Review POCO C85, Layar Mulus dengan Baterai Jumbo
Sekarang, ada banyak sekali pilihan untuk ponsel kelas entry dengan kualitas yang cukup menjual. Bahkan untuk kelas harga rendah yaitu Rp1 jutaan saja, termasuk POCO C85. Satu hal yang mungkin akan langsung bikin Anda tertarik adalah refresh rate-nya yang sudah bisa sampai 120 Hz.
POCO C85 juga memiliki baterai paling besar di serinya dengan kapasitas 6000 mAh. Daya tahannya yang awet membuat penggunaan jadi lebih lama setiap harinya. Tenang, ponsel ini masih punya kemampuan menarik di sektor lain. Hal yang jadi daya tarik utama dari produk Xiaomi bahkan untuk kelas entry.
Saya sudah menggunakan POCO C85 ini sekitar 2 minggu. Satu kata yang bisa menggambarkan selama pemakaiannya adalah “berkesan”. Sulit menerima kalau ponsel ini dijual di Rp1 jutaan saja. Penasaran seperti apa? Simak ulasannya berikut ini.
Spesifikasi POCO C85

| Layar | IPS LCD 6.9 inci |
| Chipset | Mediatek Helio G81 Ultra |
| RAM | 6 GB, 8 GB |
| Memori Internal | 128 GB, 256 GB |
| Baterai | Li-Po 6000 mAh |
| Cek Harga Saat Ini | Shopee Tiktok |
Isi Paket Penjualan

POCO C85 memiliki kotak penjualan yang “POCO banget” dengan warna kuning yang dominan. Tidak ada yang spesial dengan pengemasannya, hanya dihiasi oleh tulisan POCO dan POCO C85 di bagian depan. Di bagian sampingnya ada Xiaomi HyperOS, serta informasi spesifikasi yang lebih lengkap di bagian belakangnya.
Soal kelengkapan, Xiaomi atau POCO tidak pernah mengecewakan. Setidaknya pembeli akan dibuat puas ketika melakukan unboxing karena berbagai item yang dibutuhkan bisa ditemukan di dalamnya. Berikut adalah kelengkapan yang ada di kotak penjualannya POCO C85.
- Unit POCO C85
- Kepala charger 33W
- Kabel USB Type-C
- SIM Ejector
- Softcase bening
- Stiker eksklusif dari POCO
- Buku panduan dan kartu garansi
Salah satu hal yang sangat saya apresiasi dari Xiaomi adalah keputusannya untuk tetap membuat paket penjualan lengkap. Apalagi soal kepala charger yang kini mulai jarang ditemui di beberapa brand. Sayang softcase yang ada adalah versi bening yang mudah kotor. Mau tidak mau harus mencari softcase lain yang lebih proper dan tahan lama.
Tampilan Desain

POCO C85 hadir dengan tiga varian warna menarik yaitu Black, Purple, dan Green. Ketiganya memiliki pola desain yang sama saja, hanya warna yang membedakannya. Jika diperhatikan, ada dua tone warna yang dimiliki ponsel ini. Di bagian kiri atau yang lebih besar punya warna lebih cerah dengan kilauan yang lebih terlihat.
Sementara bagian kanan yang lebih kecil tampak lebih gelap dengan nama POCO C85 memakai font khusus. Meski begitu, semua bodi belakangnya ini punya finishing matte dan tidak ada pembatas yang terasa di antara tone warnanya yang berbeda.
Dengan finishing matte, bodinya jadi tidak mudah meninggalkan noda sidik jari. Tetap aman meski menggunakan ponsel tanpa case, apalagi hanya diberi case bening saja. Hanya saja, kepadatan bodi belakangnya ini tidak begitu solid dan sangat terasa berbahan plastik, harus hati-hati agar tidak terbentur.

Modul kamera POCO C85 berbentuk persegi yang sedikit panjang secara vertikal. Warnanya dibuat hitam seluruhnya. Di dalamnya terdapat satu kamera utama, sensor depth, dan LED flash. Tampilan desainnya ini jadi lebih minimalis dibandingkan POCO C75 yang pakai modul lingkaran besar di bagian tengah.
Soal kenyamanan genggam, tidak ada yang perlu dikomentari. Saya cukup merasa nyaman ketika menggenggam dengan satu tangan cukup lama. Ukuran dimensinya ini memang sedikit lebih besar, tapi ketebalannya hanya di 7,99 mm saja.
Menurut klaimnya, POCO C85 ini dibekali sertifikasi IP64. Sertifikasi ini hanya membuatnya tahan dari percikan air dan debu saja. Saya hanya mencoba mencipratkan air dengan jari ke ponsel hanya untuk sekadar melihat, bukan benar-benar menguji.
Layar dengan Refresh Rate 120 Hz

Rasanya, sektor layar jadi salah satu nilai jual utama yang dipunya oleh POCO C85. Kita bisa melihat dari ukurannya yang terbilang lega yaitu di 6,9 inci dengan panel IPS LCD. Jenis panel ini punya ketajaman cukup baik meski resolusinya ada di HD+ saja. Meski warnanya tidak lebih keluar dari AMOLED, saya merasa cukup nyaman melihat kualitasnya.
Ukuran layarnya juga membuat penggunaan terasa puas karena bisa muat banyak. Apalagi saat digunakan menonton film, bermain media sosial, atau bermain game. Ada tiga mode skema warna yang ditawarkan oleh POCO C85. Di antaranya Vivid sebagai skema warna default, Saturated dengan warna lebih kontras, dan Standard.

Satu hal yang menurut saya harus diapresiasi adalah dukungan refresh rate-nya. Dengan harga Rp1 jutaan saja, POCO C85 sudah mendukung refresh rate hingga 120 Hz. Jarang sekali ponsel di kelas harganya yang bisa sampai angka cukup tinggi. Dalam penggunaan langsungnya pun terasa mulus saat dipakai scrolling.
POCO C85 menyediakan pilihan terkait refresh rate ini. Yaitu bisa menggunakan opsi default yang lebih dinamis atau menyesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan. Bisa juga menguncinya di angka 60 Hz atau 120 Hz jika dibutuhkan.

Untuk kecerahan layarnya, POCO C85 menulis bahwa puncaknya hanya bisa mencapai angka 810 nit saja. Namun, ketika saya menggunakan di luar ruangan yang cerah, layar tetap bisa dilihat dengan baik. Selama tidak terkena langsung oleh cahaya matahari, tulisan atau gambar pada layar tetap bisa dibaca.
Penggunaan di dalam ruangan juga terasa nyaman, terutama di ruangan dengan cahaya redup atau gelap. Tidak jarang saya menggunakan ponsel ini dengan kondisi lampu kamar mati. Sertivikasi TUV Rheinland serta DC Dimming yang dibawanya membuat mata jadi tidak mudah lelah.
Layar POCO C85 dibekali fitur Wet Touch 2.0. Fitur ini diklaim mampu membuat layar tetap bisa beroperasi meski dalam keadaan basah. Benar saja, meski jari saya basah atau ada percikan air di layar, sensor touchscreen tetap merespons dengan baik. Hal ini menarik asal tidak terlalu banyak terkena air karena hanya punya sertifikasi IP64 saja.
Kualitas Audio

Aktivitas menonton dengan layar yang lega memang sudah cukup memuaskan. Namun, kepuasan itu rasanya kurang lengkap karena POCO C85 hanya memiliki satu lubang speaker saja alias mono. Hal ini mungkin jadi salah satu catatan yang dimiliki sang ponsel.
Meski begitu, saya bisa memaklumi kekurangan ini karena lagi-lagi kelas harganya hanya berada di Rp1 jutaan saja. Kualitas suara yang dihasilkan ketika scrolling media sosial apalagi menonton terasa kurang. Apalagi lubang di bodi bawahnya ini sering kali tertutup oleh jari sehingga suaranya benar-benar hilang.

Demi mendapatkan suara yang lebih lantang, POCO C85 menyematkan fitur Volume Boost hingga 200 persen. Soal kelantangan memang benar adanya. Hanya saja detail yang terdengar jadi sedikit berkurang, bahkan cenderung “berisik” untuk didengar.
Alternatif yang selalu saya pilih adalah dengan menggunakan earphone atau TWS via Bluetooth. POCO C85 masih menyediakan port audio jack 3,5 mm untuk penggunaan earphone kabel lebih mudah. Proses pairing dengan TWS juga terbilang cepat dengan delay yang tipis, tapi tidak setipis untuk penggunaan game strategi seperti PUBG Mobile.
Performa MediaTek G81 Ultra

Beralih ke sektor performa, POCO C85 ini ditenagai oleh chipset Helio G81 Ultra. Chipset yang dibangun pada proses fabrikasi 12 nm ini memiliki konfigurasi delapan inti prosesor (octa-core). CPU ini dirancang untuk menyeimbangkan antara kecepatan dan efisiensi yang dihasilkan.
Tenaganya terbagi menjadi dua inti performa tinggi Cortex-A75 (2.0 GHz) untuk menangani tugas berat, dan enam inti hemat daya Cortex-A55 (1.8 GHz) untuk aktivitas ringan sehari-hari. Sementara untuk urusan grafis, ponsel ini didukung oleh GPU Mali-G52 MP2 dengan kecepatan frekuensi 950 MHz.
POCO C85 menawarkan dua varian memori yang ada di pasar Indonesia. Varian yang dipakai di sini memiliki RAM 8 GB dengan internal 256 GB dengan harga di Rp1,8 jutaan. Sementara varian lainnya yaitu RAM 6 GB dengan internal 128 GB dijual di harga Rp1,4 jutaan. Untuk jenisnya, RAM-nya memakai LPDDR4x sedangkan internalnya masih pakai eMMC 5.1.

Pemakaian jenis memori internal eMMC ini jadi salah satu catatan sang ponsel. Padahal pesaingnya yaitu Samsung Galaxy A07 dengan Helio G99 sudah pakai UFS. Perbedaannya ada pada soal kecepatan kinerjanya, membuat booting, loading, atau proses lainnya jadi lebih cepat. Terlihat dari kemampuan baca memori internal yang hanya mencapai 263.80MB/s, sedangkan UFS biasanya bisa mencapai 500anMB/s.
Soal kecepatan atau ketangguhannya dalam bermain game, Helio G99 jelas lebih baik. Helio G81 Ultra ini bisa dibilang lebih cocok untuk penggunaan semi berat setiap harinya. Misalnya untuk scrolling media sosial atau browsing tidak ada masalah yang saya rasakan. Mungkin hanya pada proses membuka aplikasi yang cukup lama, termasuk saat memotret.
Meski begitu, beberapa game tetap bisa dimainkan, tapi dengan setelan grafis yang disesuaikan. Saya juga sempat mencoba memainkan beberapa game untuk melihat kemampuannya.

Sebelum ke hasil gaming, berikut adalah beberapa pengujian Benchmark buat yang merasa tertarik. Pertama adalah tentu saja menggunakan AnTuTu, versi 10 skornya berada di angka 275.438 poin. Sedangkan versi 11 skor yang diraih lebih tinggi yaitu di angka 330.298 poin.
Sebagai perbandingan, perangkat dengan Helio G99 biasanya punya skor AnTuTu v11 di 450 ribuan. Artinya, Helio G81 Ultra memang masih berada di bawahnya dan kurang kencang dibanding Helio G99.

Selanjutnya pengujian dilakukan menggunakan GeekBench 6. Skor yang diraih POCO C85 ini yaitu 406 poin (single core) dan 1396 poin (multi-core). Sementara untuk skor GPU OpenUCL skornya ada di angka 977 poin. Angka-angka ini menunjukkan kemampuannya dalam melakukan komputasi berat dengan performa yang tetap stabil dan efisien.

Pengujian benchmark POCO C85 dilanjut menggunakan software 3DMark Wild Life. Skor yang berhasil diraihnya adalah 631 poin untuk Wild Life, 635 poin untuk skor loop terbaik dengan stability 99,2 persen untuk Wild Life Stress Test, serta 1074 poin untuk skor Sling Shot Extreme.
Tes Gaming

Sampai pada pembahasan gaming, POCO C85 memberikan pengalaman yang cukup nyaman. Game populer seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, bahkan sampai Wuthering Wave bisa berjalan dengan baik. Namun tentu saja ada setelan grafik yang harus disesuaikan agar minim masalah.
Soal performa, saya tidak dibuat merasa “wah” dengan POCO C85. Frame rate yang ditawarkan tidak begitu tinggi dengan setelan grafik standar. Hal ini wajar mengingat masih pakai Helio G81 Ultra, bukan Helio G99 yang jadi standar untuk ponsel murah.
POCO C85 juga tidak memiliki sensor gyro hardware yang jadi catatan penting. Terutama jika digunakan untuk bermain game FPS seperti PUBG Mobile atau COD Mobile. Berikut beberapa catatan hasil pengujiannya saat memainkan beberapa game.
1. Mobile Legends

- Setelan grafik Ultra rata kanan
- Frame rate stabil di kisaran angka 90 FPS atau Super
- Tidak ada masalah meski ketika battle
- Suhu adem setelah bermain 1 jam
2. PUBG Mobile

- Setelan grafiknya bisa sampai Balanced-Ultra, tapi lebih stabil di Smooth/Super Smooth-Ultra
- Frame rate stabil di kisaran angka 35-40 FPS
- Visrtual gyro membuat aiming kurang presisi dan respons lambat
- Frame rate terasa turun ketika banyak musuh di sekitar (ngeframe)
- Suhu lumayan terasa naik setelah bermain 1 jam
3. Wuthering Wave

- Setelan grafik Low dengan 30 FPS
- Frame rate jadi paling rendah dan kurang puas melihat pergerakannya
- Grafik terendah membuat tampilan jadi kurang enak dilihat
- Masih ada stuttering pada area luas
- Suhu mudah panas karena mesin harus bekerja maksimal
Kamera Depan dan Belakang

Meski memiliki dua lingkaran di dalam modul kameranya, POCO C85 hanya punya satu lensa kamera saja. Resolusi yang digunakannya yaitu 50 MP dengan bukaan f/1.8. Tidak ada kamera ultrawide, makro, apalagi telefoto. Lingkaran kamera lainnya hanya berfungsi sebagai hiasan atau mungkin sensor kedalaman jika memang harus ada.
Meski hanya mengandalkan satu kamera saja, hasilnya cukup bagus untuk kelas harga Rp1 jutaan. Ketajaman dan detail yang dihasilkan terbilang baik, dengan dynamic range luas. Syaratnya adalah harus dalam kondisi cahaya yang memadai. Ketika cahaya redup, detail akan berkurang dan cenderung noise di area gelapnya.
Mode Malam memang tersedia dan membantu menaikkan eksposur, tetapi proses pengurangan noise terasa cukup agresif sampai detail halus sering hilang dan tekstur foto menjadi terlihat seperti watercolor.
Untuk opsi menu kameranya sendiri, menurut saya pengaturannya cukup sederhana dan mudah dipahami. Tersedia beberapa mode dasar seperti Photo, Portrait, Video, Night,dan Ultra HD untuk mengaktifkan pemotretan 50 MP secara penuh.
Tersedia juga mode Timelapse, tapi tidak dengan mode Panorama dan Slow motion. Pengaturan seperti HDR, Dynamic Shot, dan opsi penambahan watermark bisa diakses dengan cepat dan mudah. Sehingga penggunaannya lebih praktis jika butuh memotret dengan cepat.


Mode yang paling saya suka dari POCO C85 ini adalah Portrait. Untuk ponsel Rp1 jutaan, bokeh yang dihasilkan cukup baik. Setidaknya pemisahan antara objek dan latar belakang tampak rapi untuk objek mudah.


Sayang POCO C85 tidak memiliki lensa ultrawide, jadi hanya bisa mengandalkan kamera utamanya saja. Sementara untuk perekaman videonya, resolusinya terbatas di 1080p@30fps saja. Tidak ada stabilisasi apapun sehingga video akan berguncang ketika merekam sambil berjalan.
Beralih ke bagian depan, POCO C85 ini memiliki kamera selfie 8 MP saja dengan bukaan f/2.0. Tidak ada yang spesial dari kameranya, hasil selfie terbilang standar untuk kelasnya. Ada beberapa fitur yang rasanya sangat membantu seperti Soft-light ring untuk selfie di kondisi gelap, serta HDR untuk latar belakang yang terang.

Proses HDR yang dimilikinya juga terbilang baik. Latar belakangnya bisa terlihat dengan jelas meski tampak terang. Hanya saja detail yang ditampilkan pasti belum sempurna, ada beberapa hal yang miss atau tidak seharusnya ada.
Perlu dicatat juga bahwa resolusi kamera POCO C85 ini mengalami downgrade dari generasi sebelumnya. Resolusinya lebih kecil dari POCO C75 yang menggunakan 13 MP. Namun, perbedaan angka ini sangat sedikit sehingga tidak ada perubahan signifikan untuk hasilnya. Perekaman videonya pun masih tertahan di 1080p 30 FPS tanpa stabilisasi.
OS dan UI, Jaminan Upgrade Hingga 4 Kali

Saat pertama kali dinyalakan, POCO C85 sudah menggunakan antarmuka HyperOS 2 berbasis Android 15. Saya sendiri tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi karena selalu menggunakan ponsel Xiaomi. Bahkan sejak sebelum berganti ke HyperOS atau MIUI, keduanya tidak memiliki perbedaan signifikan.
Misalnya dari sistem navigasi yang terasa ringan, animasi yang responsif, dan sistem berjalan cukup stabil untuk pemakaian harian. Apalagi POCO C85 didukung layar dengan refresh rate 120 Hz membuat pengalaman jadi lebih baik. Sayang jenis memori masih eMMC sehingga proses membuka beberapa aplikasi mungkin sedikit lambat.
HyperOS juga membawa cukup banyak fitur yang berguna di layar besar seperti ini. Misalnya fitur quick transfer untuk berbagi file dengan perangkat Xiaomi, serta Mi Smart Hub untuk mengontrol perangkat pintar rumah lebih mudah. Fitur seperti Privacy Protection juga tidak kalah penting karena memberi kontrol lebih untuk perizinan aplikasi tertentu.

Namun, tetap ada catatan yang mesti diperhatikan dari antarmukanya ini. Tidak lain tidak bukan adalah keberadaan bloatware dan iklan. Saya tidak bisa bilang kalau POCO C85 ini tidak lagi memiliki iklan. Sebab ketika pertama kali dinyalakan, ada aplikasi yang sudah terpasang. Serta beberapa aplikasi bawaan seperti Mi Video masih memunculkan iklan.
Notifikasi dari Mi Browser juga cukup sering muncul di awal pemakaian, untungnya masih bisa dinonaktifkan. Saya menyarankan untuk menggunakan aplikasi lain atau sengaja mematikan fitur iklan dengan private DNS.
Untuk pembaruannya, POCO C85 menjamin upgrade OS hingga 4 kali dan keamanan selama 6 tahun. Artinya ponsel ini masih akan mendapatkan update sampai Android 19. Sedangkan keamanannya tetap hadir sampai tahun 2021 atau 2022. Cukup lama untuk ponsel Rp1 jutaan, cocok buat Anda yang malah gonta-ganti atau sengaja mencari untuk jangka panjang.
Konektivitas dan Sensor

Beralih ke soal kelengkapan dari konektivitas sampai sensornya. Meski punya harga Rp1 jutaan saja, kelengkapan yang dibawa oleh POCO C85 sudah cukup baik. Namun, ponsel ini memang hanya mendukung sampai jaringan 4G/LTE saja, belum mendukung jaringan 5G yang lebih kencang.
Sebagai salah satu produk Xiaomi, POCO C85 memiliki dukungan konektivitas dan sensor terbilang lengkap. Misalnya WiFi 5, Bluetooth 5.3, NFC multifungsi, sampai GPS. Fitur NFC ini bisa digunakan untuk membantu aktivitas jadi lebih mudah seperti bertransaksi digital, mengecek atau mengisi saldo e-money, atau sebagai kartu akses tol.
Satu hal yang rasanya kurang dari POCO C85 ini adalah infrared blaster. Tidak biasanya Xiaomi meninggalkan fitur satu ini untuk produknya. Padahal saya cukup terbantu dengan fitur ini karena bisa digunakan sebagai pengganti remot kontrol perangkat lain di rumah.
Selain itu, sebelumnya sudah disebutkan bahwa ponsel ini tidak punya sensor gyro hardware. Efeknya sangat terasa terutama di game FPS seperti PUBG Mobile. Di game tersebut kontrol gerakan kamera terasa kurang presisi, ada jeda respons, dan kadang muncul drifting yang membuat aiming tidak akurat.
Sensor lain seperti fingerprint juga turut hadir dan terintegrasi dengan tombol power. Selama saya menggunakannya, tidak ada keluhan berarti. Responsnya cukup baik dan cepat dalam membaca sidik jari.

Untuk slot SIM, POCO C85 sudah menggunakan tipe khusus. Hal ini membuat saya tidak perlu bingung lagi untuk memilih antara menggunakan kartu SIM atau microSD. POCO C85 mendukung penggunaan dua kartu SIM sekaligus dengan microSD terpasang, menarik bukan?
Baterai dan Pengisian Daya

POCO C85 jadi model dengan kapasita baterai paling besar di serinya yaitu mencapai 6000 mAh. Kapasitas baterai ini bahkan meningkat pesat dari generasi sebelumnya yaitu POCO C75 yang hanya 5160 mAh. Dalam hal ini, saya cukup berekspektasi lebih dengan kemampuan daya tahan baterainya.
Benar saja, saya dibuat puas dengan daya tahannya yang bisa sampai seharian penuh untuk pemakaian biasa. Saya pakai dengan skenario beragam mulai dari scrolling, browsing, menonton video online, bahkan bermain game. Dengan skenario lebih ringan, ponsel ini bahkan bisa tahan lebih dari sehari dalam sekali pengisian daya.
Untuk mendapatkan data yang lebih presisi, saya melakukan pengujian dengan menonton video offline berulang selama 10 jam. Kondisi ponsel diatur dengan kecerahan layar berada di 50 persen dan volume di 50 persen. Hasilnya, POCO C85 masih menyisakan baterai sekitar 42 persen, artinya hanya memakan baterai sekitar 58 persen saja.
Sebagai perbandingan, saya juga menguji tes yang sama pada beberapa ponsel. Misalnya itel P70 (6000 mAh, layar HD+) yang menyisakan baterai 22 persen dan POCO M7 Pro (5110 mAh, FHD+ AMOLED) dengan menyisakan baterai 43 persen pada pengujian yang sama.

Untuk pengisian dayanya, POCO C85 dibekali fast charging 33W. Sebenarnya angka ini tidak terlalu kecil mengingat kelas harganya, tapi akan kesulitan untuk mengisi baterai berkapasitas besar. Benar saja, saya melakukan pencatatan dan dalam 30 menit pertama, baterai terisi sekitar 40 persen. Sedangkan untuk bisa mengisi penuh butuh waktu 70 menit.
Memang, durasi tersebut masih terbilang cepat karena dekat dengan satu jam pertama. Lagipula, proses pengisian daya akan jarang dilakukan karena baterai yang awet.
Selain itu, POCO C85 juga dibekali fitur reverse charging, loh. Fitur ini memungkinkannya menjadi sebuah power bank bagi perangkat lain. Misalnya ponsel, TWS, smartwatch, dan sebagainya.
Xiaomi juga mengklaim bahwa kesehatan baterai perangkat ini akan tetap di atas 80 persen setelah 1000 siklus pengisian daya atau setara 4 sampai 5 tahun penggunaan. Angka ini dua kali lebih tinggi dibanding standar industri dan layak diapresiasi.
Simpulan
Membawa baterai 6000 mAh, POCO C85 jadi punya daya tariknya sendiri. Menurut saya, ponsel kelas entry sudah seharusnya memiliki baterai besar atau setidaknya daya tahan yang sangat baik. Sebab fungsi dari ponsel ini biasanya dibutuhkan karena baterai jumbonya. Apalagi buat yang beraktivitas di luar ruangan jadi tidak perlu khawatir kehabisan baterai.
Untuk kemampuan lainnya seperti layar dengan refresh rate 120 Hz, saya rasa ini menjadi bonus yang menarik. Pengalaman penggunaan jadi terasa lebih nyaman terutama saat scrolling atau bermain game. Dikombinasikan dengan layar lega, konektivitas, dan performa yang tidak kalah saing, sangat berkesan.
Jika membutuhkan perangkat kedua atau ponsel utama untuk pemakaian ringan, saya rasa POCO C85 ini cocok buat Anda. Namun, perlu diperhatikan beberapa catatannya karena ini termasuk ponsel murah. Lebih lengkapnya, berikut beberapa kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan POCO C85
- Memiliki isi paket penjualan yang lengkap
- Tampilan desain minimalis dengan modul kamera standar, tidak berlebihan
- Ada sertifikasi IP64 yang membuatnya tahan debu dan percikan air
- Kualitas layar mulus berkat dukungan refresh rate 120 Hz, jarang ada di kelas harganya
- Kecerahan layar baik, nyaman dipakai di luar ruangan yang terang atau kondisi cahaya redup
- Mengandalkan performa Helio G81 Ultra yang tangguh, bisa memainkan beberapa game dengan lancar
- Ada slot microSD khusus untuk memperluas kapasitas memori jika diperlukan
- Hasil kamera utama bisa diandalkan untuk pemotretan dengan cahaya memadai
- Sudah pakai HyperOS 2, ada jaminan upgrade OS hingga 4 kali dan keamanan sampai 6 tahun
- Konektivitas dan sensor lengkap dengan NFC dan dan fingerprint di tombol power
- Kapasitas baterai jumbo 6000 mAh, dengan fast charging 33W yang oke
- Ada fitur reverse charging untuk mengisi perangkat lain jika dibutuhkan
Kekurangan POCO C85
- Masih menggunakan mono speaker yang kurang memuaskan, bukan stereo
- Jenis memori internal masih eMMC, lebih lambat dari UFS
- Konfigurasi kamera standar tanpa ultrawide atau makro, detail berkurang saat cahaya redup
- Ada downgrade di resolusi kamera selfie, tapi kualitasnya tidak jauh berbeda
- Masih ada isu bloatware dan iklan, tapi bisa diatasi dengan mudah
- Tidak dibekali sensor gyro hardware dan infrared blaster
Nah, itulah ulasan mengenai POCO C85 menurut penggunaan langsung selama kurang lebih 2 minggu. Harapannya artikel ulasan seperti ini bisa membantu untuk menentukan pilihan ponsel yang cocok buat Anda.
