carisinyal-web-banner-retina 35

Inilah 11 Kelebihan dan Kekurangan OPPO A6s

Ditulis oleh Hilman Mulya Nugraha

OPPO A6s hadir pada awal Maret 2026 di Indonesia. Kehadiran ponsel ini cukup menyita perhatian, bukan karena spesifikasinya yang mencolok, melainkan karena harga yang ditawarkan tergolong tinggi.

Karena itu, saya juga sempat agak malas membahas ponsel ini. Namun di sisi lain, saya juga memahami bahwa kenaikan harga tersebut tidak lepas dari dampak krisis RAM global yang sempat memengaruhi harga komponen.

Meski begitu, tetap terasa agak janggal. Soalnya, OPPO A6s dijual di kisaran Rp4 jutaan sampai Rp5 jutaan, tetapi menggunakan chipset 4G Snapdragon 685. Chipset ini biasanya ditemukan pada ponsel Rp1 jutaan hingga Rp2 jutaan. Memang ada beberapa kelebihan yang ditawarkan, tetapi cukup banyak juga aspek yang harus dikompromikan.

Nah, untuk mengetahui apa saja plus dan minusnya, mari simak pembahasannya berikut ini.

Spesifikasi OPPO A6s

oppo a6s
Layar IPS LCD 6.75 inci
Chipset Qualcomm Snapdragon 685
RAM 8 GB
Memori Internal 128 GB, 256 GB
Baterai Li-Ion 7000 mAh
Cek Harga Saat Ini Shopee Tiktok

Kelebihan OPPO A6s

1. Baterai 7.000 mAh yang Benar-benar Tahan Lama

oppo a6s

Inilah salah satu senjata utama OPPO A6s dan juga poin yang menurut saya patut diapresiasi. Meski saat ini sudah ada beberapa ponsel dengan baterai 7.000 mAh, jumlahnya masih belum terlalu banyak. Karena itu, kehadiran OPPO A6s ikut meramaikan pilihan ponsel dengan kapasitas baterai besar di pasaran.

Kapasitas 7.000 mAh yang dibawanya pun bukan sekadar angka di atas kertas. Berdasarkan data dari OPPO, ponsel ini mampu bertahan hingga 11 jam untuk bermain game MOBA, sekitar 14 jam untuk menonton video secara online, dan sampai 50 jam untuk panggilan telepon.

Bahkan dalam kondisi siaga, daya tahannya diklaim bisa mencapai 985 jam atau sekitar 41 hari. Dengan kapasitas sebesar ini, penggunaan harian terasa jauh lebih aman karena kamu tidak perlu terlalu sering mencari colokan listrik. Bagi pengguna yang sering bepergian atau beraktivitas di luar ruangan, daya tahan seperti ini jelas menjadi nilai jual yang sangat kuat.

2. Pengisian Cepat 80W SUPERVOOC yang Mengagumkan

oppo a6s

Baterai besar biasanya identik dengan waktu pengisian yang lama. Namun OPPO A6s mencoba mematahkan anggapan tersebut lewat dukungan pengisian cepat SUPERVOOC 80W.

Menurut klaim OPPO, baterai ponsel ini bisa terisi penuh dari kondisi kosong dalam waktu sekitar 61 menit. Bahkan dalam 30 menit pertama, daya yang masuk sudah mencapai sekitar 56 persen.

Untuk ukuran baterai 7.000 mAh, kecepatan seperti ini tentu terasa sangat membantu. Kamu tidak perlu menunggu terlalu lama saat mengisi daya. Bahkan jika lupa mengisi baterai semalaman, cukup colok sekitar setengah jam sambil bersiap di pagi hari, ponsel sudah punya daya yang cukup untuk menemani aktivitas sepanjang hari.

3. Ketahanan Air dan Debu dengan Sertifikasi IP69

oppo a6s

OPPO A6s juga membawa fitur ketahanan yang cukup menarik. Ponsel ini mengantongi tiga sertifikasi sekaligus, yaitu IP66, IP68, dan IP69. Artinya, perangkat ini tahan terhadap cipratan air, bisa direndam hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit, serta tetap aman dari semburan air bertekanan tinggi dengan suhu hingga 80 derajat Celsius.

Kemampuan ini tentu berguna bukan hanya saat kehujanan atau tidak sengaja tercebur ke air. OPPO bahkan menyertakan mode kamera bawah air khusus. Saat digunakan di dalam air, tombol volume bisa berfungsi sebagai tombol rana sehingga memudahkan pengguna mengambil foto.

Menariknya, kampanye soal ketahanan ini juga cukup sering muncul dalam pemasaran OPPO A6s di media sosial. Saya sendiri beberapa kali melihatnya.

Meski sebenarnya fitur seperti ini bukan lagi hal yang sepenuhnya baru karena beberapa ponsel di harga lebih murah pun sudah memiliki sertifikasi serupa, tetap saja kehadirannya patut diapresiasi. Di kelas harga Rp5 jutaan, kombinasi sertifikasi lengkap seperti ini masih tergolong menarik.

4. Sistem Pendingin VC SuperCool yang Mencegah Panas Berlebih

oppo a6s

OPPO A6s dilengkapi sistem pendinginan berbasis vapor chamber atau ruang uap seluas 3.900 mm persegi yang disebut VC SuperCool. Sistem ini bekerja dengan mendistribusikan panas secara merata ke seluruh bodi ponsel, sehingga tidak ada titik panas yang terkonsentrasi di satu area.

Hasilnya, ponsel tetap nyaman digenggam bahkan saat bermain game berat dalam waktu lama. Kombinasi sistem pendinginan ini dengan fitur AI GameBoost 2.0 yang mengoptimalkan alokasi daya pemrosesan membuat pengalaman bermain game terasa lebih stabil dan konsisten.

5. ColorOS 15 Berbasis Android 15 yang Kaya Fitur

oppo a6s

OPPO A6s sudah menjalankan ColorOS 15 berbasis Android 15. Sistem ini membawa dua teknologi utama yang diklaim meningkatkan kelancaran, yaitu Trinity Engine dan Luminous Rendering Engine.

Trinity Engine bekerja mengatur alokasi sumber daya CPU dan GPU agar setiap aplikasi mendapat tenaga yang pas. Tujuannya supaya kinerja tetap lancar tanpa membuat konsumsi daya berlebihan. Sementara itu, Luminous Rendering Engine berfokus pada sisi visual dengan cara merender animasi secara paralel sehingga perpindahan antarmuka terasa lebih halus.

OPPO mengklaim ColorOS 15 mampu meningkatkan kelancaran sistem hingga sekitar 22 persen dan mempercepat instalasi aplikasi hingga 26 persen dibanding ColorOS 14. Selain itu, lebih dari 800 elemen antarmuka juga diperbarui untuk menghadirkan tampilan yang lebih minimalis dengan efek cahaya dinamis.

Namun perlu dicatat, pengujian peningkatan performa tersebut dilakukan pada seri flagship seperti Find X8. Pada OPPO A6s yang memakai Snapdragon 685, efek optimasinya tetap ada tetapi tentu tidak akan terasa sekuat di perangkat kelas atas.

Di luar itu, ColorOS 15 tetap membawa banyak fitur menarik. Ada AI Eraser 2.0, AI Reflection Remover, AI Unblur, AI Perfect Shot, hingga AI Recompose untuk pengolahan foto. Fitur produktivitas seperti AI Docs untuk merangkum dokumen, AI Recording Summary untuk meringkas rekaman suara, serta Circle to Search dari Google juga tersedia.

Tambahan lainnya adalah Touch to Share yang memungkinkan transfer file ke iPhone melalui aplikasi O+ Connect. Fitur RAM Expansion juga hadir untuk membantu multitasking dengan memanfaatkan sebagian penyimpanan sebagai RAM virtual.

Dengan berbagai fitur tersebut, ColorOS 15 di OPPO A6s tetap terasa modern dan fungsional. Hanya saja, pengalaman yang diberikan tentu memiliki batasannya sendiri sesuai dengan spesifikasi perangkat.

6. Kamera Fungsional dengan Dukungan Pemotretan Bawah Air

oppo a6s

Untuk sektor kamera, OPPO A6s mengandalkan kamera utama 50 MP dengan bukaan f/1.8. Kamera ini mampu menghasilkan foto yang cukup detail selama kondisi pencahayaan memadai. Di situasi cahaya rendah, mode malam berbasis AI juga membantu meningkatkan kualitas foto agar tetap terlihat jelas.

Kamera depannya sendiri memiliki resolusi 16 MP yang sudah cukup memadai untuk kebutuhan selfie atau panggilan video sehari-hari.

Yang menarik, kedua kamera ini juga mendukung pemotretan di bawah air. Kamera belakang bahkan dapat merekam video hingga resolusi 1080p saat digunakan dalam kondisi terendam. Fitur ini membuat OPPO A6s terasa cukup unik, terutama bagi pengguna yang gemar berenang atau melakukan aktivitas air.

Kekurangan OPPO A6s

1. Chipset 4G yang Terasa Nanggung di Kelas Harganya

oppo a6s

Ini adalah kritik paling mendasar yang menurut saya sulit diabaikan. Saya sendiri termasuk yang cukup mempertanyakan keputusan ini. Snapdragon 685 biasanya ditemukan pada ponsel Rp2 jutaan hingga Rp3 jutaan.

Bahkan di kelas tersebut pun, seperti pada realme C85 Pro, masih ada yang merasa chipset ini kurang menarik. Karena itu, ketika dipasang pada ponsel dengan harga Rp4.899.000 sampai Rp5.399.000, rasanya cukup janggal.

Saya paham banyak brand harus menyesuaikan harga karena dampak krisis RAM global. Namun tetap saja, harga yang ditawarkan terasa kurang seimbang dengan spesifikasi yang diberikan. Di kelas harga ini, bahkan beberapa seri Reno sudah menawarkan konektivitas 5G dengan performa yang jauh lebih kompetitif.

Snapdragon 685 sendiri sebenarnya bukan chipset yang buruk, tetapi jelas bukan yang paling ideal untuk ponsel Rp5 jutaan. Chip ini lebih cocok berada di kelas harga Rp2 jutaan. Mungkin Rp3 jutaan untuk kondisi pasar yang tidak normal akibat krisis RAM di 2026.

Di harga ini, seharusnya OPPO bisa menyematkan sesuatu yang lebih layak, misalnya Snapdragon 6 Gen 1 yang setidaknya sudah mendukung 5G dan menawarkan peningkatan performa yang cukup signifikan.

Memang ada juga ponsel yang lebih mahal di Indonesia yang tidak mendukung 5G, seperti beberapa seri Huawei Nova dan ponsel menengah Huawei lainnya.

Namun ketiadaan 5G pada perangkat Huawei terjadi karena imbas sanksi yang membuat mereka tidak bisa menghadirkan dukungan jaringan tersebut. Situasinya tentu berbeda dengan OPPO yang sebenarnya tidak memiliki kendala serupa.

Menariknya, OPPO A6s sebenarnya memiliki varian 5G yang menggunakan Dimensity 6300 dengan spesifikasi lain yang mirip dengan versi 4G ini.

Bagi pengguna yang berencana memakai ponsel ini selama 3 sampai 4 tahun ke depan, ketiadaan 5G bisa menjadi pertimbangan penting, apalagi jaringan 5G di Indonesia terus berkembang.

Menariknya, karena hal ini, realme C85 Pro justru terasa lebih menarik di beberapa aspek. Layarnya sudah AMOLED, meski memang masih memakai storage eMMC. Untungnya, OPPO A6s masih lebih baik di sektor penyimpanan karena sudah menggunakan UFS 2.2.

2. Layar HD+ di Harga Rp5 Jutaan Terasa Janggal

oppo a6s

OPPO A6s sebenarnya membawa beberapa nilai jual menarik di sektor layar. Panel 6,7 incinya sudah mendukung refresh rate 120 Hz sehingga animasi terasa lebih mulus saat scrolling maupun bermain gim.

Tingkat kecerahan puncaknya juga cukup tinggi, mencapai 1.125 nit, sehingga layar masih nyaman dilihat di bawah sinar matahari. OPPO bahkan menambahkan fitur seperti Outdoor Mode 2.0 dan GloveTouch agar layar tetap responsif di berbagai kondisi.

Namun semua kelebihan tersebut datang dengan kompromi yang cukup besar. Resolusi layarnya hanya 1570 x 720 piksel atau HD+. Dengan kerapatan sekitar 256 ppi, ketajamannya terasa kurang untuk ponsel di harga hampir Rp5 jutaan. Padahal banyak ponsel di kisaran Rp2 jutaan sampai Rp3 jutaan yang sudah memakai layar Full HD+.

Dampaknya cukup terasa dalam penggunaan sehari-hari. Teks terlihat kurang tajam, detail foto dan video tidak terlalu jelas, dan pengalaman menonton konten berkualitas tinggi pun jadi kurang maksimal.

Kalau saja OPPO menukar sebagian spesifikasi tersebut dengan layar Full HD+, hasilnya mungkin terasa lebih seimbang. Bahkan kecerahan sekitar 800 nit dengan resolusi yang lebih tajam kemungkinan justru akan lebih nyaman untuk penggunaan harian dibanding kecerahan sangat tinggi di layar dengan resolusi HD+.

3. Giroskop Hanya Berbasis Perangkat Lunak

OPPO A6s juga tidak dibekali giroskop fisik. Sensor yang tersedia hanyalah software gyro atau giroskop berbasis perangkat lunak, bukan sensor hardware yang sebenarnya. Bagi sebagian pengguna mungkin tidak terlalu terasa, tetapi bagi gamer hal ini bisa menjadi kekurangan yang cukup penting.

Banyak game populer seperti PUBG Mobile, Call of Duty Mobile, dan berbagai game first-person shooter lainnya memanfaatkan giroskop fisik untuk fitur gyroscope aiming. Fitur ini memungkinkan pemain mengarahkan bidikan hanya dengan memiringkan ponsel. Tanpa giroskop fisik, fitur tersebut biasanya tidak bisa bekerja dengan presisi yang baik.

Hal ini terasa sedikit ironis karena OPPO juga memasarkan A6s sebagai ponsel yang siap untuk bermain gim berkat baterai besar dan sistem pendingin VC SuperCool. Namun tanpa giroskop fisik, pengalaman bermain beberapa game populer tentu tidak akan terasa maksimal bagi gamer yang terbiasa menggunakan kontrol tersebut.

4. Tidak Ada Kamera Ultrawide

oppo a6s

Konfigurasi kamera belakang OPPO A6s terbilang cukup sederhana. Ponsel ini hanya dibekali dua kamera, yaitu kamera utama 50 MP dan kamera monokrom 2 MP. Tidak ada kamera ultrawide maupun telefoto yang biasanya mulai sering ditemukan di kelas harga ini.

Kamera monokrom 2 MP sendiri kontribusinya juga cukup terbatas. Resolusinya terlalu kecil untuk menghasilkan foto hitam-putih yang benar-benar menonjol dari sisi kualitas.

Akibatnya, saat ingin memotret pemandangan yang luas atau mengambil objek dari jarak lebih jauh, pengguna harus mengandalkan digital crop. Cara ini tentu menurunkan kualitas gambar. Di harga sekitar Rp5 jutaan, ketiadaan kamera ultrawide terasa sebagai kekurangan yang cukup signifikan.

Simpulan

OPPO A6s unggul pada kapasitas baterai 7.000 mAh, pengisian cepat 80W, ketahanan fisik tingkat tinggi (IP66, IP68, IP69), serta fitur bawaan ColorOS 15. Namun, dengan banderol harga Rp4 jutaan sampai Rp5 jutaan, komprominya terbilang sangat besar: chipset Snapdragon 685 yang kurang sepadan, layar yang masih HD+, absennya kamera ultrawide, dan tanpa giroskop fisik.

Ponsel ini mungkin hanya cocok bagi pengguna yang secara spesifik memprioritaskan daya tahan baterai ekstrem dan bodi tangguh untuk bekerja di luar ruangan. Untuk penggunaan umum, opsi lain di kelas harga yang sama, termasuk seri OPPO Reno keluaran 2025, jauh lebih layak dan rasional untuk dipertimbangkan.

Kategori:
cross