komputasi AI dua kali lipat dari versi sebelumnya menjadi salah satu keunggulan utamanya.

Skor pengujian performa menunjukkan bahwa Dimensity 9500 secara keseluruhan unggul dari Exynos 2600 pada benchmark AnTuTu. Di AnTuTu v11, Dimensity 9500 mencapai skor total sekitar 4.011.932 poin, lebih tinggi sekitar 20 persen dibanding Exynos 2600.

Sementara pada Geekbench 6, chip ini meraih 4.007 untuk single-core dan 11.217 untuk multi-core. Keunggulan single-core Dimensity 9500 cukup kentara dibanding Exynos 2600 berkat arsitektur All-Big-Core dengan prime core 4,21 GHz-nya.

Namun perlu diingat, node fabrikasi Exynos 2600 yang lebih canggih (2nm vs 3nm) berpotensi memberikan efisiensi daya yang lebih baik dalam penggunaan jangka panjang.

2. Apple A19 Pro

Apple A19 Pro

Apple A19 Pro merupakan chip yang dipakai di iPhone 17 Pro, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone Air. Chip ini jelas merupakan chip kelas atas yang menempatkannya sebagai pesaing langsung dari ponsel Android flagship yang dibekali Exynos 2600.

Apple A19 Pro dibangun menggunakan proses fabrikasi N3P (3nm) dari TSMC. Konfigurasi CPU-nya membawa 6 core yang terdiri dari 2 core performa dan 4 core efisiensi. Sektor grafisnya ditangani GPU 6 core yang kini dilengkapi Neural Accelerator di setiap intinya untuk pemrosesan AI, meski perlu dicatat bahwa A19 Pro pada iPhone Air hanya mendapat konfigurasi GPU 5 core.

Chip ini juga ditopang Neural Engine 16 core sebagai pusat kecerdasan buatan on-device.

Lalu, bagaimana dengan performanya? Berdasarkan data PCMag, hasil pengujian Geekbench 6 menunjukkan iPhone Air meraih single-core 3.656 dan multi-core 9.246, iPhone 17 Pro mencetak single-core 3.820 dan multi-core 9.820, sedangkan iPhone 17 Pro Max mencapai single-core 3.784 dan multi-core 9.734.

Secara keseluruhan, skor single-core A19 Pro ada di kisaran 3.800-an dan multi-core di kisaran 9.000 hingga 10.000-an.

Hasil iPhone Air yang lebih rendah dibanding iPhone 17 Pro meski sama-sama memakai nama A19 Pro wajar terjadi karena perbedaan konfigurasi GPU tadi. Walaupun demikian, performa iPhone Air tetap kencang dan bersaing di kelas flagship.

Jika dibandingkan dengan Exynos 2600, skor single-core A19 Pro pada iPhone 17 Pro unggul tipis, sementara multi-core Exynos 2600 yang mencapai 10.444 hingga 11.012 justru lebih tinggi berkat konfigurasi 10 core-nya.

Perlu diingat bahwa Geekbench menjadi tolok ukur yang lebih relevan untuk perbandingan lintas platform ini karena skor AnTuTu iOS dan Android tidak bisa dibandingkan secara setara.

3. Snapdragon 8 Elite Gen 5

Snapdragon 8 Elite Gen 5

Snapdragon 8 Elite Gen 5 merupakan chip yang menjadi pesaing paling langsung bagi Exynos 2600. Keduanya bahkan hadir dalam satu lini produk yang sama, yakni Galaxy S26 series, hanya berbeda pasar.

Chip ini dirancang Qualcomm sebagai penerus Snapdragon 8 Elite dan dibangun menggunakan proses fabrikasi TSMC 3nm (N3P). CPU-nya mengusung 2 core Oryon v3 Prime berkecepatan 4,61 GHz dan 6 core Oryon v3 Performance di 3,62 GHz, dipadukan GPU Adreno 840 yang baru.

Di Indonesia, chip ini sudah hadir lebih dulu lewat iQOO 15 yang rilis pada Desember 2025 sebagai ponsel pertama di Indonesia yang menggunakannya. Selain itu, chip ini juga dipakai di Samsung Galaxy S26 Ultra, nubia RedMagic 11 Pro, dan Xiaomi 17 series.

Skor pengujian performa menunjukkan keunggulan chip ini atas Exynos 2600. Pada AnTuTu v11 yang diuji pada iQOO 15, Snapdragon 8 Elite Gen 5 meraih skor total 3.740.686 poin, lebih tinggi sekitar 10 hingga 20 persen dibanding Exynos 2600.

Bahkan varian gaming RedMagic 11 Pro berhasil menembus angka 4.002.199 poin. Sedangkan pada Geekbench 6, chip ini mencetak 3.588 poin untuk single-core dan 10.207 untuk multi-core.

Dari data tersebut, tidak terbantahkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 unggul dari Exynos 2600 terutama di sisi CPU dan performa puncak, meski fabrikasinya 3nm. Namun Exynos 2600 berhasil menyainginya di sisi GPU, dengan skor OpenCL Geekbench yang bahkan tipis di atas Snapdragon 8 Elite Gen 5.

4. Apple A19

Apple A19

Apple A19 hadir sebagai salah satu penantang serius Exynos 2600 dari kubu Apple. Chip ini merupakan saudara dari A19 Pro dan menjadi dapur pacu iPhone 17 standar.

Satu hal yang menarik dari A19 adalah performanya yang di luar dugaan, karena hasil benchmark-nya bahkan mampu melampaui iPhone Air yang menggunakan A19 Pro akibat perbedaan jumlah core GPU pada varian yang dipakai di iPhone Air tersebut.

Performa A19 bersumber dari proses fabrikasi 3nm (N3P) besutan TSMC. Konfigurasi CPU-nya terdiri dari 6 core yang terbagi menjadi 2 core performa dan 4 core efisiensi, sementara pemrosesan grafisnya ditangani GPU 5 core. Neural Engine 16 core menjadi mesin penggerak utama fitur-fitur Apple Intelligence yang berjalan langsung di perangkat.

Dalam pengujian Geekbench 6, Apple A19 sukses mencatatkan skor 3.621 untuk single-core dan 9.168 untuk multi-core. Skor single-core A19 masih unggul dari Exynos 2600 berkat efisiensi arsitektur Apple yang khas, meskipun multi-core-nya lebih rendah karena hanya memiliki 6 core dibanding 10 core milik Exynos 2600.

Fakta-fakta tersbeut membuktikan bahwa iPhone 17 standar pun mampu bersaing di kelas yang sama dengan chip Android flagship terkini, terutama untuk performa per-core.

5. Snapdragon 8 Elite (Gen 4)

Snapdragon 8 elite

Snapdragon 8 Elite, atau yang juga dikenal sebagai Snapdragon 8 Elite Gen 4, adalah chip flagship Qualcomm yang mendominasi pasar ponsel kelas atas sepanjang 2024 hingga 2025. Chip ini menjadi tonggak penting bagi Qualcomm karena pertama kalinya lini Snapdragon 8 series mengadopsi CPU Oryon buatan sendiri, arsitektur yang sebelumnya hanya hadir di Snapdragon X series untuk laptop. 

Di Indonesia, chip ini hadir di banyak ponsel flagship populer seperti Samsung Galaxy S25 Ultra, iQOO 13, dan Xiaomi 15 series yang semuanya sudah masuk jalur distribusi resmi.

Snapdragon 8 Elite (Gen 4) dibangun menggunakan proses fabrikasi TSMC 3nm (N3E). CPU-nya mengusung konfigurasi 8 core tanpa efficiency core, terdiri dari 2 core Oryon Prime berkecepatan 4,32 GHz dan 6 core Oryon Performance di 3,53 GHz. GPU-nya menggunakan Adreno 830 yang diklaim membawa peningkatan performa grafis signifikan dibanding generasi sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan performanya? B Snapdragon 8 Elite (Gen 4) meraih skor Geekbench 6 sebesar 3.125 untuk single-core dan 9.932 untuk multi-core. 

Samsung Galaxy S25 Ultra yang juga hadir resmi di Indonesia mencatatkan hasil serupa, dengan single-core 3.106 dan multi-core 9.763 berdasarkan laporan Tom's Guide.

Untuk skor AnTuTu v11, chip ini berada di kisaran 2,9 juta hingga 3,2 juta poin tergantung perangkat dan sistem pendinginan yang digunakan. Ponsel gaming dengan pendinginan maksimal seperti RedMagic dan iQOO bisa mendorong angka lebih tinggi, sementara ponsel flagship konvensional umumnya berada di kisaran bawah rentang tersebut.

Jika dibandingkan dengan Exynos 2600, hasilnya sangat ketat. Selisih AnTuTu keduanya hanya sekitar 2 hingga 5 persen, hampir tidak terasa dalam penggunaan sehari-hari. Exynos 2600 unggul dalam hal kebaruan arsitektur berkat fabrikasi 2nm GAA yang lebih canggih, serta GPU Xclipse 960 yang mampu mengimbangi bahkan tipis melampaui Adreno 830 dalam pengujian ray-tracing. 

Di sisi lain, Snapdragon 8 Elite (Gen 4) masih memiliki keunggulan dalam stabilitas aplikasi dan ekosistem optimasi yang lebih matang karena sudah digunakan lebih lama oleh para pengembang game dan aplikasi.

Chipset-chipset yang disebutkan ini merupakan pesaing sekelas Exynos 2600 dan semuanya ideal untuk ponsel flagship. Masing-masing memiliki ciri khas performa yang menjadikannya pilihan kuat di pasar kelas atas. Namun, jika mau dibambil simpulan, Snapdraogn 8 Elite Gen 4 paling mendekati performa dari Exynos 2600.

Jadikan Carisinyal sebagai favoritmu di Google
google_preferred_source
cross