carisinyal-web-banner-retina 35

Ini Dia 8 Kelebihan dan Kekurangan vivo Y05

Ditulis oleh Hilman Mulya Nugraha

vivo Indonesia kembali meramaikan pasar smartphone entry-level lewat vivo Y05. Ponsel ini hadir menyasar pengguna yang mencari perangkat terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari. Karena entry-level, saya harap pembaca tidak berekspektasi tinggi terhadap produk ini. Terlebih di tengah kondisi kenaikan harga memori. 

Sebagai sebuah ponsel murah, vivo Y05 bisa dibilang tawarkan kelebihan. Namun, tentu juga ada kekurangan lainnya. Namun seperti kebanyakan ponsel di segmen ini, spesifikasi di atas kertas belum tentu sepenuhnya mencerminkan pengalaman penggunaan sebenarnya. 

Ada beberapa hal yang patut diapresiasi, tetapi ada pula kompromi yang perlu dipertimbangkan matang-matang. Karena itu, sebelum memutuskan membeli, ada baiknya kita bahas lebih dalam bagaimana plus minus dari vivo Y05 berikut ini. 

Spesifikasi vivo Y05

vivo Y05
Layar IPS LCD 6.74 inci
Chipset UNISOC T7225
RAM 4 GB
Memori Internal 64 GB
Baterai Li-Ion 6500 mAh
Cek Harga Saat Ini Shopee Tiktok
*Tabel ini bisa digeser ke samping
Kelebihan
Kekurangan
Baterai 6.500 mAh dengan teknologi BlueVolt yang diklaim tetap sehat hingga lima tahun
Performa standar, RAM masih 4 GB, dan masih pakai eMMC
Layar sudah oke buat kelas harganya, usung resolusi HD+dan refresh rate 120Hz
Pengisian daya 15W tergolong lambat untuk baterai 6.500 mAh
Dibekali sertifikasi tahan semburan air IP65 dan tahan jatuh dari SGS 5-Star Drop Resistance
Kamera utama hanya 8 MP, ada penurunan dibanding generasi sebelumnya
Mengusung OriginOS 6.0 berbasis Android 16 dan dilengkapi fitur AI yang lengkap
Tidak dilengkapi NFC dan masih menggunakan speaker mono
Desain flat frame dengan Dynamic Light dan senter ekstra terang

Kelebihan vivo Y05 

Mari telisik berbagai kelebihan vivo Y05 yang dijual dengan harga Rp1,8 jutaan ini. Apa saja poin kelebihannya? Simak selengkapnya berikut ini. 

1. Baterai 6.500 mAh dengan Teknologi BlueVolt, Diklaim Awet hingga Lima Tahun

Sektor daya menjadi daya tarik utama vivo Y05. Dengan kapasitas 6.500 mAh, ponsel ini termasuk yang paling besar di kelasnya. Tidak hanya mengandalkan ukuran baterai, vivo juga membekalinya dengan teknologi BlueVolt yang diklaim mampu menjaga kesehatan baterai tetap di atas 80 persen bahkan setelah lima tahun pemakaian. 

Klaim ini tentu cukup ambisius, apalagi untuk smartphone di rentang harga Rp2 jutaan.Dalam pengujian internalnya, vivo menyebut baterai di ponsel ini sanggup bertahan hingga hampir 30 jam untuk memutar video. Saat dipakai bermain game FPS, dayanya diklaim mampu bertahan lebih dari 11 jam. 

Untuk mendengarkan musik, ketahanannya bahkan bisa menembus lebih dari 70 jam, sementara penggunaan navigasi GPS disebut dapat berjalan sekitar 9 jam dalam sekali pengisian.

Dengan daya tahan tersebut, vivo Y05 terasa cocok untuk pengguna yang punya mobilitas tinggi atau ingin ponsel yang benar-benar awet seharian tanpa harus sering mencari colokan.

Jika dibandingkan dengan pendahulunya yang membawa baterai 6.000 mAh, vivo Y05 tidak hanya menawarkan kapasitas lebih besar, tetapi juga peningkatan dari sisi teknologi pengelolaan baterainya.

2. Layar IPS LCD 6,74 Inci dengan Refresh Rate 120Hz

vivo Y05 hadir dengan layar IPS LCD berukuran 6,74 inci yang memiliki resolusi HD+ (1600×720 piksel) serta kerapatan sekitar 260 ppi. Secara angka memang belum setajam FHD+, tetapi untuk penggunaan sehari-hari seperti membuka media sosial, streaming video, atau membaca artikel, tampilannya masih terasa cukup nyaman dan proporsional di kelasnya.

Yang membuatnya lebih menarik, layar ini sudah mendukung refresh rate 120Hz. Dukungan ini membuat animasi terlihat lebih halus dan respons layar terasa lebih luwes, terutama saat scrolling atau berpindah antar aplikasi. Pengalaman bermain game kasual pun jadi terasa lebih mulus selama gim tersebut mendukung frame rate tinggi.

vivo juga melengkapinya dengan sejumlah fitur pendukung. Tingkat kecerahan puncaknya mencapai 1.200 nits melalui High Brightness Mode (HBM), sehingga layar tetap cukup terbaca saat digunakan di luar ruangan. 

Reproduksi warnanya mencakup sekitar 83% NTSC yang membuat tampilan terlihat cukup hidup. Ada pula sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light berbasis software untuk membantu mengurangi paparan cahaya biru, serta fitur Wet-Hand Touch agar layar tetap responsif meski jari dalam kondisi sedikit basah.

3. Dibekali Sertifikasi IP65 dan SGS 5-Star Drop Resistance

vivo y05

Untuk urusan durabilitas, vivo Y05 datang dengan bekal yang cukup solid di kelas entry-level. Ponsel ini mengantongi dua sertifikasi sekaligus, yakni IP65 dan SGS 5-Star Drop Resistance, yang menegaskan fokus vivo pada aspek ketahanan fisik.

Sertifikasi IP65 menunjukkan bahwa bodinya terlindungi sepenuhnya dari debu serta mampu menghadapi semprotan air bertekanan rendah dari berbagai arah. Dengan kata lain, penggunaan di kondisi gerimis atau lingkungan berdebu masih tergolong aman. 

Sementara itu, label SGS 5-Star Drop Resistance menjadi bukti bahwa perangkat ini telah melewati pengujian independen untuk memastikan ketahanannya terhadap benturan maupun jatuh dari ketinggian tertentu.

Di rentang harga Rp1 jutaan, sebenarnya memang ada ponsel lain yang tawarkan IP rating lebih baik. Tapi jumlahnya sedikit. 

Karena itu, IP65 di  vivo Y05 terasa cocok untuk pengguna dengan mobilitas tinggi, pelajar yang aktif, pekerja lapangan, atau siapa saja yang menginginkan ponsel dengan daya tahan ekstra untuk pemakaian sehari-hari.

4. Android 16 dengan OriginOS 6.0 plus Deretan Fitur AI

Tidak hanya unggul di sisi hardware, vivo Y05 juga datang dengan bekal software yang tergolong sangat segar. Ponsel ini langsung menjalankan OriginOS 6.0 berbasis Android 16, sebuah kombinasi yang bahkan belum banyak ditemui di ponsel kelas menengah saat ini. Artinya, pengguna sudah bisa menikmati fitur terbaru sekaligus pembaruan keamanan sejak pertama kali dinyalakan.

OriginOS 6.0 sendiri menghadirkan tampilan antarmuka yang lebih modern, animasi yang terasa lebih halus, serta berbagai optimasi untuk menunjang kenyamanan penggunaan sehari-hari.

Kehadiran OriginOS 6.0 di ponsel ini patut diapresiasi. Itu artinya, vivo memperhatikan perangkat terjangkau mereka agar dapat OS yang lebih baru dan tawarkan pengalaman yang lebih oke dibanding FunTouchOS. 

Selain software Origin OS, vivo Y05 juga sudah terintegrasi dengan sejumlah fitur berbasis kecerdasan buatan seperti AI Creation, AI Photo Enhancement, AI Translation, hingga dukungan Gemini. Kehadiran fitur AI di segmen Rp1 jutaan tentu menjadi nilai tambah tersendiri, terutama bagi pengguna yang ingin mencoba pengalaman smart feature tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

5. Desain Frame Datar dan Dynamic Light

Dari sisi tampilan, vivo Y05 mengusung desain layar 2,5D dengan bingkai datar (flat frame). Model seperti ini membuat bodinya terasa lebih tegas saat digenggam sekaligus memberi kesan modern. 

Di bagian belakang, terlihat susunan dua kamera, satu lampu kilat standar, serta modul cincin Dynamic Light yang berfungsi sebagai indikator notifikasi sekaligus elemen visual pemanis.

Penempatan tombol dan port juga dibuat cukup praktis. Di sisi kanan bodi terdapat tombol volume serta tombol daya yang sekaligus merangkap sebagai pemindai sidik jari. Sementara bagian bawah diisi port pengisian daya Tipe C, jack audio 3,5 mm, dan mikrofon.

Menariknya, lubang speaker utama justru ditempatkan di bagian atas, sehingga suara tidak mudah tertutup saat ponsel digunakan dalam posisi tertentu.

Tak hanya itu, vivo Y05 juga dibekali senter dengan tingkat kecerahan yang bisa diatur, bahkan diklaim mampu menyala hingga sepuluh kali lebih terang. Dipadukan dengan fitur Dynamic Light, ponsel ini tidak hanya fungsional untuk kebutuhan harian, tetapi juga menawarkan sentuhan kecil yang membuat pengalaman penggunaan terasa lebih praktis.

Kekurangan vivo Y05 

Berikut beberapa kekurangan vivo Y05 yang perlu jadi perhatian kamu sebelu memutuaskan membeli ponsel ini.

1. Performa Biasa Saja, RAM 4 GB, dan Masih eMMC

Unisoc T7225

Kalau bicara performa, jujur ini jadi salah satu titik lemah vivo Y05. Ponsel ini masih mengandalkan SoC UNISOC T7225, cip yang sama persis dengan yang dipakai vivo Y04s, dan sejatinya merupakan rebrand dari UNISOC Tiger T612 yang lebih dulu hadir di vivo Y03t.

Artinya, ini sudah tiga generasi berturut-turut menggunakan platform yang mirip. UNISOC T7225 sendiri masuk kategori entry-level, dibuat dengan fabrikasi 12 nm dan dibekali delapan inti prosesor yang terdiri dari dua Cortex-A75 untuk performa serta enam Cortex-A55 untuk efisiensi, semuanya berjalan hingga 1,8 GHz. 

Urusan grafis ditangani GPU Mali-G57 MP1 (650 MHz), lengkap dengan ISP, modem 4G, serta cip WiFi dan Bluetooth terintegrasi.

Dengan konfigurasi seperti itu, performanya memang tidak jauh berbeda dari pendahulunya. Skor AnTuTu v10 yang berada di kisaran 240 ribuan sudah cukup menggambarkan kelasnya. Untuk aktivitas ringan seperti chat, media sosial, atau streaming, masih tergolong aman. Namun saat mulai multitasking atau membuka aplikasi yang agak berat, keterbatasannya mulai terasa.

Yang menurut saya cukup disayangkan, vivo Y05 masih dibekali RAM 4 GB. Kalau harganya berada di kisaran Rp1,5 jutaan, mungkin hal ini masih bisa saya maklumi. 

Tapi dengan banderol sekitar Rp1,9 jutaan untuk varian 64 GB dan tembus Rp2,1 jutaan untuk versi 4/128 GB, kekurangannya jadi terasa lebih nyata. Di titik harga ini, RAM 4 GB terasa seperti kembali ke era sebelum pandemi.

Meski begitu, saya juga paham bahwa kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya pulih dari kenaikan harga komponen, termasuk RAM. Krisis harga memori yang belum benar-benar membaik membuat RAM 4 GB di ponsel Rp1 sampai Rp2 jutaan seolah “terpaksa” kembali jadi standar. 

Tetap saja, dampaknya ke pengalaman penggunaan cukup terasa, apalagi vivo Y05 juga masih menggunakan penyimpanan eMMC, bukan UFS. Alhasil, aplikasi lebih mudah reload, perpindahan antar aplikasi tidak selalu mulus, dan ruang bernapas sistem terasa terbatas.

Singkatnya, vivo Y05 jelas bukan ponsel yang mengandalkan performa. Ia lebih cocok untuk kebutuhan dasar alias kebutuhan harian. 

Namun kalau kamu berharap multitasking yang lebih lega atau respons yang lebih gesit, kombinasi chipset lama, RAM 4 GB, dan eMMC ini menjadi kompromi terbesar yang harus diterima.

2. Pengisian Daya 15W Terasa Kurang

charger vivo 15 watt

Menurut saya, ini adalah kekurangan paling terasa dari vivo Y05. Dengan baterai sebesar 6.500 mAh, ponsel ini masih mengandalkan pengisian daya 15W. Alhasil, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi dari kondisi kosong hingga penuh tergolong lama, diperkirakan berada di kisaran 3 sampai 3,5 jam.

Di tengah tren smartphone Rp1 jutaan yang mulai banyak menawarkan charging 25W bahkan 33W, kecepatan 15W terasa cukup tertinggal. Situasi ini bisa jadi merepotkan, terutama kalau kamu lupa mengisi daya semalaman dan butuh baterai penuh dalam waktu singkat di pagi hari. Menunggu berjam-jam jelas bukan pengalaman yang ideal.

Sisi positifnya, kapasitas baterai yang besar membuat frekuensi pengisian tidak terlalu sering. Jadi, meski proses charging-nya lambat, kamu kemungkinan besar hanya perlu colok charger setiap satu atau dua hari sekali, tergantung pola pemakaian. Tetap saja, kombinasi baterai jumbo dan fast charging yang minim ini terasa kurang seimbang untuk penggunaan modern.

3. Kamera Utama Turun ke 8 MP, Kemampuan Low-Light Terbatas

Sektor kamera juga jadi salah satu kompromi di vivo Y05. Ponsel ini hanya dibekali kamera utama 8 MP lengkap dengan LED flash. Untuk smartphone di kisaran Rp1,9 jutaan, spesifikasi ini terasa cukup konservatif. Bahkan kalau dibandingkan dengan pendahulunya, vivo Y04s, yang masih membawa kamera utama 13 MP, vivo Y05 justru mengalami penurunan resolusi.

Memang, angka megapiksel bukan segalanya. Namun di kelas harga ini, banyak kompetitor sudah menawarkan kamera utama 13 MP bahkan 50 MP, setidaknya di atas kertas terlihat lebih menjanjikan.

Kamera vivo Y05 lebih cocok diposisikan sebagai pelengkap kebutuhan dasar, bukan untuk pengguna yang menaruh ekspektasi tinggi di sektor fotografi.

4. Tidak Ada NFC dan Speaker Masih Mono

vivo Y05 belum dibekali NFC, padahal di 2026 fitur ini sudah makin relevan untuk tap-to-pay, transportasi umum, hingga transfer data jarak dekat. Buat pengguna di kota besar yang terbiasa dengan ekosistem cashless, absennya NFC jelas mengurangi sisi praktis, apalagi di kelas harga yang sama beberapa kompetitor sudah menawarkannya.

Selain itu, sistem audionya juga masih mengandalkan speaker mono. Untuk pemakaian harian memang masih cukup, tapi pengalaman menonton video atau mendengarkan musik jelas tidak seimersif speaker stereo. Dua hal ini jadi kompromi yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli.

Simpulan

Menurut saya vivo Y05 memang terlihat menarik di atas kertas lewat baterai 6.500 mAh, layar 120Hz, Android 16, serta perlindungan IP65. Namun setelah dilihat lebih dalam, komprominya terasa cukup banyak, bahkan beberapa di antaranya justru terasa lebih penting dibanding kelebihan yang ditawarkan.

Performa standar, RAM 4 GB, penyimpanan eMMC, charging 15W, kamera 8 MP, sampai absennya NFC membuat pengalaman penggunaan terasa dibatasi dari berbagai sisi.

Karena itu, vivo Y05 menurut saya lebih cocok untuk kebutuhan dasar seperti chat, media sosial, browsing, dan streaming. Untuk pengguna yang gemar multitasking, memasang banyak aplikasi, atau berharap respons yang gesit, ponsel ini jelas kurang ideal.

Singkatnya, vivo Y05 masih bisa jadi pilihan bagi pengguna yang mengutamakan baterai awet dan daya tahan bodi, tapi buat saya pribadi, terlalu banyak kompromi yang harus diterima di harga segini.

Kategori:

cross