carisinyal-web-banner-retina 35

Ini Dia 12 Kelebihan dan Kekurangan Xiaomi 17

Ditulis oleh Hilman Mulya Nugraha

Xiaomi 17 merupakan penerus dari Xiaomi 15 yang juga rilis di Indonesia pada 2025. Xiaomi melewati angka 16 dengan alasan peningkatannya cukup tinggi. Xiaomi 17 sendiri pertama kali diperkenalkan secara global di Barcelona pada 28 Februari 2026, bersama Xiaomi 17 Ultra.

Berselang beberapa hari, tepatnya 3 Maret 2026, Xiaomi 17 dan Xiaomi 17 Ultra resmi hadir di Indonesia. Ponsel ini dijual mulai Rp14.999.000 untuk varian 12 GB/256 GB dan Rp15.999.000 untuk varian 12 GB/512 GB.

Xiaomi 17 sendiri hadir sebagai pilihan flagship berukuran 6,3 inci yang nyaman digenggam, tetapi tetap menawarkan performa dan fitur kelas atas. Desainnya premium, kemampuannya pun tidak bisa dianggap remeh untuk kebutuhan harian maupun tugas berat. Tapi jelas, ponsel ini punya plus minusnya yang tentunya dibahas detail pada artikel kali ini. 

Spesifikasi Xiaomi 17

Xiaomi 17
Layar LTPO AMOLED 6.3 inci
Chipset Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5
RAM 12 GB
Memori Internal 256 GB, 512 GB
Baterai Li-Ion 6330 mAh
Cek Harga Saat Ini Shopee Blibli

*Tabel ini bisa digeser ke samping
Kelebihan
Kekurangan
Baterai 6.330 mAh super besar di bodi 6,3 inci yang tetap ringkas
Warna foto kurang konsisten saat berpindah antar kamera
Fast charging 100W yang fleksibel dengan dukungan Power Delivery dan PPS
Zoom optis 2,6x terasa kurang agresif untuk kelas flagship
Performa Snapdragon 8 Elite Gen 5 kencang dengan pendingin IceLoop vapor chamber
HyperOS masih butuh banyak penyempurnaan
Layar LTPO AMOLED 6,3 inci sangat tajam dengan kecerahan hingga 3500 nits
Tidak ada charger dalam kotak meski mendukung fast charging 100W
Kamera triple 50 MP dengan racikan Leica dan profil warna khas
Dibekali kemampuan rekaman video 8K, Dolby Vision, dan Log recording
Desain compact premium dengan IP68 dan sensor sidik jari ultrasonic
Mendukung Wi-Fi 7 hingga fitur Xiaomi Offline Communication

Kelebihan Xiaomi 17

1. Baterai 6330 mAh yang Luar Biasa untuk Ponsel Seukuran Ini

Xiaomi 17 punya kapasitas baterai 6330 MAh. Kapasitas ini ditanamkan ke dalam bodi setebal 8,1 mm dengan bobot hanya 191 gram. Untuk ponsel 6,3 inci, ini jelas bukan angka biasa. Bahkan, jika dibandingkan, Samsung Galaxy S26 hanya membawa 4.300 mAh dan iPhone 17 ada di kisaran 3.692 mAh. Xiaomi 17 nyaris menawarkan dua kali lipat kapasitas dalam ukuran yang tetap tergolong ringkas.

Rahasia di baliknya ada pada teknologi silicon-carbon generasi terbaru. Teknologi ini memungkinkan kepadatan energi lebih tinggi tanpa membuat bodi jadi lebih tebal atau berat. Hasilnya bukan sekadar angka di atas kertas. 

Dalam pengujian PhoneArena, Xiaomi 17 mencatat 24 jam 48 menit untuk web browsing dan 15 jam 41 menit untuk video playback. Angka ini jelas berada di atas rata-rata ponsel di kelasnya. Bahkan, The Gadgeteer yang memakainya selama empat pekan menyebut daya tahannya konsisten lebih lama dibanding iPhone yang mereka gunakan sehari-hari.

Menariknya lagi, bukan cuma soal awet dalam satu hari pemakaian. Xiaomi menyematkan sel silicon-carbon generasi ke-16 dengan kepadatan energi 824 Wh/L.

Klaimnya, baterai ini masih mampu mempertahankan 80% kapasitas awal setelah 1.600 siklus pengisian. Jika dihitung kasar, itu setara sekitar empat tahun pemakaian harian sebelum penurunan kapasitas terasa signifikan. Untuk sebuah compact flagship, daya tahan seperti ini jelas jadi nilai jual yang sulit diabaikan.

2. Pengisian Daya 100W yang Cepat dan Fleksibel

Peningkatan yang cukup terasa dari Xiaomi 15 ke Xiaomi 17 ada di sektor pengisian daya. Jika sebelumnya mentok di 90W, kini Xiaomi 17 sudah mendukung fast charging 100W lewat kabel. Bukan cuma lebih cepat, sistemnya juga lebih praktis untuk dipakai sehari-hari.

Xiaomi 17 mendukung standar USB Power Delivery dan PPS (Programmable Power Supply). Artinya, Anda tidak harus selalu memakai kepala charger bawaan untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Selama adaptor mendukung Power Delivery dan PPS, termasuk banyak charger laptop modern, Xiaomi 17 tetap bisa mengisi daya hingga 100W. Jadi lebih fleksibel, terutama jika ingin membawa satu charger untuk beberapa perangkat sekaligus.

Dengan baterai 6.330 mAh yang besar, hasilnya tetap impresif. Dalam 30 menit, daya bisa terisi sekitar 61%, dan penuh dalam waktu kurang lebih 65 menit. Untuk kapasitas sebesar ini, angka tersebut tergolong sangat cepat. Selain pengisian kabel, tersedia juga wireless charging 50W serta reverse wireless charging 22,5W yang membuatnya semakin serbaguna.

3. Performa Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang Siap Tancap Gas

Saat pertama kali rilis di Tiongkok, Xiaomi 17 sempat menyandang status sebagai ponsel kompak pertama yang memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Hanya saja, karena jeda peluncuran globalnya cukup lama, termasuk ke Indonesia, predikat tersebut jadi tidak terlalu relevan lagi. Meski begitu, keputusan Xiaomi memakai cip ini tetap layak diapresiasi.

Snapdragon 8 Elite Gen 5 diproduksi dengan fabrikasi 3 nm TSMC, generasi yang sama dengan yang dipakai Apple untuk chip iPhone 16 Pro. Arsitekturnya mengandalkan delapan inti berbasis Oryon, terdiri dari 2 inti prime hingga 4,61 GHz dan 6 inti performa di 3,62 GHz. Menariknya, tidak ada pemisahan inti efisiensi seperti generasi sebelumnya. 

Semuanya difokuskan untuk performa tinggi. Sektor grafis ditangani Adreno 840 yang sudah mendukung ray tracing, mesh shading, dan Vulkan 1.4.

Hasilnya terlihat jelas di pengujian. PhoneArena mencatat skor Geekbench 6 di angka 3.489 untuk single-core dan 10.303 untuk multi-core. Skor multi-core ini bahkan melampaui Galaxy S25 dan sangat mendekati iPhone 17. Dalam uji 3DMark Extreme, Xiaomi 17 juga tampil dominan dengan selisih yang cukup jauh dari pesaing terdekatnya. 

Performa kencang tentu akan percuma jika tidak diimbangi sistem pendingin yang mumpuni. Karena itu, Xiaomi membekali Xiaomi 17 dengan IceLoop vapor chamber yang diklaim 31,9% lebih luas dibanding Xiaomi 15. Hasilnya terasa di penggunaan nyata. 

PhoneArena menguji Geekbench 6 di ponsel ini. Hasilnya, ponsel ini dapat  skor Geekbench 6 di angka 3.489 untuk single-core dan 10.303 untuk multi-core, dengan performa yang tetap stabil. 

Dalam uji 3DMark Extreme, Xiaomi 17 juga unggul cukup jauh dari pesaing terdekatnya. Saat dipakai bermain Call of Duty: Mobile di 110-120 fps, suhu bodinya tetap terkendali dan tidak menunjukkan gejala throttling berlebihan.

Dukungan RAM 12 GB LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1, serta fitur memory extension hingga 12 GB tambahan, makin memperkuat kesan bahwa performanya memang disiapkan untuk jangka panjang.

4. Layar LTPO AMOLED 6,3 Inci yang Tajam dan Terang Maksimal

Sektor layar jadi salah satu nilai jual utama Xiaomi 17. Panel LTPO AMOLED 6,3 incinya punya resolusi 2.656 x 1.220 piksel dengan kerapatan 464 PPI. Angka ini lebih tinggi dari Galaxy S26 yang ada di 411 PPI dan sangat dekat dengan iPhone 17 Pro di 460 PPI. Artinya, tingkat ketajamannya sudah masuk kategori sangat tinggi untuk ukuran layar sekelas ini.

Teknologi LTPO adaptif 1-120 Hz dengan sistem adaptive refresh rate Pro membuat perpindahan animasi terasa lebih seamless, tetapi tetap efisien saat menampilkan konten statis. Layar ini juga mampu meredup hingga 1 nit, sehingga tetap nyaman digunakan di ruangan gelap tanpa menyilaukan mata.

Soal kecerahan, Xiaomi mengklaim puncaknya tembus 3.500 nits. Berdasarkan pengujian PhoneArena, angka riilnya tercatat 3.412 nits. Hasil ini melampaui Samsung Galaxy S25 yang berada di 2.394 nits dan iPhone 17 di 2.672 nits dalam skenario pengujian serupa. Di bawah sinar matahari langsung, layar Xiaomi 17 tetap terbaca jelas.

Untuk kenyamanan jangka panjang, layar ini juga sudah mengantongi sertifikasi TÜV Rheinland Low Blue Light (Hardware Solution), TÜV Rheinland Flicker Free, dan TÜV Rheinland Circadian Friendly.

Sertifikasi tersebut memastikan emisi cahaya biru ditekan secara hardware, kedipan layar diminimalkan, dan ritme sirkadian pengguna tetap lebih terjaga saat digunakan pada malam hari.

Tidak hanya terang dan tajam, tampilannya juga terasa imersif. Bezels super tipis 1,18 mm yang dibuat merata berkat teknologi LIPO membuat layar terlihat lapang, meski bodinya tergolong compact. Dukungan HDR10+, Dolby Vision, dan HDR Vivid semakin memaksimalkan pengalaman saat menikmati konten streaming berkualitas tinggi.

5. Sistem Kamera Triple 50 MP dengan Racikan Leica

Di sektor kamera, Xiaomi 17 tampil cukup percaya diri. Total ada empat kamera 50 MP yang disematkan, tiga di belakang dan satu di depan. Untuk kamera belakang, komposisinya terdiri dari kamera utama 50 MP, kamera ultrawide 50 MP, dan kamera telefoto 50 MP dengan desain lensa mengambang.

Kamera utamanya memakai sensor Light Fusion 950 berukuran 1/1,31 inci dengan bukaan f/1.67. Xiaomi juga menyematkan lensa tujuh elemen, termasuk satu elemen kaca dari desain Leica UltraPure Optical. 

Tujuannya untuk meningkatkan ketajaman sekaligus menekan efek flare saat memotret di kondisi cahaya sulit. Kamera ultrawide-nya punya sudut pandang 102 derajat, cukup luas untuk foto lanskap atau group shot.

Sementara itu, kamera telefoto 60 mm atau 2,6x mengusung mekanisme lensa mengambang yang memungkinkan fokus hingga jarak 10 cm, sehingga bisa merangkap untuk foto macro tanpa perlu kamera khusus.

Sentuhan Leica terasa lewat dua profil warna, yakni Leica Vibrant dan Leica Authentic. Keduanya menawarkan karakter berbeda, tetapi sama-sama menjaga warna tetap konsisten dan tidak berlebihan. Berdasarkan pengujian yang dilakukan TechAdvisor, hasil fotonya terlihat kontras namun tetap natural, tidak terlalu bergantung pada efek HDR yang agresif.

Untuk kebutuhan swafoto, Xiaomi 17 kini dibekali kamera depan 50 MP dengan autofocus. Ini jadi peningkatan signifikan dibanding kamera 32 MP di Xiaomi 15, terutama untuk foto selfie yang lebih tajam maupun kebutuhan video call dengan detail lebih baik.

6. Kemampuan Video yang Lebih dari Sekadar Pelengkap

Untuk ukuran ponsel compact, kemampuan video Xiaomi 17 bisa dibilang di atas ekspektasi. Ponsel ini sudah mendukung perekaman 8K@30fps, 4K@60fps dengan Dolby Vision 10-bit, hingga slow motion 1080p di 960fps. Spesifikasi seperti ini biasanya lebih identik dengan model Ultra, bukan versi yang lebih ringkas.

Yang membuatnya makin menarik, tersedia fitur Log recording dalam resolusi 4K. Mode ini merekam dengan profil warna datar, sehingga memberi ruang color grading yang lebih luas saat proses editing. Bagi kreator konten yang ingin hasil videonya lebih fleksibel saat pascaproduksi, fitur ini jelas bukan sekadar gimmick.

Soal stabilisasi, Xiaomi 17 mengandalkan EIS dengan dukungan gyro-EIS yang aktif di semua mode perekaman. Hasilnya cukup stabil bahkan saat berjalan. Kamera depan pun tidak kalah serius karena sudah mendukung perekaman 4K@60fps dengan HDR10+, sesuatu yang masih jarang ditemui di kamera selfie.

Untuk audio, mikrofon stereo bawaannya mampu menangkap suara dengan pemisahan kanal yang rapi, cocok untuk vlog atau konten kasual.

Namun ada satu hal yang perlu dicatat. Xiaomi 17 tidak dibekali IBIS (In-Body Image Stabilization) seperti Xiaomi 17 Ultra. IBIS adalah sistem stabilisasi berbasis pergerakan sensor di dalam bodi kamera untuk meredam getaran secara fisik, sehingga hasil video bisa lebih stabil tanpa banyak bantuan software. Karena fitur ini tidak tersedia di Xiaomi 17, stabilisasi videonya sepenuhnya mengandalkan EIS digital.

Saat merekam dalam kondisi statis atau menggunakan gimbal, kualitasnya tetap sangat baik. Namun untuk perekaman handheld yang aktif bergerak, terkadang masih terlihat sedikit efek crop dan distorsi halus di tepi frame akibat proses stabilisasi digital tersebut.

7. Desain Kompak yang Nyaman Digenggam

Di tengah tren ponsel 6,7 inci ke atas, Xiaomi 17 terasa seperti angin segar. Lebarnya hanya 71,8 mm dengan bobot 191 gram, membuatnya nyaman dipakai satu tangan tanpa terasa berat.

Pilihan seperti ini makin jarang, apalagi setelah ASUS mundur dari bisnis ponsel dan lini compact flagship berkualitas tinggi semakin terbatas. Dalam konteks itu, Xiaomi 17 jadi opsi yang relevan bagi pengguna yang benar-benar memprioritaskan ergonomi.

Materialnya pun tidak terasa murahan. Rangka aluminium anodisasi dipadukan dengan kaca belakang matte yang halus dan tidak mudah meninggalkan sidik jari. Desain sudut berbasis Golden Arc juga membuatnya terasa pas di telapak tangan, tidak tajam, tetapi tetap tegas secara visual.

Soal ketahanan, sudah ada sertifikasi IP68 serta perlindungan Xiaomi Shield Glass 3.0 yang diklaim 20 kali lebih tahan jatuh dibanding kaca biasa.

Pilihan warnanya terdiri dari Black, Venture Green, Alpine Pink, dan Ice Blue. Untuk keamanan, sensor sidik jari ultrasonic di bawah layar memberikan proses unlock yang cepat dan tetap akurat bahkan saat jari sedikit basah, sesuatu yang biasanya masih jadi kelemahan sensor optik konvensional.

8. Konektivitas Lengkap plus Fitur Komunikasi Tanpa Sinyal

Untuk urusan konektivitas, Xiaomi 17 bisa dibilang sangat komplet. Dukungan Wi-Fi 7 sudah tersedia untuk koneksi internet yang lebih cepat dan stabil. Bluetooth 6 juga hadir dengan dukungan codec seperti aptX HD, aptX Adaptive, dan LHDC 5 untuk kualitas audio nirkabel yang lebih baik.

Tidak ketinggalan NFC, USB 3.2 Gen 1, hingga infrared port yang masih dipertahankan dan bisa difungsikan sebagai remote universal.

Dukungan 5G-nya pun luas, dengan kompatibilitas pita frekuensi di lebih dari 210 negara. Artinya, Xiaomi 17 relatif aman untuk dibawa bepergian ke luar negeri tanpa perlu khawatir soal jaringan.

Fitur yang paling unik adalah Xiaomi Offline Communication. Fitur ini memungkinkan pengguna melakukan panggilan dan mengirim pesan dalam radius lebih dari 1 kilometer tanpa sinyal seluler. Sistemnya memanfaatkan SIM yang sudah terdaftar dan bekerja dalam skema komunikasi antarperangkat yang kompatibel.

Dalam kondisi darurat atau saat berada di area terpencil tanpa jaringan, fitur ini bisa sangat membantu. Menariknya, jangkauan dan kestabilannya bisa meningkat seiring bertambahnya perangkat lain di sekitar yang juga mendukung fitur serupa.

Kekurangan Xiaomi 17

1. Inkonsistensi Warna Antar Kamera

Meski kualitas kameranya tergolong bagus, Xiaomi 17 tetap punya catatan kecil di sektor ini. Salah satu yang cukup terasa adalah inkonsistensi warna saat berpindah lensa.

Ketika beralih dari kamera utama ke ultrawide atau telefoto, karakter warna dan eksposurnya bisa tampak berbeda. Kamera utama cenderung menghasilkan tone yang lebih hangat dengan kontras yang terasa natural. Sementara itu, kamera ultrawide dan telefoto kadang menampilkan keseimbangan warna serta tingkat kontras yang sedikit berbeda.

Perbedaannya memang tidak ekstrem, tetapi cukup terlihat jika dibandingkan berdampingan. Catatan ini juga muncul berulang di sejumlah ulasan.

Kamera depan pun menunjukkan karakter yang tidak sepenuhnya sama dengan tiga kamera belakang. Reproduksi warnanya cenderung lebih lembut, meski sama-sama memakai sensor 50 MP. Perbedaan sudut pandang dan pemrosesan software tampaknya memengaruhi hasil akhirnya.

Bagi pengguna yang sering berpindah lensa dalam satu sesi pemotretan, mungkin perlu sedikit penyesuaian saat editing agar tone fotonya tetap konsisten.

2. Telefoto 2,6x yang Terasa Kurang Agresif

Jika dibandingkan dengan Xiaomi 17 Ultra yang membawa telefoto 200 MP dengan rentang 75-100 mm, kamera telefoto di Xiaomi 17 versi standar memang terlihat lebih sederhana. Sensor yang digunakan tetap 50 MP, tetapi pembesaran optisnya hanya 2,6x atau setara 60 mm.

Sebenarnya, lensa mengambangnya punya nilai plus karena bisa fokus hingga jarak 10 cm. Artinya, kamera ini cukup fleksibel untuk kebutuhan macro tanpa sensor tambahan. Namun untuk ukuran flagship tahun 2026, zoom 2,6x terasa kurang ambisius. Apalagi jika melihat iPhone 17 Pro yang sudah menawarkan telefoto 5x sebagai standar di kelasnya.

Beberapa pengujian juga mencatat bahwa sistem kamera Xiaomi 17 tidak mengalami lonjakan besar dibanding dua generasi sebelumnya. Bahkan, kamera ultrawide-nya disebut mengalami sedikit penurunan dibanding Xiaomi 15. Di atas 10x zoom, kualitas gambar mulai turun cukup signifikan. Bagi pengguna yang sering memotret subjek jarak jauh, keterbatasan ini bisa terasa dalam pemakaian sehari-hari.

3. HyperOS yang Masih Perlu Banyak Perbaikan

xiaomi 17

HyperOS 3 berbasis Android 16 berjalan cepat dan stabil secara teknis, tapi sebagai antarmuka harian, ia masih tertinggal dari One UI Samsung, ColorOS Oppo, maupun OriginOS vivo.

PhoneArena memberinya nilai paling rendah dari semua kategori pengujian (6,0 dari 10) dan menyebutnya terasa "terjebak di 2021," dengan beberapa keputusan desain yang aneh, bug yang masih ada, dan sejumlah hal yang perlu dibiasakan terlebih dahulu sebelum bisa dinikmati.

HyperOS juga secara terasa menyembunyikan beberapa fitur Android bawaan seperti Extra Dim dan menggantinya dengan implementasi sendiri yang tidak selalu lebih baik. Bagi pengguna yang baru pertama kali memegang ponsel Xiaomi, kurva belajar antarmuka ini cukup curam.

4. Tidak Ada Charger di Dalam Kotak Penjualan

Dengan harga mulai Rp14.999.000, Xiaomi 17 jelas diposisikan di segmen premium. Namun, seperti banyak ponsel kelas atas saat ini, perangkat ini tidak dibekali kepala charger di dalam kotak penjualan. Kebijakan ini bukan hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga di pasar global tempat Xiaomi 17 dipasarkan secara resmi.

Untuk unit yang dijual di Indonesia, isi kotaknya tergolong standar. Pembeli hanya mendapatkan unit ponsel, kabel USB-C, silicon case, SIM ejector tool, serta dokumen seperti panduan pengguna dan kartu garansi. Kepala adaptor pengisian daya dijual terpisah.

Padahal, Xiaomi 17 mendukung fast charging hingga 100W dan wireless charging 50W. Untuk menikmati kecepatan maksimal tersebut, pengguna perlu membeli adaptor yang kompatibel secara terpisah, baik dari Xiaomi maupun merek lain yang sudah mendukung Power Delivery dan PPS (Programmable Power Supply).

Dalam konteks ini, absennya charger memang terasa sedikit mengurangi nilai jual, mengingat teknologi pengisian cepat menjadi salah satu keunggulan utama yang ditawarkan.

Di segmen harga tempat iPhone dan Samsung Galaxy S menjadi pesaing langsung, tidak menyertakan charger untuk teknologi pengisian yang menjadi andalan justru memperlemah proposisi nilainya. Pengguna yang ingin menikmati kecepatan penuh perlu memiliki charger PPS yang kompatibel secara terpisah, atau membeli aksesori tambahan dari Xiaomi.

Simpulan

Xiaomi 17 membuktikan bahwa compact flagship masih bisa tampil tanpa kompromi besar. Baterai 6.330 mAh yang sangat awet, performa Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang kencang, serta layar LTPO AMOLED yang terang dan tajam jadi tiga kekuatan utamanya.

Memang ada catatan seperti zoom 2,6x yang kurang agresif, HyperOS yang belum sepenuhnya matang, dan absennya charger dalam kotak. Namun secara keseluruhan, di kelas Rp15 jutaan, Xiaomi 17 adalah pilihan compact yang sulit ditandingi, terutama jika daya tahan baterai dan performa jadi prioritas utama.

Jadikan Carisinyal sebagai favoritmu di Google
google_preferred_source
cross