carisinyal-web-banner-retina 35

11 Kelebihan dan Kekurangan TECNO Camon 50

Ditulis oleh Hilman Mulya Nugraha

TECNO Indonesia menghadirkan TECNO Camon 50 pada akhir Februari 2026. Ponsel ini merupakan penerus dari TECNO CAMON 40 yang dirilis pada 2025 dan sempat jadi perangkat yang cukup menarik perhatian, khususnya di kelas menengah.

Kini, lewat TECNO Camon 50, ekspektasi tentu ikut naik. Apalagi lini CAMON memang sudah lama dikenal sebagai seri yang mengedepankan kamera sebagai nilai jual utama. Saya juga berekspektasi ponsel ini punya kemampuan yang lebih baik.

Dengan harga mulai Rp3.699.000 hingga Rp5.099.000, pertanyaannya sederhana: apakah peningkatan yang dibawa kali ini sepadan? Berikut kelebihan dan kekurangan TECNO Camon 50 yang perlu kamu ketahui.

Spesifikasi TECNO Camon 50

Layar AMOLED 6.78 inci
Chipset MediaTek Helio G200 Ultimate
RAM 8 GB, 12 GB
Memori Internal 128 GB, 256 GB
Baterai Li-Ion 6500 mAh
Cek Harga Saat Ini Shopee Tiktok
*Tabel ini bisa digeser ke samping
Kelebihan
Kekurangan
Layar AMOLED 6,78 inci 1.5K dengan refresh rate 144 Hz dan kecerahan tinggi
Masih Pakai cip 4G yang kurang kompetitif di kelas harganya
Kamera 50 MP Sony LYT-700C dengan OIS, hasil fotografi malam hari tergolong bagus
Stabilitas aplikasi kamera belum sepenuhnya konsisten
Fitur AI lengkap dengan tombol One-Tap TECNO AI yang fungsional
HiOS masih terasa berat dan dipenuhi bloatware
Durabilitas unggul dengan IP68, IP69, IP69K, dan MIL-STD-810H
Tanpa slot microSD, sistem sudah memakan banyak memori
Baterai 6.500 mAh awet dengan 45W Super Charge dan Bypass Charging
Speaker stereo dengan Dolby Atmos yang imersif
Dukungan 3 kali update Android dan 5 tahun keamanan

Kelebihan TECNO Camon 50

1. Layar AMOLED 6,78 Inci dengan Refresh Rate 144 Hz

Urusan layar, TECNO terlihat cukup serius menggarap Camon 50. Ponsel ini dibekali panel AMOLED 6,78 inci beresolusi 1.5K, lengkap dengan refresh rate hingga 144 Hz. Hasilnya, tampilan terasa sangat halus dan responsif, entah itu saat scroll media sosial, nonton video, atau main game.

Kalau dibandingkan dengan panel IPS LCD yang masih banyak dipakai di kelas harga serupa, AMOLED jelas unggul. Warnanya lebih hidup, warna hitam terlihat lebih pekat, dan konsumsi dayanya juga cenderung lebih irit, terutama saat menampilkan konten gelap.

Soal kecerahan, layarnya bisa mencapai puncak 4.500 nits. Angka ini tergolong ekstrem, bahkan kalau disandingkan dengan beberapa ponsel flagship. Praktis, layar tetap nyaman dilihat di bawah sinar matahari terik tanpa perlu menyipitkan mata. TECNO juga menyematkan teknologi ProXDR Eye-care Display yang sudah dilengkapi sertifikasi kenyamanan mata untuk penggunaan jangka panjang.

Namun ada catatan kecil soal resolusi. Meski panel fisiknya berada di level 1.5K (1208 x 2644 piksel), secara teknis GPU hanya render gambar di resolusi 1080p, lalu hasilnya di-upscale lewat chip TECNO T1. 

Dalam pemakaian harian, kualitas tampilannya tetap terlihat tajam dan mulus. Tapi kalau kamu ambil screenshot atau dicek lewat aplikasi pihak ketiga, resolusinya akan terbaca sebagai Full HD+.

2. Kamera Utama 50 MP Sony LYT-700C

Sebagai bagian dari seri Camon, sektor kamera jelas kembali jadi fokus utama. Camon 50 dibekali kamera utama 50 MP dengan sensor Sony LYT-700C berukuran 1/1.56 inci, aperture f/1.8, serta sudah dilengkapi OIS (Optical Image Stabilization). Ukuran sensor yang cukup besar ini membantu kamera menangkap cahaya lebih banyak, terutama saat memotret di kondisi gelap.

Untuk pemotretan malam, tersedia mode SuperNight yang memanfaatkan teknik multi-frame processing. Lewat proses ini, foto bisa tampil lebih terang, detail tetap terjaga, dan noise ditekan seminimal mungkin. 

Kehadiran OIS juga punya peran penting karena membuat hasil foto malam tidak mudah blur meski tangan sedikit bergetar. Di kelas harga Rp3-5 jutaan, kombinasi sensor Sony dan OIS jelas jadi modal yang sangat kuat.

Tidak berhenti di situ, TECNO turut menyematkan berbagai fitur kamera berbasis AI yang terasa fungsional. 

Ada FlashSnap untuk menangkap objek bergerak cepat, AI Auto Zoom yang otomatis menghasilkan beberapa komposisi dari satu jepretan, sampai Aqua Mode yang memungkinkan pemotretan di dalam air hingga kedalaman 2 meter selama 30 menit. 

Sementara kamera depannya mengusung resolusi 32 MP, sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan selfie maupun video call.

Jujur saja, sudah kelihatan kalau TECNO memang ingin mempertahankan seri Camon sebagai andalan di sektor kamera. Saya sendiri tidak terlalu ragu dengan kemampuan kamera Camon 50 ini. Dari spesifikasinya saja sudah terasa menjanjikan. 

Ditambah lagi, TECNO punya pengalaman yang cukup matang di generasi sebelumnya, yang kameranya banyak mendapat pengakuan. Jadi wajar kalau ekspektasi terhadap Camon 50 ikut naik, bukan cuma bagus di atas kertas, tapi juga diharapkan konsisten di pemakaian sehari-hari.

3. Fitur AI Lengkap dengan Tombol One-Tap TECNO AI

Bukan cuma kamera yang kebagian sentuhan AI, Camon 50 juga membawa ekosistem kecerdasan buatan yang cukup luas lewat fitur One-Tap TECNO AI. Ada tombol khusus di bodi ponsel yang berfungsi sebagai pintu cepat untuk mengakses berbagai fitur pintar hanya dengan satu sentuhan.

Lewat tombol ini, kamu bisa langsung membuka FlashMemo untuk catatan cepat, merangkum artikel panjang jadi poin-poin singkat, memanfaatkan asisten kesehatan berbasis AI, sampai mengaktifkan pengurang noise saat telepon agar suara tetap jernih di lingkungan ramai.

Beberapa fitur tambahan juga terasa relevan untuk penggunaan harian. Ada Circle to Search dari Google Gemini yang memungkinkan kamu menandai objek di layar lalu langsung mencarinya, 3D PhotoSpace untuk mengubah foto biasa jadi tampilan tiga dimensi, hingga AI Image-to-Video Generator yang bisa menyulap foto statis menjadi video pendek secara otomatis. 

Buat kreator konten atau pengguna yang sering berkutat dengan berbagai format media, fitur-fitur ini bisa jadi productivity booster yang cukup terasa.

TECNO juga menghadirkan asisten AI bernama Ella yang sudah mendukung konteks lokal Indonesia, jadi interaksinya terasa lebih relevan. Menariknya lagi, tersedia fitur iPhone One-Tap Drop yang memungkinkan transfer data berbasis NFC antara Camon 50 dan perangkat Apple. 

Dengan kombinasi ini, ekosistem AI di Camon 50 terasa cukup matang untuk kelasnya, bukan sekadar gimmick, tapi memang punya fungsi nyata dalam penggunaan sehari-hari.

3. Punya IP68, IP69, IP69K, dan Sertifikasi Tahan Banting MIL-STD-810H

Dalam satu atau dua tahun terakhir, saya cukup sering melihat ponsel kelas menengah mulai dibekali sertifikasi tahan air yang makin lengkap, bahkan ditambah kemampuan tahan banting. 

Konsep seperti ini sebenarnya sudah lebih dulu bisa ditemukan di beberapa brand besar seperti realme, vivo, dan OPPO. Sekarang, lewat naungan Transsion Holdings, saya mulai melihat pendekatan serupa hadir di seri Camon dari TECNO.

Saya pribadi meyakini tren ini bukan muncul tanpa alasan. Para brand tampaknya mulai serius menerapkan fitur tahan air dan tahan banting karena memang ada permintaan yang tinggi dari pengguna. 

Bisa jadi ini juga dipengaruhi kondisi cuaca di Indonesia yang belakangan makin sering hujan ekstrem, sehingga konsumen butuh ponsel yang lebih siap menghadapi situasi tak terduga.

Di titik inilah Camon 50 terasa unggul. Tiga sertifikasi sekaligus: IP68, IP69, dan IP69K. IP68 menandakan perangkat mampu bertahan saat direndam di air hingga kedalaman 2 meter selama 30 menit. Sementara IP69 dan IP69K membawa level perlindungan lebih tinggi karena ponsel tetap aman meski disemprot air bertekanan tinggi bersuhu panas dari berbagai arah, bahkan uap hingga 80 derajat Celsius.

Belum cukup sampai di situ, Camon 50 juga sudah mengantongi sertifikasi MIL-STD-810H, yang merupakan standar ketahanan fisik militer Amerika Serikat. Klaimnya, perangkat ini telah melewati lebih dari 22.000 uji micro drop, plus ribuan pengujian tekanan dan anti-puntir. 

Artinya, ini bukan ponsel yang cuma kuat saat dipakai di meja kerja, tapi memang dirancang supaya tetap tangguh menghadapi kondisi dunia nyata yang kadang tidak bersahabat.

Yang bikin makin menarik, kombinasi tiga sertifikasi IP plus standar militer seperti ini bahkan masih jarang ditemui di ponsel flagship belasan juta. Jadi ketika TECNO menghadirkannya di ponsel dengan harga mulai Rp3,7 jutaan, rasanya ini layak dapat apresiasi tersendiri.

4. Baterai 6.500 mAh dengan Fast Charging 45W dan Bypass Charging

TECNO Camon 50 dibekali baterai 6.500 mAh, jauh di atas rata-rata ponsel kelas menengah yang masih berada di kisaran 5.000 mAh. Dengan kapasitas sebesar ini, ponsel bisa menemani aktivitas seharian penuh tanpa drama low battery, bahkan berpotensi mendekati dua hari untuk pemakaian normal.

Pengisian dayanya mengandalkan 45W Super Charge dari TECNO. Memang, waktu isi penuh ada di sekitar 90 menit, yang bagi sebagian orang terasa biasa saja. 

Tapi mengingat baterainya besar, durasi tersebut masih tergolong wajar. Sebagai pembanding, generasi sebelumnya yaitu TECNO Camon 40 bisa terisi bisa penuh dalam sekitar 43 menit dengan charger 45W, namun kapasitas baterainya hanya 5.200 mAh. 

Jadi wajar kalau sekarang sedikit lebih lama. Idealnya memang akan lebih menarik kalau ke depan TECNO menaikkan lagi kecepatan charging-nya, tapi untuk saat ini 45W masih terbilang oke.

Nilai tambah lain datang dari fitur Bypass Charging, yang menyalurkan daya langsung ke motherboard saat ponsel dipakai sambil di-charge. Efeknya, suhu lebih terjaga saat main game atau aktivitas berat, sekaligus membantu memperpanjang umur baterai.

TECNO juga mengklaim baterainya sanggup bertahan hingga 1.800 siklus pengisian dengan kapasitas tetap di atas 80 persen, diperkuat sertifikasi dari TÜV SÜD. Untuk ponsel di kelas Rp3 jutaan, jaminan seperti ini sudah cukup menenangkan.

6. Speaker Stereo dengan Dolby Atmos

Dari sisi audio, Camon 50 menawarkan konfigurasi dual stereo speaker yang dilengkapi sertifikasi Dolby Atmos.

Konfigurasi stereo berarti suara keluar dari dua titik berbeda secara bersamaan sehingga menghasilkan efek audio yang lebih lebar, lebih kaya, dan terasa lebih imersif dibanding speaker mono. Saat menonton film, bermain game, atau mendengarkan musik tanpa headphone, perbedaannya sangat terasa.

Dukungan Dolby Atmos memastikan pemrosesan audio dilakukan sesuai standar bioskop, sehingga detail suara seperti dialog, efek, dan musik latar tersampaikan dengan proporsi yang tepat. Ini adalah fitur yang tergolong istimewa di harga Rp3-5 jutaan, mengingat banyak pesaingnya masih mengandalkan speaker mono atau dual speaker tanpa sertifikasi audio premium.

7. Dukungan OS hingga 5 Tahun

TECNO Camon 50 hadir dengan Android 16 yang dipadukan dengan antarmuka HiOS 16. Secara tampilan dan fitur, HiOS kini terasa semakin matang dengan opsi kustomisasi yang cukup lengkap dan fitur pintar yang relevan untuk penggunaan harian.

Yang patut diapresiasi adalah komitmen TECNO dalam hal pembaruan perangkat lunak. TECNO Camon 50 dijanjikan mendapat 3 update Android serta dukungan keamanan hingga 5 tahun ke depan. Untuk ponsel kelas menengah, jaminan seperti ini masih tergolong jarang.

Kekurangan TECNO Camon 50

1. Chipset Helio G200 Ultimate Masih 4G, Performa Terasa Kurang

Tecno Spark 40 Pro+

Kekurangan yang paling sering disorot dari TECNO Camon 50 ada di sektor performa. Ponsel ini mengandalkan chipset MediaTek Helio G200 Ultimate (6 nm), yang sebenarnya sudah cukup kompeten untuk pemakaian harian sampai gaming kasual.

Menurut kanal YouTube Gadgetmax, TECNO Camon 50 bahkan mampu mencetak skor AnTuTu di kisaran 600 ribuan, angka yang menurut saya masih tergolong wajar untuk kelas chipset ini.

Saat diuji bermain game seperti PUBG Mobile dan Mobile Legends, performanya juga terbilang stabil dan cukup lancar. Namun tetap saja, ini bukan ponsel yang menawarkan performa paling kencang jika dibandingkan kompetitor di harga serupa.

Masalah utamanya bukan sekadar performa dasar, tapi konteks harganya. Di varian tertinggi yang mendekati Rp5 jutaan, kamu masih berhadapan dengan chipset yang sepenuhnya berbasis 4G tanpa dukungan 5G. 

Padahal, di rentang harga yang sama, beberapa pesaing dari Xiaomi, realme, atau Infinix sudah menawarkan chipset 5G dengan GPU yang lebih kencang, terutama untuk gaming berat.

Jujur saja, saya juga tidak sepenuhnya bisa menyalahkan TECNO untuk urusan ini. Saya paham, belakangan banyak brand ikut menaikkan harga akibat kenaikan biaya komponen, termasuk RAM. 

Tapi tetap saja, membeli ponsel di kisaran Rp4 jutaan yang masih mentok 4G, untuk skala TECNO, rasanya agak gimana. Kalau kamu mengincar performa mentah atau ingin perangkat yang lebih future-proof di era 5G, TECNO Camon 50 terasa kurang sepadan, terutama di varian paling mahalnya. Meski begitu, untuk varian 8/128 GB di Rp3,7 jutaan, perbandingannya masih terasa lebih masuk akal.

2. Masalah Stabilitas Aplikasi dan Bug Kamera

Selain soal chipset, TECNO Camon 50 juga masih menyisakan beberapa catatan di sisi software, khususnya pada aplikasi kamera. Kanal YouTube Gadget Max sempat menunjukkan adanya masalah ketika kamera dipakai memotret berulang kali dengan cepat. 

Dalam pengujiannya, aplikasi kamera bisa tiba-tiba freeze, macet, bahkan layar berubah gelap. Ia sampai harus melakukan force close beberapa kali karena tampilan kamera nge-blank saat digunakan.

Bug lain juga ditemukan oleh kanal Legawa Gadget, yang berkaitan dengan transisi lensa saat merekam video 2K. Jika perekaman dimulai dari kamera utama, pengguna tidak bisa langsung berpindah ke lensa ultrawide dengan cara swipe. Yang aneh, kalau perekaman justru dimulai dari ultrawide, perpindahan ke kamera utama dan kembali lagi ke ultrawide malah bisa berjalan normal.

Masalah-masalah ini memang bukan deal breaker besar, tapi cukup mengganggu, apalagi mengingat kamera adalah salah satu nilai jual utama TECNO Camon 50. Harapannya, bug seperti ini bisa segera dibereskan lewat update software ke depannya.

3. HiOS Masih Terasa Berat dan Banyak Bloatware

Meski HiOS di TECNO Camon 50 sudah jauh lebih matang lewat HiOS 16, kesan awalnya masih bisa terasa agak berat, terutama karena cukup banyak aplikasi bawaan yang langsung terpasang, termasuk dari ekosistem Transsion Holdings yang belum tentu dibutuhkan semua pengguna.

4. Slot microSD Absen, Sistem Makan Banyak Memor

TECNO Camon 50 memakai tray SIM tanpa slot microSD. Artinya, kamu harus langsung menentukan pilihan storage sejak awal karena tidak ada opsi ekspansi penyimpanan setelah ponsel dibeli. Buat yang hobi simpan banyak foto, video, atau file offline, pilihan 128 GB atau 256 GB jadi krusial.

Masalahnya, kapasitas kosong sejak awal juga tidak sepenuhnya lega. 

Kanal YouTube GontaGantiHape juga sempat menyoroti hal ini. Dalam proses setup awal (sebelum instal aplikasi tambahan), memori yang sudah terpakai tercatat sekitar 23,2 GB. Jadi tanpa slot microSD dan sistem yang cukup “gemuk”, pengguna memang perlu lebih bijak sejak awal dalam memilih varian penyimpanan.

Simpulan 

Menurut saya, TECNO Camon 50 datang dengan kompromi yang bisa dibilang bukan hal kecil, yaitu soal harga. 

Meski ditebus dengan hal-hal besar seperti durabilitas ekstrem lewat triple IP rating dan standar militer, kamera Sony dengan OIS, layar AMOLED 144 Hz super terang, sampai baterai 6.500 mAh yang awet, tetap saja fakta bahwa ponsel ini masih mentok 4G di harga mendekati Rp4 jutaan jadi kompromi terbesar. 

Di titik ini, value Camon 50 terasa paling masuk akal justru di varian 8/128 GB, sementara varian tertingginya terasa kurang seimbang jika dibandingkan kompetitor.

Kesuksesan yang sempat dirasakan di TECNO Camon 40 tampaknya memang tidak sepenuhnya bisa diulang di generasi ini. Meski begitu, saya juga tidak bisa menyalahkan TECNO sepenuhnya. Saya paham, di 2026 ini hampir semua brand menerapkan strategi kenaikan harga karena tekanan biaya komponen. 

Jadi kalau kamu mencari ponsel yang kuat di kamera, tahan banting, baterai besar, dan fitur lengkap tanpa terlalu mementingkan 5G atau performa gaming berat, TECNO Camon 50 tetap layak dipertimbangkan.

Kategori:

cross