Review GEEKOM A5: Mini PC Ringkas yang Bertenaga untuk Kerja Harian
Mini PC sering dianggap sebagai solusi serba tanggung. Ukurannya kecil dan hemat daya, tetapi performanya kerap diragukan untuk kebutuhan kerja yang serius. Padahal, seiring berkembangnya prosesor modern, Mini PC kini sudah jauh lebih mampu dibanding beberapa tahun lalu.
Salah satu contohnya adalah GEEKOM A5, sebuah Mini PC ringkas yang mencoba menawarkan keseimbangan antara performa, efisiensi, dan kepraktisan dalam satu paket kecil. Perangkat ini merupakan Mini PC yang sudah dibekali prosesor Ryzen 7 5825U,
Harganya berada di kisaran Rp6 jutaan. Yang lebih menarik, GEEKOM A5 sudah mengusung Windows 11 Pro, yang berarti tidak perlu beli lisensinya lagi.
Lantas, bagaimana performa PC mini ini? Untuk menjawabnya, saya mencoba menggunakan Mini PC ini sebagai perangkat harian, mulai dari kerja kantoran, multitasking berat, editing ringan, hingga bermain game populer sebagai selingan, untuk melihat sejauh mana perangkat kecil seperti ini bisa diandalkan dalam penggunaan nyata.
Spesifikasi GEEKOM A5

| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Prosesor | AMD Ryzen 7 5825U (8 Core / 16 Thread, hingga 4,5 GHz) |
| Grafis | AMD Radeon Vega 8 |
| RAM | 16 GB DDR4 Dual Channel |
| Penyimpanan | SSD NVMe 512 GB |
| Slot Upgrade | 2x RAM, M.2 NVMe, M.2 SATA, HDD/SSD 2,5 inci |
| Sistem Operasi | Windows 11 Pro |
| Konektivitas | LAN 2.5 GbE, Wi-Fi 6, Bluetooth 5.2 |
| Port | HDMI, USB-A, USB-C, Audio Jack, SD Card Reader |
| Pendinginan | IceBlast 2.0 |
| Konsumsi Daya | ±7–10 W (idle), ±45–55 W (load) |
| Bahan Bodi | Aluminium alloy dengan rangka logam |
| Dimensi | ±112 × 112 × 37 mm |
| Warna | Perak |
Isi Kotak

Saat pertama kali membuka kotak GEEKOM A5, kesan yang saya dapat adalah pendekatan yang sederhana tapi rapi. Semua tertata dengan bersih tanpa aksesori berlebihan. Unit Mini PC-nya sendiri ditempatkan di bagian tengah dan dilindungi busa berdensitas tinggi, jadi selama perjalanan pengiriman rasanya aman sekali dari benturan.
Di bawah kompartemen utama, saya menemukan adaptor daya model brick dengan output 65–90 Watt. Ukurannya tidak besar, mirip charger laptop tipis, sehingga tidak membuat meja terlihat penuh kabel.
GEEKOM juga menyertakan kabel HDMI bawaan yang sudah mendukung resolusi 4K. Ini detail kecil tetapi penting, karena pengguna bisa langsung menyalakan perangkat dan menghubungkannya ke monitor tanpa perlu membeli kabel tambahan.
Lalu ada pelat VESA Mount berbahan logam yang terasa kokoh. Aksesori ini memungkinkan Mini PC ditempelkan di belakang monitor yang kompatibel, menciptakan tampilan ala PC All-in-One yang rapi dan hemat ruang. Untuk setup meja minimalis, aksesori ini terasa sangat berguna.

Paket penjualan ditutup dengan buku panduan manual dan kartu garansi. Semuanya tersusun rapi dan mudah diakses, membuat pengalaman unboxing terasa ringkas dan nyaman tanpa membingungkan pengguna baru.
Desain dan Build Quality

Ini pertama kalinya saya kembali benar-benar tertarik memegang Mini PC setelah sekian lama. Biasanya, perangkat sejenis hanya meninggalkan kesan sebagai kotak kecil yang fungsional tapi kurang menarik.
Namun kesan itu berubah ketika melihat dan memegang langsung GEEKOM A5. Bentuknya ringkas dengan volume sekitar 0,6 liter, dan ketika diletakkan di meja kerja yang tidak terlalu luas, kehadirannya terasa pas tanpa membuat area kerja terlihat sesak.
Secara tampilan, GEEKOM A5 hadir dalam satu pilihan warna utama, yaitu perak. Warna ini memberi kesan bersih dan profesional, cocok untuk lingkungan kerja maupun meja belajar. Bodinya sendiri terbuat dari paduan aluminium (aluminium alloy), bukan plastik biasa.
Saat disentuh dan diangkat, kesan premium langsung terasa. Material metal ini juga punya peran penting dalam membantu pelepasan panas, sehingga perangkat tetap adem saat digunakan dalam waktu lama.
Di balik bodi luarnya, GEEKOM A5 diperkuat oleh rangka logam internal yang berfungsi sebagai penopang struktur. Kombinasi sasis aluminium dan rangka logam ini membuat Mini PC terasa kokoh, tidak ringkih seperti yang sering diasosiasikan dengan perangkat kecil.
Bahkan secara spesifikasi, struktur rangkanya disebut mampu menahan beban yang sangat besar, jauh melampaui penggunaan normal sehari-hari. Meski tentu tidak akan ada yang menaruh beban berat di atasnya, informasi ini setidaknya memberi gambaran soal ketahanan desainnya dalam jangka panjang.

Dari sisi pengerjaan, detail-detail kecilnya juga rapi. Tidak ada bagian yang terasa longgar, celah antar panel tertutup rapat, dan finishing keseluruhan terlihat matang. Ini bukan Mini PC yang terasa “murah” saat dipegang. Justru sebaliknya, GEEKOM A5 memberi kesan sebagai perangkat yang memang dirancang untuk dipakai lama, baik di rumah maupun di lingkungan kerja.
Secara keseluruhan, desain dan kualitas bangun GEEKOM A5 berhasil mematahkan stigma Mini PC sebagai perangkat sekunder yang seadanya. Ukurannya memang kecil, tetapi rasa kokoh, material premium, dan pengerjaan yang rapi membuatnya terasa seperti komputer utama yang serius, hanya saja dalam format yang jauh lebih ringkas.
Port, Konektivitas, dan Opsi Upgrade

Untuk urusan port, GEEKOM A5 termasuk Mini PC yang terasa niat dan tidak asal lengkap. Tata letaknya juga praktis, sehingga port yang sering dipakai mudah dijangkau tanpa harus memutar perangkat.
Di bagian depan, tersedia dua USB 3.2 Gen 2 Type-A, salah satunya mendukung pengisian daya saat perangkat berada di mode sleep. Ada juga jack audio 3,5 mm dan tombol power, kombinasi yang pas untuk penggunaan harian.

Di sisi samping, terdapat SD Card Reader ukuran penuh. Fitur ini mungkin terlihat sepele, tetapi sangat membantu bagi pengguna yang sering memindahkan file dari kamera atau perangkat lain tanpa harus bergantung pada dongle tambahan.
Bagian belakang menjadi pusat konektivitas utama, dengan susunan port sebagai berikut:
- 2x HDMI 2.0b untuk output tampilan hingga 4K
- 2x USB 3.2 Gen 2 Type-C yang mendukung DisplayPort Alt Mode
- 1x USB 3.2 Gen 2 Type-A
- 1x USB 2.0 Type-A
- 1x RJ45 2.5 GbE LAN
- DC-In sebagai input daya

Dengan kombinasi ini, GEEKOM A5 mampu menghidupkan hingga empat monitor secara bersamaan, dua melalui HDMI dan dua lainnya lewat USB-C. Untuk kebutuhan kerja dengan banyak layar, konfigurasi seperti ini jelas sangat menguntungkan.
Untuk konektivitas nirkabel, Mini PC ini sudah dibekali Wi-Fi 6 dan Bluetooth 5.2 bawaan. Desain antena internalnya menggunakan konsep 3D antenna yang ditujukan untuk memperluas jangkauan sinyal.
Dalam penggunaan nyata, kecepatan Wi-Fi tergolong kencang, meskipun stabilitasnya kadang tidak sekonsisten modul Intel karena masih menggunakan chipset Realtek. Untungnya, modul Wi-Fi ini bersifat replaceable, jadi masih bisa di-upgrade jika dibutuhkan.
Dari sisi keamanan fisik, GEEKOM A5 juga menyediakan slot Kensington Lock, fitur kecil yang cukup relevan untuk penggunaan di kantor atau ruang kerja bersama.
Masuk ke opsi upgrade, inilah salah satu nilai jual terbesarnya. Akses ke bagian dalam sangat mudah dan ramah pengguna. Untuk penyimpanan, opsinya juga lengkap sekali, yaitu:
- Slot SSD M.2 PCIe NVMe sebagai media utama, yang bisa diganti ke kapasitas lebih besar seperti 1 TB atau 2 TB
- Slot M.2 SATA (opsional) untuk menambah SSD kedua, tergantung konfigurasi unit
- Slot HDD atau SSD SATA 2,5 inci lengkap dengan konektornya, cocok untuk menambah penyimpanan massal berkapasitas besar dengan biaya lebih terjangkau

Selain itu, tersedia dua slot SO-DIMM DDR4 dual-channel yang mendukung kapasitas RAM hingga 64 GB. Fleksibilitas ini membuat GEEKOM A5 tidak hanya nyaman dipakai saat pertama kali dibeli, tetapi juga siap mengikuti kebutuhan pengguna dalam jangka panjang.
Dengan kelengkapan port, konektivitas yang matang, serta opsi upgrade yang luas, GEEKOM A5 terasa seperti Mini PC yang dirancang serius untuk penggunaan jangka panjang, bukan sekadar perangkat ringkas untuk kebutuhan sementara.
Performa

Untuk urusan performa, GEEKOM A5 ditenagai oleh AMD Ryzen 7 5825U, prosesor 8 core dan 16 thread berbasis arsitektur Zen 3. Prosesor ini dipadukan dengan grafis terintegrasi Radeon Vega 8, tanpa GPU diskrit tambahan.
Kombinasi CPU dan iGPU ini memang dirancang untuk efisiensi dan produktivitas, bukan untuk mengejar performa grafis ekstrem. Namun di kelas Mini PC, konfigurasi seperti ini masih tergolong sangat kuat dan seimbang.
Hasil pengujian yang saya lakukan menunjukkan bahwa karakter tersebut benar-benar terasa dalam penggunaan nyata. Pada PCMark 10, GEEKOM A5 mencatat skor keseluruhan 5.546 poin. Skor Essentials yang mencapai 9.783 poin menunjukkan performa yang sangat responsif untuk aktivitas dasar seperti membuka aplikasi, browsing, dan video conference.

Di kategori Productivity, skor 9.042 poin menandakan kemampuan yang solid untuk pekerjaan kantoran, termasuk mengolah dokumen dan spreadsheet. Sementara itu, skor Digital Content Creation di 5.235 poin memperlihatkan bahwa Mini PC ini masih sanggup menangani editing foto dan video ringan dengan cukup nyaman.
Pengujian Geekbench 6 CPU memperkuat gambaran tersebut. Skor 1.886 poin untuk single-core membuat sistem terasa sigap dalam penggunaan harian, sedangkan skor 7.252 poin untuk multi-core memberi ruang yang lega untuk multitasking dan proses komputasi yang lebih berat di kelasnya.

Tambahan pengujian prosesor juga saya lakukan menggunakan Cinebench R23 untuk melihat performa CPU dalam skenario beban berat yang lebih berkelanjutan. Pada pengujian multi-core, Ryzen 7 5825U di GEEKOM A5 mencatat skor 7.850 poin, angka yang tergolong solid untuk prosesor hemat daya di kelas Mini PC.
Skor ini menunjukkan bahwa performa multi-core-nya masih cukup kuat untuk tugas seperti rendering ringan dan multitasking intens.
Sementara itu, pada pengujian single-core, skor awal yang saya dapat berada di angka 1.433 poin. Namun setelah pengujian dijalankan berulang kali, skornya mengalami penurunan ke 1.366, 1.396, 1.359, dan 1.346 poin. Meski terjadi penurunan, performanya tetap konsisten di kisaran 1.300-an, yang masih tergolong wajar untuk Mini PC dengan batas daya dan sistem pendinginan seperti ini.

Tambahan pengujian prosesor juga saya lakukan menggunakan Cinebench R23 untuk melihat performa CPU dalam skenario beban berat yang lebih berkelanjutan. Pada pengujian multi-core, Ryzen 7 5825U di GEEKOM A5 mencatat skor 7.850 poin, angka yang tergolong solid untuk prosesor hemat daya di kelas Mini PC.
Skor ini menunjukkan bahwa performamulti-core-nya masih cukup kuat untuk tugas seperti rendering ringan dan multitasking intens.
Sementara itu, pada pengujian single-core, skor awal yang saya dapat berada di angka 1.433 poin. Namun setelah pengujian dijalankan berulang kali, skornya mengalami penurunan ke 1.366, 1.396, 1.359, dan 1.346 poin. Meski terjadi penurunan, performanya tetap konsisten di kisaran 1.300-an, yang masih tergolong wajar untuk Mini PC dengan batas daya dan sistem pendinginan seperti ini.
Untuk sisi grafis, Geekbench 6 GPU mencatat skor 14.300 poin pada tes OpenCL dan 12.332 poin pada tes Vulkan. Angka ini menegaskan bahwa Radeon Vega 8 masih memadai untuk multimedia, akselerasi aplikasi kreatif ringan, dan gaming kasual, tetapi memang bukan untuk game berat atau pekerjaan grafis kompleks.

Soal AI, penting untuk meluruskan ekspektasi sejak awal. GEEKOM A5 bukanlah Copilot+ PC. Perangkat ini tidak memiliki NPU (Neural Processing Unit), padahal salah satu syarat utama Copilot+ PC adalah kemampuan komputasi AI hingga 45 TOPS yang hanya bisa dicapai dengan NPU khusus. Jadi jangan berharap fitur-fitur AI eksklusif Copilot+ PC berjalan optimal di sini.
Meski begitu, bukan berarti GEEKOM A5 tidak bisa menjalankan aplikasi berbasis AI sama sekali. Tanpa NPU, perangkat ini tetap dapat menjalankan fitur AI dengan memanfaatkan CPU Ryzen 7 5825U dan GPU Radeon Vega 8.
Dari hasil benchmark AI yang saya jalankan, terlihat bahwa Mini PC ini masih mampu menangani tugas AI ringan seperti inferensi dasar, fitur AI di aplikasi kreatif, atau sekadar eksperimen dan pembelajaran. Hanya saja, kinerjanya tentu tidak seefisien atau secepat PC yang memang dirancang sebagai “AI PC” dengan NPU terintegrasi.

Kesimpulannya, performa GEEKOM A5 sangat konsisten dengan tujuan awal perangkat ini. Ia bukan Mini PC yang mengejar tren Copilot+ atau AI ekstrem, melainkan fokus pada produktivitas nyata, efisiensi daya, dan performa stabil untuk penggunaan sehari-hari.
Untuk pekerjaan kantor, multitasking, editing ringan, hingga eksplorasi AI skala kecil, performanya terasa relevan dan realistis. Inilah yang membuat GEEKOM A5 tetap menarik bagi pengguna yang ingin Mini PC ringkas dan bertenaga, tanpa harus masuk ke kelas perangkat AI khusus yang jauh lebih mahal.
Test Gaming

Untuk pengujian game, saya hanya mencoba dua judul, yaitu PUBG Battlegrounds dan Genshin Impact. Pemilihannya cukup sederhana karena kedua game ini tergolong populer dan mewakili dua karakter beban yang berbeda. PUBG dikenal cukup berat karena menuntut kinerja CPU dan GPU sekaligus, sementara Genshin Impact lebih ramah dan sering dijadikan tolok ukur untuk perangkat kelas menengah.
Pada PUBG Battlegrounds, pengujian saya lakukan dengan pengaturan grafis yang benar-benar diturunkan agar game bisa berjalan seoptimal mungkin. Pengaturan yang digunakan adalah Overall Graphics Quality di Very Low, anti-aliasing, shadows, textures, effects, foliage, hingga view distance semuanya diset ke Very Low. Render scale berada di 100%, dengan FPS camera FOV di angka 90, dan V-Sync dimatikan.
Dengan konfigurasi seperti ini, PUBG memang masih bisa dijalankan di GEEKOM A5, tetapi pengalamannya tergolong cukup playable namun jauh dari nyaman. Frame rate tidak sepenuhnya stabil, terutama saat berada di area dengan banyak bangunan atau ketika terjadi baku tembak.
Untuk sekadar mencoba atau bermain santai, game ini masih bisa dinikmati, tetapi jelas bukan untuk permainan kompetitif atau sesi bermain panjang.
Selain itu, selama bermain PUBG dengan pengaturan tersebut, beban kerja pada prosesor dan iGPU terasa cukup berat. Dalam sesi tertentu, suhu prosesor bisa naik dan menyentuh kisaran 80 derajat Celsius, yang masih tergolong aman, tetapi menunjukkan bahwa PUBG memang memaksa kemampuan Mini PC ini hingga batasnya.
Pengalaman yang lebih konsisten justru saya rasakan saat memainkan Genshin Impact. Game ini saya jalankan dengan pengaturan grafis rendah seperti yang terlihat pada gambar, menggunakan resolusi 1366 x 768, render resolution di angka 0.8, serta batas frame rate 30 FPS dengan V-Sync aktif.
Dengan konfigurasi tersebut, Genshin Impact dapat berjalan cukup stabil di 30 FPS. Eksplorasi dunia dan pertarungan harian terasa relatif mulus tanpa gangguan berarti.

Tentu saja, ada kompromi yang harus diterima dari sisi visual. Detail lingkungan, bayangan, dan efek visual berada di level terendah. Namun dengan pengaturan ini, Genshin Impact masih nyaman dimainkan sebagai hiburan ringan, terutama jika tidak mengejar kualitas grafis tinggi.
Dari pengujian ini, semakin jelas bahwa GEEKOM A5 bukan Mini PC yang ditujukan untuk gaming berat. Namun untuk game populer tertentu dengan pengaturan grafis yang disesuaikan, perangkat ini masih bisa diajak bermain sebagai selingan. Selama ekspektasinya realistis, pengalaman bermainnya masih bisa dinikmati tanpa harus memaksakan kemampuan perangkat.
SSD dan Tes Render Video

Untuk urusan penyimpanan, GEEKOM A5 dibekali SSD M.2 2280 berkapasitas 512 GB yang menggunakan antarmuka PCIe Gen 3x4 NVMe. Meski di atas kertas masih Gen 3, performanya ternyata tidak bisa dianggap remeh.
Berdasarkan pengujian CrystalDiskMark yang saya lakukan sendiri, SSD bawaan ini mencatatkan kecepatan sequential read hingga 3.618 MB/s dan sequential write di angka 2.584 MB/s. Angka ini bahkan sudah menyentuh batas atas kemampuan PCIe Gen 3.
Untuk pengujian sequential Q1T1, kecepatannya berada di kisaran 2.203 MB/s (read) dan 2.135 MB/s (write). Sementara untuk akses acak (random), performanya masih tergolong wajar untuk SSD kelas ini dan cukup responsif untuk penggunaan harian.
Dalam penggunaan nyata, performa SSD ini terasa kencang. Proses booting Windows, membuka aplikasi, hingga memindahkan file berukuran besar berjalan cepat tanpa jeda yang mengganggu. Untuk Mini PC yang mengutamakan efisiensi dan kestabilan suhu, kombinasi kecepatan tinggi dan karakter yang relatif adem ini terasa pas.
Saya juga menguji kemampuan penyimpanan ini dalam skenario nyata yang lebih menuntut, yaitu video editing ringan. Pengujian dilakukan dengan merender video berdurasi 5 menit dari resolusi 4K ke 1080p 30 fps menggunakan Filmora dan CapCut.

Hasilnya, proses render di CapCut memakan waktu sekitar 10 menit 34 detik, sementara Filmora mampu menyelesaikan tugas yang sama dalam 5 menit 45 detik. Perbedaan waktu ini wajar mengingat optimasi masing-masing aplikasi yang memang berbeda.
Berdasarkan hasil tersebut, performa SSD dan kemampuan render GEEKOM A5 masih tergolong solid untuk kelas Mini PC. Untuk editing video 1080p hingga konversi 4K ringan, perangkat ini masih sanggup diandalkan. Memang bukan yang tercepat, tetapi jelas tidak bisa dibilang lambat, apalagi jika dibandingkan dengan laptop kelas entry hingga menengah.
Konsumsi Daya

Untuk urusan konsumsi daya, saya memang tidak mengukur langsung berapa watt yang ditarik GEEKOM A5 selama pemakaian. Namun berdasarkan berbagai sumber tepercaya, Mini PC ini dikenal sangat efisien.
Dalam kondisi idle atau saat hanya digunakan untuk aktivitas ringan, konsumsi dayanya berada di kisaran 7 sampai 10 Watt. Angka ini tergolong sangat kecil untuk sebuah komputer lengkap yang sudah menjalankan Windows 11 Pro dan siap digunakan kapan saja.
Jika dibandingkan dengan PC desktop yang menggunakan GPU diskrit seperti perangkat yang saya pakai sehari-hari, perbedaannya terasa cukup jauh. Desktop tradisional biasanya bisa menarik ratusan Watt hanya untuk menjaga performa tetap stabil. Karena itu,
Mini PC seperti GEEKOM A5 terasa lebih masuk akal untuk penggunaan jangka panjang, bahkan untuk skenario menyala terus-menerus. Konsumsi dayanya tidak membuat tagihan listrik terasa berat, sehingga cocok dipakai sebagai PC kerja harian atau komputer rumahan.
Selain efisiensinya yang mengesankan, hal lain yang langsung saya rasakan adalah tingkat kebisingannya. Perangkat ini cenderung hening. Kipasnya memang sesekali terdengar saat beban kerja meningkat, tetapi suaranya masih jauh lebih tenang dibanding PC desktop saya yang memakai GPU diskrit.
Jika dibandingkan laptop gaming atau laptop yang sedang berada di mode performance, suara kipas GEEKOM A5 juga terasa lebih jinak. Saat dipakai untuk kerja ringan, suaranya hampir tidak terdengar, sehingga pengalaman penggunaan terasa nyaman, terutama di ruang kerja yang tenang.
Simpulan

GEEKOM A5 berhasil mengambil posisi yang pas sebagai Mini PC yang kompeten dan seimbang antara harga, performa, dan efisiensi. Perangkat ini memang bukan yang paling kencang di pasaran, tetapi kombinasi Ryzen 7 5825U dan konfigurasi yang matang membuatnya terasa responsif dan nyaman digunakan dalam berbagai skenario kerja harian.
GEEKOM A5 juga tersedia dalam varian dengan spesifikasi lebih tinggi bagi pengguna yang membutuhkan performa ekstra. Varian ini hadir dengan RAM 32 GB DDR4 dan SSD NVMe 1 TB dengan harga yang sedikit lebih tinggi.
Kamu bisa membeli varian ini di berbagai toko online seperti Shopee atau TikTok Shop. Menariknya, tersedia juga kode promosi GEEKA512 yang bisa digunakan untuk mendapatkan harga lebih hemat saat checkout. Untuk membeli produknya, bisa dicek pada tautan ini.
- Link Produk GEEKOM A5 di Shopee
- Link Produk 1 GEEKOM A5 di TikTok Shop
- Link Produk 2 GEEKOM A5 di TikTok Shop
Sebagai info tambahan, unit GEEKOM A5 juga dibekali garansi resmi 3 tahun dan sudah memiliki service center di Jakarta. GEEKOM sendiri bukan perusahaan abal-abal, karena mereka merupakan perusahaan multinasional yang berdiri sejak 2003 dan memang fokus mengembangkan Mini PC. Karena itu, kamu tidak perlu lagi sual kualitas GEEKOM.
Sebagai contoh produk menariknya, GEEKOM A5 ternyata membuktikan bahwa kamu tidak perlu merakit PC besar atau membeli laptop mahal untuk mendapatkan komputer ringkas yang andal dan rapi di meja kerja.
Kelebihan
- Performa CPU kuat di kelasnya, berkat prosesor Ryzen 7 5825U dengan 8 core Zen 3 yang sangat mendukung multitasking.
- RAM 16 GB DDR4 dan SSD NVMe 512 GB, sudah cukup lega untuk penggunaan harian tanpa perlu upgrade awal.
- Proses upgrade relatif mudah, karena RAM dan storage masih bisa di-upgrade sesuai kebutuhan ke depan.
- Sudah terpasang Windows 11 Pro bawaan, sehingga siap dipakai kerja tanpa perlu instal sistem operasi ulang.
- Dukungan multi-monitor yang fleksibel, cocok untuk meningkatkan produktivitas kerja.
- Desain ringkas dengan build quality kokoh, berkat bodi aluminium dan rangka logam internal.
Adanya SD Card reader full-size, yang praktis untuk kreator tanpa perlu dongle tambahan.
Kekurangan
- Bukan perangkat untuk gaming berat, karena performa grafis Radeon Vega 8 terbatas untuk game kasual.
- Tidak tersedia USB4 atau Thunderbolt, sehingga tidak ada opsi penggunaan GPU eksternal.
- Modul Wi-Fi bawaan tergolong biasa saja, terutama bagi pengguna yang sensitif terhadap stabilitas jaringan.
- Tidak dilengkapi Microsoft Office, tetapi hal ini wajar untuk sebuah PC Mini dan bisa diinstal sesuai kebutuhan.
Untuk Siapa Perangkat Ini?
GEEKOM A5 sangat cocok untuk pekerja kantoran yang ingin meja tetap rapi dengan setup multi-monitor, mahasiswa, programmer, hingga kreator konten yang fokus pada editing ringan seperti CapCut atau Filmora. Mini PC ini juga menarik untuk pengguna rumahan yang butuh perangkat hemat daya, senyap, dan bisa menyala lama tanpa khawatir biaya listrik.
Sebaliknya, Mini PC ini kurang cocok untuk gamer yang ingin memainkan game berat dengan setting tinggi, atau profesional kreatif yang bekerja dengan footage 4K/8K RAW karena skenario seperti itu membutuhkan GPU diskrit dan sistem yang lebih bertenaga.
Dengan memahami kelebihan dan batasannya, GEEKOM A5 menjadi pilihan yang masuk akal bagi siapa pun yang menginginkan Mini PC ringkas, efisien, dan cukup bertenaga untuk produktivitas harian.
