14 Kelebihan dan Kekurangan Xiaomi 17 Ultra & Leica Leitzphone
Xiaomi 17 Ultra memulai debut globalnya di ajang Mobile World Congress 2026 di Barcelona pada 28 Februari 2026. Tidak perlu menunggu lama, tiga hari kemudian tepatnya 3 Maret 2026, ponsel ini resmi rilis di Indonesia. Jadi ini bukan flagship yang hanya jadi sorotan luar negeri, tetapi benar-benar hadir untuk pasar dalam negeri.
Menurut saya, peluncuran ini menegaskan bahwa Xiaomi semakin serius membangun identitas lini Ultra sebagai simbol kemampuan fotografi mereka. Bukan sekadar pembaruan tahunan, tetapi upaya memperkuat posisi di kelas kamera flagship. Apalagi sekarang persaingan memang makin condong ke fotografi, seperti yang juga dilakukan vivo X300 Ultra, OPPO Find X9 Ultra, dan Huawei Pura 80 Ultra.
Yang membuat saya melihat Xiaomi 17 Ultra ini menarik adalah karena ponsel ini punya dua varian. Pertama adalah Xiaomi 17 Ultra, yang kedua ada Leica Leitzphone Powered by Xiaomi yang lebih eksklusif dengan sentuhan Leica lebih kuat.
Lantas, apa saja kelebihan dari ponsel yang diklaim tawarkan kemampuan layaknya kamera profesional tersebut? Untuk mengetahuinya, mari simak berbagai kelebihan dan kekurangan Xiaomi 17 Ultra. Saya juga membahas soal varian Leica Leitzphone di artikel kali ini.
Spesifikasi Xiaomi 17 Ultra & Leica Leitzphone

| Layar | LTPO AMOLED 6.9 inci |
| Chipset | Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 |
| RAM | 16 GB |
| Memori Internal | 512 GB, 1 TB |
| Baterai | Li-Ion 6000 mAh |
| Cek Harga Saat Ini | Shopee Tiktok |
Spesifikasi Leica Leitzphone powered by Xiaomi

| Layar | LTPO AMOLED 6.9 inci |
| Chipset | Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5 |
| RAM | 16 GB |
| Memori Internal | 1 TB |
| Baterai | Li-Ion 6000 mAh |
| Cek Harga Saat Ini | Shopee Tiktok |
Kelebihan Xiaomi 17 Ultra & Leica Leitzphone Powered by Xiaomi
1. Kamera Utama 1 Inci dengan Teknologi LOFIC yang Terdepan

Xiaomi tetap mempertahankan sensor berukuran 1 inci, sama seperti yang sudah mereka terapkan di Xiaomi 15 Ultra sebelumnya. Ini menarik, karena di saat beberapa brand mulai mengecilkan sensor demi desain lebih tipis, Xiaomi justru konsisten mempertahankan sensor besar sebagai identitas lini Ultra.
Ukuran 1 inci memberi ruang fisik lebih luas untuk menangkap cahaya. Dampaknya bukan cuma pada foto malam yang lebih terang, tetapi juga detail yang lebih kaya, dynamic range lebih fleksibel, serta transisi highlight ke shadow yang lebih halus. Karakter fotonya terasa lebih dalam dan tidak terlalu "dipaksa" oleh pemrosesan agresif.
Di Xiaomi 17 Ultra, sensor tersebut hadir sebagai Light Fusion 1050L 50 MP dengan bukaan f/1.67 dan focal length 23 mm. Peningkatan terbesarnya ada pada teknologi LOFIC atau Lateral Overflow Integration Capacitor.
Berbeda dari pendekatan HDR konvensional yang menggabungkan beberapa frame, LOFIC bekerja langsung di level sensor. Ia memperluas kapasitas penampungan cahaya dalam satu kali jepretan. Artinya, kamera bisa menjaga detail di area terang sekaligus mempertahankan informasi di area gelap tanpa harus terlalu mengandalkan komputasi berlapis.
Hasil akhirnya terasa lebih natural. Berdasarkan uji yang dilakukan situs Digital Camera World, hasil tangkapan kamera LOFIC nya hadirkan Highlight yang tidak mudah over, bayangan masih menyimpan detail, dan keseluruhan foto terlihat lebih "fotografis" alih-alih sekadar tajam secara digital. Bahkan saat menggunakan crop 2x setara 46 mm, kualitasnya masih stabil dan tidak turun drastis.
Di titik ini, terasa bahwa Xiaomi tidak hanya mengandalkan software, tetapi benar-benar membangun kekuatan dari sisi hardware. Dan menurut saya, inilah yang membuat kamera utama Xiaomi 17 Ultra terasa berbeda dibanding flagship lain yang hanya bermain di algoritma.
2. Kamera Telefoto 200 MP dengan Zoom Optis Mekanis 75–100 mm

Kalau kamera utama jadi fondasi kualitasnya, maka kamera telefoto inilah yang paling banyak dibicarakan. Xiaomi menyematkan sistem zoom optis mekanis yang bisa bergerak mulus dari 75 mm sampai 100 mm setara full-frame. Ini bukan telefoto dengan satu focal length tetap lalu sisanya mengandalkan crop.
Pada bagian ini, elemen lensanya benar-benar bergerak secara fisik untuk mengubah panjang fokal. Transisinya terasa natural, bukan sekadar perpindahan digital.
Sensor yang dipakai juga serius. Ukurannya 1/1.4 inci dengan resolusi 200 MP dan bukaan f/2.39 hingga f/2.96, lengkap dengan OIS. Kombinasi sensor besar dan resolusi tinggi ini memberi ruang fleksibilitas yang jarang ada di kamera telefoto ponsel.
Karena sistemnya optis dan mekanis, kualitas gambar di rentang 75–100 mm tetap terjaga. Bahkan saat diperbesar lebih jauh, detailnya masih solid. Pada 8,6x, kamera ini masih membaca dari 50 MP efektif. Di 17,2x pun masih menghasilkan potongan 12,5 MP yang layak pakai. Jadi bukan sekadar angka zoom besar, tetapi memang masih usable.
Untuk foto potret, panjang fokal 75–100 mm ini memang sweet spot. Kompresi latarnya terlihat natural, wajah tidak terdistorsi, dan separasi subjek terasa benar-benar optis. Bokeh-nya pun lebih halus karena berasal dari kombinasi focal length dan ukuran sensor, bukan hanya simulasi portrait mode.
Android Authority yang sudah mencoba ponsel ini selama beberapa pekan menyebut telefoto ini sebagai salah satu lensa paling fleksibel dan serbaguna yang pernah mereka coba di sebuah ponsel. Mereka menyoroti kompresi latar yang alami dan bokeh optis yang sulit ditiru secara komputasional.
3. Profil Warna Leica yang Memberikan Karakter Fotografis Nyata

Kolaborasi Xiaomi dengan Leica di seri ini bukan sekadar tempelan logo. Dampaknya benar-benar terasa lewat profil warna Leica Vibrant dan Leica Authentic yang tertanam langsung di sistem kamera.
Leica Vibrant tampil lebih hidup dengan kontras yang tegas, cocok untuk hasil yang langsung "jadi". Sementara Leica Authentic lebih kalem, sedikit undersaturated dengan kontras sinematik dan vignette halus. Karakternya terasa lebih klasik dan dewasa, mirip pendekatan film simulation pada kamera dedicated.
Tersedia juga filter black and white bergaya Leica serta Xiaomi Scarlet untuk nuansa sinematik. Banyak reviewer memuji profil ini sebagai salah satu color profile paling matang secara estetika di smartphone.
4. Kemampuan Perekaman Video yang Siap Produksi

Jika sektor foto jadi daya tarik utama, kemampuan videonya tidak kalah ambisius. Xiaomi 17 Ultra dirancang bukan hanya untuk merekam momen, tetapi untuk produksi yang lebih serius.
Ponsel ini mampu merekam hingga 8K@30fps dan 4K@120fps. Bukan cuma soal angka resolusi, tapi juga dukungan log dan Dolby Vision 10-bit. Artinya, file videonya menyimpan informasi warna dan dynamic range yang lebih luas, sehingga lebih leluasa saat masuk tahap color grading.
Fitur pendukungnya pun lengkap. Pengguna bisa mengatur ISO dan shutter speed secara manual, tersedia tiga LUT bawaan untuk preview grading langsung di kamera, ada waveform untuk membaca eksposur dengan akurat, serta mode EI atau Exposure Index yang membantu menjaga detail di area gelap saat menghadapi pencahayaan kontras tinggi.
PetaPixel yang memakai ponsel ini untuk mendokumentasikan perjalanan ke Tiongkok menilai hasil video dari kamera utama dan telefoto terlihat sinematik. Warna dan kontrasnya dianggap matang, tidak terasa terlalu tajam atau "dipoles" berlebihan. Dukungan IBIS hingga 6 stop di kamera utama juga membuat rekaman handheld tetap stabil meski direkam sambil berjalan.
Memang, kamera ultrawide disebut belum sekuat dua lensa lainnya karena hasilnya sedikit lebih lembut. Namun di luar itu, kemampuan video Xiaomi 17 Ultra sudah masuk kategori sangat serius dan layak dipertimbangkan bahkan untuk kebutuhan produksi semi-profesional berbasis mobile.
5. Baterai Besar dan Pengisian Cepat yang Praktis

Xiaomi 17 Ultra yang resmi masuk Indonesia dibekali baterai silicon-carbon 6.000 mAh, meningkat dari 5.410 mAh yang digunakan di Xiaomi 15 Ultra sebelumnya.
Dalam penggunaan nyata, Android Authority menyebut ponsel ini mampu bertahan seharian penuh bahkan untuk pengguna yang cukup intensif. Untuk pemakaian yang lebih ringan, perangkat ini dinilai masih nyaman dipakai hingga dua hari tanpa perlu isi ulang. Daya tahan tersebut juga ditopang oleh efisiensi Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang diklaim 35 persen lebih hemat energi dibanding generasi sebelumnya.
Tentu saja, jika dipakai terus-menerus untuk memotret dengan resolusi tinggi atau merekam video berat, konsumsi dayanya akan lebih cepat. Namun untuk skenario harian, kombinasi kapasitas besar dan efisiensi chipset ini terasa cukup aman.
Soal pengisian daya, Xiaomi juga membuatnya praktis. Fast charging 90W yang dibawanya bersifat universal, bukan hanya optimal dengan charger proprietary Xiaomi, tetapi juga bisa mencapai kecepatan penuh menggunakan charger USB Power Delivery PPS standar. Artinya, charger laptop atau adaptor lain yang mendukung PPS tetap bisa mengisi dengan cepat tanpa harus membawa kepala charger khusus.
Stuff.tv bahkan menyebut implementasi ini sebagai salah satu keunggulan praktis terbesar Xiaomi 17 Ultra. Dari 0 persen, dalam 15 menit baterai bisa terisi sekitar 40 persen, dan dalam 30 menit mencapai 69 persen. Selain pengisian kabel 90W, tersedia juga pengisian nirkabel 50W serta pengisian nirkabel terbalik 10W.
6. Leica Leitzphone Powered by Xiaomi

Banyak yang mengira Leica Leitzphone Powered by Xiaomi punya hardware kamera yang berbeda dari Xiaomi 17 Ultra standar. Padahal tidak. Secara hardware kamera dan chipset, keduanya identik. Sensor utama, konfigurasi lensa, sampai performa pemrosesan gambar yang ada di dalamnya sama. Perbedaannya murni ada di pengalaman dan positioning.
Xiaomi 17 Ultra dijual mulai Rp19.999.000 (16GB/512GB) dan Rp22.999.000 (16GB/1TB), tersedia dalam pilihan warna Hitam, Putih, Purple, dan Starlit Green. Sementara Leica Leitzphone Powered by Xiaomi hadir eksklusif dalam satu varian saja: 16GB/1TB warna Hitam, dengan harga Rp29.999.000.
Yang paling membedakan adalah keberadaan Leica Camera Ring fisik bawaan. Ring ini bisa diputar untuk mengatur zoom atau eksposur langsung dari bodi, persis seperti memutar cincin lensa pada kamera sungguhan.
Buat yang terbiasa memotret manual, sensasinya jelas lebih menyenangkan dan terasa lebih "kamera" daripada sekadar geser slider di layar.
Selain Camera Ring, antarmuka Leica diterapkan secara menyeluruh: ikon aplikasi monokrom bergaya Leica, font, widget, hingga layar kunci. Ada pula mode Leica Essential Mode, Leica M9 Style, dan Leica M3 Style yang mereplikasi karakter kamera dan film Leica legendaris, termasuk mode yang meniru gulungan film Leica Monopan 50 untuk fotografi hitam putih.
Ditambah chip enkripsi keamanan khusus dan komunikasi satelit dua arah yang absen di Xiaomi 17 Ultra standar.
Untuk mengetahui perbedaan lebih detail, saya sudah ringkas ke dalam bentuk tabel berikut ini.
| Fitur | Xiaomi 17 Ultra | Leica Leitzphone Powered by Xiaomi |
|---|---|---|
| Harga | Mulai Rp19.999.000 | Rp29.999.000 |
| Konfigurasi | 16GB/512GB dan 16GB/1TB | 16GB/1TB saja |
| Warna | Hitam, Putih, Purple, Starlit Green | Hitam saja |
| Desain bodi | Standar | Housing aluminium anodisasi nikel |
| Leica Camera Ring | Tidak ada (opsional via aksesori) | Ada, bawaan |
| Mode kamera eksklusif | Leica Vibrant & Authentic | Ditambah Leica Essential Mode, M9 Style, M3 Style |
| Leica UX | Standar HyperOS 3 | Tema Leica menyeluruh: ikon, font, widget, layar kunci |
| Komunikasi satelit | Satu arah | Dua arah |
| Keamanan | Standar | Chip enkripsi keamanan khusus |
Menurut CNET, yang sudah menguji ponsel ini secara langsung, Leica Leitzphone Powered by Xiaomi adalah perangkat yang dirancang untuk memprioritaskan pengalaman fotografi di atas hampir segalanya. Di dalam ulasannya, CNET bahkan mengambil lebih dari 2.000 foto selama pengujian dan menyebut hasilnya bukan sekadar bagus, melainkan benar-benar luar biasa untuk kamera apa pun.
Itulah mengapa CNET memberikan penghargaan bergengsi Editors' Choice untuk ponsel ini. Yang berarti ponsel ini dapat apresiasi besar dan bukan gimmick semata sebagai ponsel yang gantikan kamera profesional. Ponsel ini bahkan akan dijual di toko fisik Leica di beberapa negara, menegaskan posisinya sebagai produk kolektibel, bukan sekadar ponsel kamera biasa.
7. Layar LTPO OLED Datar 6,9 Inci yang Tajam dan Sangat Cerah

Xiaomi seri Ultra identik dengan ponsel yang tawarkan layar melengkung. Seri terakhirnya, Xiaomi 15 Ultra masih menerapkan konsep yang sama.
Xiaomi akhirnya beralih ke layar datar di Xiaomi 17 Ultra. Selain terlihat lebih rapi, layar datar juga terasa lebih nyaman saat digenggam dan meminimalkan sentuhan tidak sengaja di sisi layar.
Panel yang digunakan berukuran 6,9 inci dengan teknologi OLED HyperRGB dan resolusi 2.608 x 1.200 piksel, menghasilkan kerapatan 416 PPI. Sudah mendukung LTPO adaptif 1–120 Hz, sehingga refresh rate bisa menyesuaikan kebutuhan untuk efisiensi daya.
Ada juga PWM dimming 2.160 Hz yang membantu kenyamanan mata saat dipakai di tingkat kecerahan rendah.
Xiaomi mengklaim kecerahan puncak hingga 3.500 nits. Pengujian dari PhoneArena bahkan mencatat kecerahan puncaknya menyentuh 3.515 nits, melampaui Samsung Galaxy S26 Ultra di 2.420 nits dan iPhone 17 Pro Max di 2.689 nits.
Akurasi warnanya juga termasuk yang terbaik di kelasnya dengan nilai Delta E yang sangat rendah. Dukungan Dolby Vision dan HDR10+ pun membuat pengalaman menonton konten premium di ponsel ini terasa maksimal.
8. Hadirkan Photography Kit

Keunggulan lain dari ponsel ini ada pada aksesori Photography Kit Pro. Grip ini membawa baterai tambahan 2.000 mAh, tombol rana berulir, command dial, serta kontrol eksposur dan zoom. Yang menarik, harga Kit ini lebih murah dibanding pesaing yang menawarkan Kit serupa. Xiaomi Indonesia menjual Xiaomi 17 Ultra Photography Kit Pro dengan banderol Rp1.999.00.
Saya mengapresiasi harga Kit ini. Tidak terlalu mahal, bahkan hampir setengha harga dari Kit pesaing. Contohnya Kit untuk OPPO Find X9 Pro yang dijual Rp3,6 jutaan. Sementara Kit vivo X300 Pro dijual dengan harga Rp6 jutaan.
PetaPixel menyebut kombinasi ini membuat pengalaman memotret terasa mendekati kamera mirrorless. Untuk Leica Leitzphone Powered by Xiaomi, Leica Camera Ring sudah terpasang langsung tanpa perlu aksesori tambahan.
9. Performa Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang Tanpa Kompromi

Biasanya, performa justru jadi poin pertama yang dibahas saat mengulas sebuah flagship. Namun kali ini saya sengaja menempatkannya di bagian akhir. Alasannya sederhana: Xiaomi 17 Ultra sudah terlihat unggul di banyak sektor sejak awal.
Layarnya impresif, kualitas audionya juga termasuk yang paling jempolan di kelasnya. Kamera jelas jadi sorotan utama. Selain itu desainnya cenderung menarik dan beda. Tentu desian menarik ini sudahd ilengkapi sertifikasi IP68/IP69 dan Xiaomi Shield Glass 3.0 yang membuat ponsel punya ketahanan yang oke.
Dengan kemampuan kamera sudah oke, sektor spesifikasi lain sudah keren, tentu performanya tidak boleh lambat. Karena itu, ponsel ini dibekali cip kelas atas; Snapdragon 8 Elite Gen 5.
Chipset ini sudah memakai proses 3 nm generasi kedua TSMC yang lebih efisien dan lebih bertenaga dibanding generasi 4 nm sebelumnya. Arsitekturnya terdiri dari delapan inti Oryon berbasis Nuvia, dengan dua inti prime hingga 4,61 GHz dan enam inti performance 3,62 GHz. Tidak ada inti kecil, semuanya berorientasi performa, sehingga responsnya konsisten dari tugas ringan sampai berat.
Untuk grafis, Adreno 840 dengan dukungan High Performance Memory 18 MB diklaim meningkatkan bandwidth hingga 38 persen, performa grafis 23 persen lebih tinggi, sekaligus lebih hemat daya 20 persen dibanding Snapdragon 8 Elite Gen 4.
Dalam pengujian nyata, PhoneArena mencatat skor Geekbench 6 di angka 3.525 untuk single-core dan 10.545 untuk multi-core, bahkan melampaui iPhone 17 Pro Max di pengujian multi-core. Ekspor 100 file DNG di Lightroom selesai sekitar 30 detik, dan rendering video 4K berdurasi 10 menit di CapCut kurang dari tiga menit.
Xiaomi juga menyempurnakan sistem pendingin dengan vapor chamber berstruktur kapiler baru yang diklaim meningkatkan konduktivitas termal hingga 50 persen.
Hasilnya, perangkat mampu menyelesaikan uji stress 3DMark Extreme tanpa throttling berlebihan, sesuatu yang sebelumnya menjadi catatan di Xiaomi 15 Ultra. Didukung RAM 16 GB LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1, Xiaomi 17 Ultra benar-benar siap menangani beban kerja berat tanpa kompromi.
Kekurangan Xiaomi 17 Ultra & Leica Leitzphone Powered by Xiaomi
1. Rentang Zoom 75–100 mm Kurang Terasa Bedanya

Zoom optis mekanis 75 sampai 100 mm memang terdengar sangat menarik di atas kertas. Namun ketika digunakan langsung, perbedaan antara 75 mm dan 100 mm tidak terlalu terasa signifikan.
Memang ada perubahan kompresi latar saat berada di 100 mm, tetapi dari sisi komposisi hasilnya sering kali masih terlihat mirip. Dengan selisih hanya 25 mm, dampaknya tidak sebesar yang dibayangkan.
Digital Camera World bahkan mencatat bahwa selama pengujian mereka lebih sering langsung beralih ke zoom yang lebih jauh dibanding memanfaatkan rentang 75 sampai 100 mm ini. Beberapa reviewer lain juga menilai perbedaan antara 3,2x dan 4,3x terlalu berdekatan untuk menghasilkan variasi framing yang benar-benar terasa.
Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya (Xiaomi 15 Ultra) yang memiliki dua lensa terpisah di 3x dan 5x, fleksibilitas di rentang menengah justru terasa sedikit berkurang. Jadi meskipun teknologinya baru dan menarik, dalam penggunaan sehari-hari manfaatnya tidak selalu terasa besar.
2. Warna Antar Lensa Tidak Selalu Konsisten

Kekurangan lain yang cukup sering disorot adalah perbedaan karakter warna antara kamera utama dan telefoto. Saat berpindah lensa, hasilnya tidak selalu terlihat seragam.
Kamera utama cenderung menghasilkan warna yang lebih hangat dengan bayangan yang lebih lembut. Sementara itu, kamera telefoto kadang tampil dengan kontras lebih tegas dan white balance yang sedikit berbeda, terutama saat memotret langit biru atau area dengan cahaya terang.
Digital Camera World bahkan menampilkan contoh foto yang diambil di lokasi dan waktu yang hampir bersamaan. Hasilnya menunjukkan perbedaan warna yang cukup terlihat, sampai perlu penyesuaian tambahan saat proses editing agar tampil konsisten.
Bagi pengguna biasa mungkin ini bukan masalah besar. Namun untuk fotografer yang sering berpindah lensa dalam satu sesi, konsistensi warna antar kamera seharusnya jadi standar dasar di kelas flagship.
3. Dukungan RAW Tidak Merata di Semua Kamera
Untuk pengguna yang terbiasa memotret dalam format RAW, ada satu keterbatasan yang perlu dicatat. Di Xiaomi 17 Ultra, hanya kamera utama yang bisa menghasilkan file RAW DNG penuh 50 MP.
Sementara itu, kamera ultrawide dan telefoto memang tetap bisa menyimpan RAW, tetapi dalam bentuk compressed sehingga resolusinya terbatas di 12,5 MP. Artinya, fleksibilitas saat editing dari dua lensa tersebut tidak seluas kamera utama.
PetaPixel yang mengujinya sebagai perangkat fotografi perjalanan profesional menyebut hal ini cukup mengganggu. Mereka juga menemukan bahwa opsi crop 2x dari kamera utama, setara 46 mm, justru tidak tersedia di mode Pro, padahal focal length ini termasuk yang paling sering dipakai untuk street atau potret natural.
Selain itu, fitur burst shooting juga tidak tersedia di mode Pro dan hanya bisa diakses lewat mode otomatis penuh. Untuk ponsel yang diposisikan sebagai alat fotografi serius, keterbatasan seperti ini terasa agak janggal dan membatasi fleksibilitas penggunaan.
4. HyperOS Masih Kurang Matang di Kelas Flagship

Xiaomi 17 Ultra menjalankan HyperOS 3 berbasis Android 16. Dari sisi performa, sistem ini cepat dan stabil. Namun jika bicara soal pengalaman antarmuka, masih ada beberapa catatan.
Sejumlah penguji menyebut tampilannya terasa seperti evolusi MIUI lama, belum sepenuhnya mencerminkan antarmuka flagship yang matang. Dalam hal personalisasi, opsinya juga tidak seluas Samsung Galaxy S26 Ultra dengan One UI, ColorOS milik OPPO, atau OriginOS milik vivo. Pengaturan ikon, folder, hingga quick toggle terasa lebih terbatas.
Selain itu, ponsel ini masih membawa cukup banyak aplikasi bawaan yang perlu dirapikan di awal. Beberapa fitur AI yang disertakan pun terkesan mengikuti tren, bukan benar-benar menghadirkan fungsi baru yang signifikan.
5. Harga Sangat Premium dan Tanpa Opsi 24fps

Di kelas flagship, harga Xiaomi 17 Ultra memang tidak main-main. Varian 512 GB dibanderol Rp19.999.000, sedangkan varian 1TB dijual Rp22.999.000. Leica Leitzphone Powered by Xiaomi bahkan menyentuh Rp29.999.000.
Seingat saya, selama Xiaomi Indonesia berkiprah di Indonesia, lebih dari 10 tahun, Leica Leitzphone Powered by Xiaomi ini jadi produk termahal yang mereka hadirkan ke tanah air.
Dengan banderol setinggi ini, ekspektasi konsumen tentu ikut naik. Terlebih di kelas harga premium seperti ini, seharusnya fiturnya cukup lengkap. Sayang, ada beberapa kekurangan yang bahkan berada di sektor kamera itu sendiri.
Contoh kekurangan lainnya yang belum disebut adalah tidak adanya opsi video 24fps Padahal 24fps adalah standar sinematik yang umum dipakai untuk menghasilkan tampilan filmis.
Tanpa opsi tersebut, pengguna hanya bisa memilih 30fps atau 60fps. Untuk perangkat yang diposisikan sebagai alat foto dan video serius, keterbatasan ini cukup kontras dengan narasi "tanpa kompromi" yang dibangun.
Perbedaan antara Xiaomi 17 Ultra dan Leica Leitzphone Powered by Xiaomi sendiri sebenarnya tidak menyentuh hardware inti kamera. Tambahannya lebih ke Leica Camera Ring bawaan, mode kamera eksklusif, dan Leica UX.
Karena itu, banyak reviewer menilai sebagian besar pembeli akan lebih rasional memilih versi standar, lalu menambahkan Photography Kit secara terpisah jika memang ingin pengalaman lebih lengkap.
Simpulan
Xiaomi 17 Ultra adalah salah satu smartphone dengan fokus fotografi paling serius saat ini. Sensor 1 inci dengan LOFIC, telefoto 200 MP mekanis, profil warna Leica yang kuat, kemampuan video yang matang, serta pengisian daya cepat yang praktis membuatnya sangat menarik untuk penggemar foto.
Leica Leitzphone Powered by Xiaomi membawa pengalaman itu lebih jauh lewat Leica Camera Ring fisik dan nuansa Leica yang lebih kental. Namun, harganya juga melonjak cukup tinggi dan tidak semua orang benar-benar membutuhkan tambahan tersebut.
Tetap ada beberapa catatan. Rentang zoom 75–100 mm yang di atas kertas terlihat revolusioner ternyata tidak terlalu terasa bedanya dalam praktik. Warna antar lensa belum sepenuhnya konsisten. Dukungan RAW juga hanya maksimal di kamera utama. Ditambah lagi, belum adanya opsi video 24fps dan HyperOS yang masih perlu banyak penyempurnaan membuatnya belum sepenuhnya tanpa cela.
Namun jika prioritas utama Anda adalah kualitas kamera dan Anda siap memahami batasannya, saat ini belum banyak smartphone yang bisa menandingi paket fotografi yang ditawarkan Xiaomi 17 Ultra dan Leica Leitzphone Powered by Xiaomi.
Beli Xiaomi 17 Ultra jika Anda memprioritaskan fungsi kamera di atas segalanya dengan harga mulai Rp19.999.000. Beli Leica Leitzphone Powered by Xiaomi jika uang bukan masalah dan Anda menginginkan prestise serta estetika kolektor ala Leica yang sesungguhnya, lengkap dengan hardware ring fisik dan antarmuka Leica yang menyeluruh seharga Rp29.999.000.
