Badai Harga Memori 2026: 3 Brand Ponsel Ini Paling Rentan

Lonjakan harga komponen memori yang belum pernah terjadi sebelumnya kini mengubah lanskap industri smartphone secara fundamental. Riset terbaru Counterpoint Research mengungkap bahwa biaya produksi ponsel di seluruh segmen pasar tengah melonjak signifikan, dan konsumen di seluruh dunia akan merasakannya langsung di dompet mereka.
Ketika AI "Mencuri" Memori dari Ponselmu
Krisis ini bermula dari ledakan permintaan infrastruktur AI. Pusat data raksasa milik perusahaan teknologi global berlomba-lomba menyerap pasokan chip memori, sehingga pabrikan smartphone harus bersaing ketat memperebutkan sisa kapasitas yang tersedia.
Memory Price Tracker dari Counterpoint mencatat biaya RAM mobile melonjak 50% dalam satu kuartal, sementara harga penyimpanan NAND melejit lebih dari 90% secara kuartalan.
Ponsel Murah Paling Terpukul

Segmen entry-level menjadi yang paling terdampak. Produsen ponsel kelas bawah dengan RAM 6GB dan penyimpanan 128GB kini harus mengalokasikan hingga 43% dari total biaya produksi hanya untuk komponen memori, naik 25% dibanding kuartal sebelumnya. Segmen menengah pun tidak luput, dengan biaya RAM diperkirakan naik hingga 20% pada kuartal kedua 2026.
Counterpoint memperkirakan ponsel kelas bawah akan naik sekitar 30 dolar AS, sementara ponsel premium berpotensi mengalami kenaikan harga antara 150 hingga 200 dolar AS. Secara global, rata-rata harga jual smartphone diperkirakan naik hampir 7% sepanjang tahun ini.
Tiga Brand yang Paling Perlu Waspada
Counterpoint menyebut Apple dan Samsung sebagai yang paling siap menghadapi tekanan ini berkat skala bisnis besar, portofolio premium yang luas, serta integrasi vertikal yang kuat.
Sebaliknya, tiga produsen asal China justru masuk dalam daftar merah. HONOR, OPPO, dan vivo disebut menghadapi tekanan revisi prospek yang paling berat karena ketergantungan tinggi pada segmen mid-range dan entry-level, dua segmen yang paling babak belur dihantam kenaikan harga memori ini.
Senior Analis Counterpoint Shenghao Bai menegaskan bahwa para OEM yang sangat bergantung pada model entry-level untuk mendongkrak pangsa pasar menghadapi risiko kerugian jangka pendek yang nyata sepanjang 2026.
Lalu Bagaimana dengan Xiaomi?
Counterpoint tidak menyebut secara spesifik nasib Xiaomi dalam laporan ini. Namun dari berbagai sumber lain, gambaran yang muncul cukup mengkhawatirkan. Presiden Xiaomi Lu Weibing bahkan sudah memperingatkan sejak akhir 2025 bahwa harga ponsel mereka akan ikut naik akibat krisis memori ini.
IDC menilai Xiaomi sebagai salah satu brand dengan model bisnis margin tipis yang paling terekspos, mengingat pangsa pasar terbesarnya justru bertumpu di segmen mid-range, bukan premium.
Xiaomi 17 Ultra memang diluncurkan dengan harga yang dijaga stabil, namun para analis menilai strategi itu sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Satu sinyal menarik muncul dari India, di mana Xiaomi mulai agresif mendorong segmen premium sebagai strategi bertahan dari tekanan biaya yang terus meningkat.
