11 Kelebihan dan Kekurangan Motorola Razr 60
Motorola Razr 60 adalah ponsel lipat yang sebenarnya menarik. Ponsel ini hadir sebagai versi yang lebih terjangkau dibanding model Ultra, dengan desain clamshell yang stylish, bodi premium, serta layar luar yang fungsional.
Lantas, seperti apa sebenarnya Motorola Razr 60 saat digunakan sehari-hari? Apakah ponsel ini benar-benar layak dipilih sebagai pintu masuk ke dunia ponsel lipat, atau justru terlalu banyak kompromi di balik desainnya yang menarik?
Di artikel ini, bakal dibahas kelebihan dan kekurangan Motorola Razr 60 secara lebih menyeluruh yang bisa jadi panduan sebelum Anda memutuskan untuk membelinya.
Spesifikasi Motorola Razr 60

| Layar | Foldable LTPO AMOLED 6.9 inci |
| Chipset | MediaTek Dimensity 7400X |
| RAM | 8 GB |
| Memori Internal | 256 GB |
| Baterai | Li-Po 4500 mAh |
| Cek Harga Saat Ini | Shopee Blibli |
Kelebihan Motorola Razr 60
Apa saja kelebihan Motorola Razr 60 yang bisa jadi perhatian? Apakah hanya soal konsep lipatnya saja? Tentu saja bukan, ada beberapa kelebihan dari Motorola Razr 60 yang bisa kamu perhatikan berikut ini.
1. Desain Camshell Premium yang Nyaman Digenggam dan Kuat

Motorola Razr 60 tampil dengan desain clamshell yang terasa premium banget di tangan. Alih-alih pakai kaca belakang yang licin dan gampang kotor oleh sidik jari, Motorola Razr 60 memilih material kulit sintetis (vegan leather) yang tidak hanya bikin tampilannya elegan tapi juga memberikan tekstur grippy sehingga lebih nyaman saat digenggam.
Bobotnya juga ringan, hanya sekitar 188 gram, sehingga terasa enteng tanpa mengurangi kesan solid. Bentuknya yang kompak saat dilipat gampang banget masuk ke saku celana atau tas kecil yang tentunya cocok buat yang mobilitasnya tinggi.
Dari sisi ergonomi, bodinya punya lengkungan halus dan distribusi bobot yang seimbang. Ini bikin perangkat nyaman dipakai dalam jangka waktu panjang. Kalau kamu suka ponsel yang bukan cuma canggih tetapi juga fashionable, Motorola Razr 60 cukup berhasil menyatukan kedua hal itu.
2. Engsel Rapat, Bodi Kokoh, dan Ada Sertifikasi IP48

Motorola juga ngasih peningkatan besar di bagian build quality dengan engsel zero-gap yang rapat saat ponsel dilipat. Ini bukan sekadar soal estetika, tetapi bikin area layar bagian dalam lebih aman dari debu atau kotoran yang suka nyelip saat ponsel disimpan di tas.
Seperti ponsel flip kelas atas lainnya seperti Galaxy Z Flip7, Motorola Razr 60 juga sudah mengantongi sertifikasi IP48. Artinya, ponsel ini memiliki perlindungan terhadap debu berukuran tertentu serta mampu bertahan saat terendam air tawar hingga kedalaman sekitar 1,5 meter selama 30 menit.
Tingkat proteksi seperti ini menempatkan Motorola Razr 60 sejajar dengan ponsel lipat flagship dan menjadi peningkatan besar dibanding generasi ponsel lipat sebelumnya yang masih terbatas pada ketahanan cipratan air saja.
Selain itu, lipatan layarnya juga makin halus dan hampir tidak terasa. Meski engselnya sedikit lebih longgar dibanding beberapa rival, reviewer mencatat bahwa ini justru membuat Motorola Razr 60 lebih nyaman dibuka-tutup sehari-hari.
3. Layar Utama Menggunakan AMOLED 6,9 inci

Motorola Razr 60 dibekali layar utama berukuran 6,9 inci dengan panel LTPO AMOLED beresolusi FHD+. Ukurannya terasa lega untuk ponsel lipat model clamshell, sementara kualitas tampilannya sudah berada di level kelas atas. Warna terlihat hidup, kontras tajam, dan detail tetap terjaga dengan baik untuk berbagai kebutuhan harian.
Berkat teknologi LTPO, layar ponsel ini memiliki dua mode refresh rate yang bisa disesuaikan. Mode standar menawarkan tampilan yang lebih hemat daya, sementara mode tinggi memberikan animasi yang terasa lebih mulus saat scrolling atau berpindah aplikasi. Peralihan antar mode ini berjalan halus sehingga tidak terasa mengganggu dalam penggunaan sehari-hari.
Kecerahan layar Motorola Razr 60 juga cukup bisa diandalkan. Dalam penggunaan luar ruangan, tampilannya masih terlihat jelas berkat tingkat kecerahan yang tinggi. Tech Advisor menyebutkan bahwa layar utama Razr 60 mampu mencapai 3000 nits peak brightness, bahkan dalam beberapa aspek dinilai mampu menyaingi ponsel lipat lain yang harganya lebih mahal.
Lipatan layar di bagian tengah juga dibuat semakin halus. Saat layar aktif dan menampilkan konten, garis lipatan nyaris tidak terlihat dan tidak mengganggu tampilan. Hal ini membuat pengalaman visual terasa lebih menyatu dan mendekati ponsel non-lipat.
Dengan karakter layar yang cerah, responsif, dan berukuran besar, Motorola Razr 60 terasa nyaman dipakai untuk berbagai aktivitas, mulai dari menonton video, menjelajah media sosial, hingga membaca artikel dalam waktu lama tanpa cepat melelahkan mata.
4. Layar Luar 3,6 inci yang Fungsional

Layar luar berukuran 3,6 inci menjadi salah satu nilai jual utama Motorola Razr 60. Motorola memberi kebebasan penuh pada layar ini, sehingga hampir semua aplikasi Android bisa dijalankan langsung tanpa perlu pengaturan tambahan.
Berdasarkan pengujian Tech Advisor, pendekatan ini terasa lebih fleksibel dibanding ponsel flip lain, karena layar luar benar-benar berfungsi sebagai perpanjangan sistem Android, bukan sekadar layar notifikasi.
Berbagai aktivitas ringan bisa dilakukan tanpa membuka ponsel, mulai dari membalas pesan, membuka media sosial, menonton video singkat, hingga menggunakan navigasi. Untuk penggunaan cepat, layar luar ini terasa jauh lebih praktis dan efisien.
Kualitas panelnya juga mendukung fungsi tersebut. Layar luar Motorola Razr 60 menggunakan panel pOLED 90Hz dengan tingkat kecerahan yang cukup tinggi. Berdasarkan pengujian GSMArena, tampilannya tetap terbaca dengan baik saat digunakan di luar ruangan, baik dalam mode kecerahan otomatis maupun manual.
Layar luar ini juga berfungsi sebagai viewfinder untuk kamera utama. Pengguna bisa mengambil selfie atau merekam video menggunakan kamera belakang 50 MP, dengan hasil yang lebih tajam dan detail dibanding kamera depan. Tech Advisor menilai fitur ini menjadi salah satu keunggulan praktis Motorola Razr 60 untuk penggunaan sehari-hari.
Dari sisi personalisasi, Motorola menyediakan berbagai opsi kustomisasi melalui widget dan panel informasi. Dengan begitu, layar luar bisa disesuaikan dengan kebutuhan tanpa terasa rumit. Dalam praktiknya, keberadaan layar luar ini membantu mengurangi frekuensi membuka ponsel, sekaligus membuat ponsel ini terasa lebih praktis dan efisien.
5. Antarmuka Hello UI yang Bersih

Motorola Razr 60 menjalankan Hello UI berbasis Android 15 yang tampil bersih dan mudah digunakan. Tampilannya mengusung pendekatan mirip Stock Android, dengan desain yang sederhana, rapi, dan tidak terasa ramai. Navigasi sistemnya juga mudah dipahami, bahkan untuk pengguna yang baru pertama kali mencoba ponsel Android atau ponsel lipat.
Jumlah aplikasi bawaan relatif sedikit dan sebagian besar bisa dihapus. Hal ini membuat sistem terasa lebih ringan dan tidak membebani pengguna dengan aplikasi yang jarang dipakai. Tidak ada duplikasi aplikasi inti yang membingungkan, sehingga pengalaman penggunaan terasa lebih praktis.
Motorola juga menyertakan Moto app sebagai pusat pengaturan tambahan. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa mengakses fitur gestur khas Motorola, pengaturan tampilan, serta berbagai opsi personalisasi dengan cara yang simpel dan mudah dimengerti.
Dalam penggunaan harian, Hello UI terasa responsif untuk kebutuhan umum seperti media sosial, browsing, chatting, dan streaming. Kombinasi tampilan yang bersih dan performa yang stabil membuat pengalaman memakai Motorola Razr 60 terasa nyaman tanpa banyak gangguan.
6. Hadir dengan Fitur Moto Actions

Moto Actions masih menjadi salah satu ciri khas Motorola yang paling berguna, termasuk di Motorola Razr 60. Lewat berbagai gesture fisik sederhana, pengguna bisa mengakses fitur penting dengan lebih cepat tanpa harus membuka menu atau mencari ikon di layar.
Beberapa gesture yang paling sering dipakai antara lain gerakan chop-chop untuk menyalakan senter dan gerakan twist untuk langsung membuka kamera. Keduanya bisa dilakukan bahkan saat ponsel masih terlipat, sehingga sangat praktis untuk situasi mendesak atau momen spontan.
Pada ponsel lipat seperti Motorola Razr 60, fitur ini terasa semakin relevan karena kamera bisa langsung aktif dengan layar luar sebagai viewfinder.
Selain itu, tersedia juga gesture untuk mengambil screenshot dan pintasan lain yang membantu penggunaan harian. Semua fitur ini bisa diatur melalui Moto app, sehingga pengguna bebas mengaktifkan atau menonaktifkan gesture sesuai kebutuhan.
Dalam penggunaan sehari-hari, Moto Actions terasa lebih cepat dan alami dibanding menekan tombol fisik atau menggunakan perintah suara. Setelah terbiasa, gesture ini menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan dan memberi nilai tambah nyata pada pengalaman menggunakan Motorola Razr 60.
7. Wi-Fi 6, Bluetooth 5.4, dan Sensor Sidik Jari yang Responsif

Meski diposisikan sebagai ponsel lipat yang lebih terjangkau, Motorola Razr 60 tetap dibekali fitur konektivitas yang relevan untuk kebutuhan saat ini. Dukungan Wi-Fi 6 membuat koneksi terasa lebih cepat dan stabil saat terhubung ke jaringan modern, baik untuk streaming video resolusi tinggi, video call, maupun unduhan berukuran besar.
Sementara itu, Bluetooth 5.4 memastikan koneksi ke perangkat nirkabel seperti earbuds atau smartwatch berjalan lebih stabil dan hemat daya.
Untuk urusan keamanan, Motorola Razr 60 mengandalkan sensor sidik jari yang menyatu dengan tombol power di sisi bodi. Berdasarkan pengalaman penggunaan Tech Advisor, posisi sensor ini dinilai sangat praktis karena mudah dijangkau baik saat ponsel terlipat maupun terbuka. Responsnya juga cepat dan akurat, sehingga proses membuka kunci terasa instan tanpa perlu mengulang pemindaian.
Kekurangan Motorola Razr 60
Sebagai ponsel lipat, tentu saja ada beberapa kekurangan yang perlu catatan atau perhatian calon pembeli. Apa saja kekurangan tersebut? Simak langsung detailnya berikut ini.
1. Performa Kurang Oke untuk Kelas Harganya, Storage Masih UFS 2.2

Kelemahan paling terasa dari Motorola Razr 60 ada di sektor performa. Untuk ponsel dengan harga di kisaran Rp11–13 jutaan, spesifikasi dapur pacunya terasa kurang sepadan dengan ekspektasi kelas flagship.
Motorola Razr 60 mengandalkan MediaTek Dimensity 7400X, chipset yang oke untuk kelas menengah tetapi untuk ponsel mendekati flagship, terasa kurang.
Berdasarkan pengujian benchmark AnTuTu 10 yang juga dicatat oleh GSMArena, ponsel ini mencatat skor rata-rata sekitar 708.424 poin, dengan rincian CPU 224.809, GPU 179.080, Memory 132.205, dan UX 172.330. Angka tersebut memang masih cukup untuk penggunaan harian, tetapi terlihat tertinggal jika dibandingkan ponsel lain di rentang harga yang sama.
Kompromi performa ini semakin terasa karena Motorola masih menggunakan penyimpanan UFS 2.2 dan RAM LPDDR4X. Di kelas harga belasan juta, kombinasi ini tergolong kurang ideal. Kecepatan baca tulis data dan bandwidth memori yang terbatas berdampak pada waktu loading aplikasi yang lebih lama, multitasking yang kurang stabil, serta aplikasi yang lebih sering reload di latar belakang.
Dalam penggunaan nyata, performa sistem juga belum sepenuhnya mulus. Sesekali masih terasa jeda saat membuka kunci layar, berpindah aplikasi, atau menjalankan animasi antarmuka. Untuk aktivitas berat seperti gaming, Motorola Razr 60 juga bukan pilihan yang tepat. Game populer dengan grafis tinggi perlu dijalankan di pengaturan rendah hingga menengah agar tetap playable.
Singkatnya, performa Motorola Razr 60 masih memadai untuk kebutuhan harian seperti media sosial, chatting, dan streaming. Namun, untuk harga yang ditawarkan, sektor performa menjadi kompromi terbesar dan terasa kalah dibanding ponsel non-lipat yang harganya jauh lebih murah.
2. Kualitas Kamera Standar Saja

Sektor kamera menjadi salah satu area di mana Motorola Razr 60 terlihat paling banyak berkompromi. Spesifikasi kameranya bahkan masih identik dengan Razr 50, sehingga tidak ada peningkatan berarti baik dari sisi hardware maupun pemrosesan gambar untuk sebuah ponsel generasi baru.
Kamera utama 50 MP Motorola Razr 60 menggunakan sensor berukuran 1/1,95 inci, yang tergolong kecil untuk standar ponsel premium saat ini.
Menurut GSMArena, ukuran sensor seperti ini membatasi kemampuan kamera dalam menangkap cahaya atau light gathering, sehingga hasil foto akan cepat menurun saat kondisi pencahayaan tidak ideal. Di siang hari, kualitas foto masih terlihat cukup, tetapi detail dan rentang dinamisnya tidak menonjol jika dibandingkan ponsel non-lipat di harga yang sama.
Keterbatasan tersebut semakin terasa saat memotret di malam hari. Menurut Tech Advisor, hasil foto night mode Motorola Razr 60 cenderung terlihat buram, detail di area gelap mudah hilang, dan noise masih cukup jelas. Mode malam memang membantu, tetapi belum mampu mengimbangi kekurangan hardware kamera, terutama jika dibandingkan dengan algoritma pemrosesan gambar milik rivalnya.
Kamera ultrawide 13 MP juga berada di level standar. Menurut Alex Reviews Tech, kamera ini masih bisa digunakan untuk dokumentasi, tetapi kualitasnya turun cukup jauh dibanding kamera utama, baik dari sisi detail maupun konsistensi warna, terutama dalam kondisi cahaya rendah.
Menariknya, kamera depan internal 32 MP justru tidak menjadi nilai jual. Sensor yang kecil membuat hasil fotonya terlihat biasa saja dan kurang impresif. Namun, Motorola Razr 60 memiliki satu keunggulan unik berkat desain ponsel lipatnya.
Pengguna dapat mengambil selfie menggunakan kamera utama dengan memanfaatkan layar luar sebagai viewfinder. Cara ini menghasilkan foto yang jauh lebih baik karena menggunakan sensor kamera utama yang lebih besar dan sudah dilengkapi OIS. Inilah yang kerap disebut sebagai saving grace dari sektor kamera Motorola Razr 60.
Secara keseluruhan, kemampuan kamera Motorola Razr 60 masih cukup untuk kebutuhan kasual. Namun, dengan minimnya peningkatan dari generasi sebelumnya, kualitas kameranya terasa tertinggal dan bukan menjadi daya tarik utama di kelas harganya.
3. Daya tahan Baterai Biasa Saja

Motorola Motorola Razr 60 membawa baterai berkapasitas 4500 mAh, kapasitas baterai yang tergolong kecil untuk saat ini. Terlebih dalam penggunaan nyata, daya tahan baterainya tergolong standar.
Menurut Tech Advisor, penggunaan harian dengan intensitas sedang hingga cukup berat menghasilkan screen-on time sekitar 6 jam, angka yang masih tergolong cukup tetapi tidak istimewa untuk ponsel di kelas harga belasan juta. Pengguna dengan aktivitas padat atau sering menjalankan aplikasi berat kemungkinan tetap perlu mengisi daya di siang hari.
Beberapa pengujian juga menunjukkan efisiensi daya Motorola Razr 60 belum optimal. Alex Reviews Tech mencatat bahwa daya tahan baterainya bahkan tidak selalu lebih baik dibanding Razr 50 yang kapasitas baterainya lebih kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa optimalisasi daya chipset dan sistem belum maksimal.
Masalah lain datang dari sisi pengisian daya. Kecepatan charging 30W terasa tertinggal di tahun 2025, terutama ketika banyak ponsel lain sudah menawarkan pengisian jauh lebih cepat. Untuk mengisi penuh baterai 4500 mAh, pengguna perlu menunggu lebih dari satu jam, yang terasa kurang praktis saat dibutuhkan cepat.
Ponsel ini memiliki fitur wireless charging 15W, tetapi kecepatannya standar dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk terisi penuh. Ditambah lagi, charger tidak disertakan dalam paket penjualan di banyak pasar, sehingga pengguna harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli adaptor secara terpisah.
Bisa dibilang, sektor baterai dan pengisian daya Motorola Razr 60 terasa biasa saja. Kombinasi daya tahan yang standar, kecepatan charging yang lambat, dan absennya charger dalam kotak membuat aspek ini menjadi salah satu kompromi terbesar yang harus diterima pengguna.
4. Update OS Hanya 3 Kali

Motorola Razr 60 tetap patut diapresiasi karena masih mendapatkan pembaruan sistem operasi dan keamanan, sesuatu yang jelas lebih baik dibanding ponsel yang sama sekali tidak memiliki komitmen update. Motorola menjanjikan 3 kali pembaruan OS Android dan 4 tahun patch keamanan, yang cukup untuk penggunaan normal dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, jika dibandingkan dengan ponsel lipat pesaing di kelas harga serupa, durasi ini tergolong lebih pendek. Beberapa kompetitor sudah menawarkan dukungan software yang lebih panjang. Contohnya Samsung Galaxy Z Flip7 hingga 7 tahun, sehingga memberikan rasa aman dan umur pakai yang lebih panjang.
Artinya, Motorola Razr 60 masih aman dipakai dalam jangka menengah, tetapi kurang ideal bagi pengguna yang ingin memakai satu ponsel lipat untuk waktu sangat lama tanpa khawatir soal pembaruan sistem dan keamanan.
Simpulan
Motorola Razr 60 menawarkan pengalaman ponsel lipat yang menarik lewat desain clamshell premium, bodi kokoh dengan IP48, serta layar luar yang benar-benar fungsional. Dengan harga yang lebih terjangkau dibanding ponsel lipat flagship lain, ponsel ini cocok sebagai opsi awal untuk mencoba teknologi foldable.
Namun, sejumlah kompromi tetap ada, terutama di sektor performa, kamera, daya tahan baterai, dan dukungan software yang relatif singkat. Razr 60 lebih tepat untuk pengguna yang mengutamakan desain dan kepraktisan, bukan performa tinggi atau pemakaian jangka panjang.

