Review Redmi 15: Punya Daya Tahan Baterai yang Awet
Tahun 2025 bisa dibilang menjadi masa ketika ponsel dengan baterai besar semakin mendominasi pasar. Hampir semua brand mulai memahami bahwa kebutuhan utama banyak pengguna saat ini bukan lagi sekadar skor benchmark atau kamera penuh efek, melainkan ponsel yang bisa bertahan lama dan nyaman dipakai untuk aktivitas panjang.
Di tengah tren tersebut, Redmi 15 muncul sebagai salah satu pilihan yang cukup menarik, membawa baterai raksasa 7.000 mAh dan layar lega 6,9 inci sebagai dua senjata utamanya.
Saya sudah memakai Redmi 15 sebagai ponsel harian selama lebih dari satu bulan. Pengalaman pakainya terasa menyenangkan, terutama karena daya tahannya benar benar kuat hingga saya jarang mencari colokan. Jika kamu juga penasaran dengan ponsel ini, mari ikuti tulisan saya soal reviu Redmi 15 berikut ini.
Spesifikasi Redmi 15

| Layar | IPS LCD 6.9 inci |
| Chipset | Qualcomm Snapdragon 685 |
| RAM | 8 GB |
| Memori Internal | 128 GB, 256 GB |
| Baterai | Li-Ion 7000 mAh |
| Cek Harga Saat Ini | Shopee Tiktok |
Isi Paket Penjualan

Redmi 15 hadir dengan kotak warna merah dan putih. Isinya hampir serupa dengan kotak kemasan Redmi A5 yang pernah saya review juga. Xiaomi tetap memberikan paket penjualan yang cukup lengkap agar penggunanya tidak perlu membeli aksesori tambahan lagi. Dalam kotaknya kamu akan menemukan:
- Buku panduan dan kartu garansi
- Unit Redmi 15
- Kepala charger 33W. Keberadaan kepala charger ini sangat penting karena baterai 7.000 mAh tentu butuh daya besar supaya proses pengisian tidak terlalu lama.
- Kabel USB Type-C
- SIM ejector
- Softcase pelindung.
Saya patut mengapresiasi kehadiran charger karena semakin kini beberapa brand mulai hilangkan charger. Saya tidak mau trend ini terus berlanjut di ponsel murah. Saya juga apresiasi hadirnya softcase pelindung di kotak kemasan dengan alasan nanti yang bisa dijelaskan pada bagian desian.
Desain

Saat pertama kali memegang Redmi 15, yang langsung terasa adalah ukurannya yang benar benar besar. Dimensinya di angka 171,1 x 82,1 mm membuatnya terasa bongsor saat digenggam. Tapi yang cukup mengejutkan bagi saya adalah ketebalannya yang hanya 8,6 mm. Untuk ponsel dengan baterai 7.000 mAh, ini termasuk tipis dan tidak terasa seperti membawa brick.
Faktor yang membuatnya memungkinkan adalah penggunaan teknologi baterai Silicon Carbon yang memiliki densitas energi lebih tinggi, sehingga baterai besar bisa dipasang tanpa membuat bodi menggelembung.
Meski bodinya ramping untuk kapasitas sebesar itu, bobot 224 gram tetap terasa berat. Tidak sampai menyiksa, tetapi setelah dipakai lama dengan satu tangan, tangan saya mulai pegal. Untungnya distribusi bobotnya merata, jadi tidak terasa timpang di bagian atas atau bawah.

Redmi 15 memakai material bodi belakang berbahan plastik. Pilihan bahan ini menurut saya cukup masuk akal mengingat kapasitas baterainya yang besar. Dengan memakai plastik, bobot perangkat bisa ditekan agar tidak terlalu berlebihan meskipun tetap terasa agak berat.
Finishing-nya terasa solid di tangan, tetapi tampilannya cenderung sederhana dan tidak memberikan kesan premium yang kuat. Untuk saya pribadi, varian warna Titan Grey yang saya gunakan terlihat cukup minimalis, bahkan cenderung membosankan.

Selain varian Titan Grey yang saya gunakan, Redmi 15 juga tersedia dalam warna Midnight Black dan Sandy Purple untuk pasar Indonesia. Pilihan warnanya sebenarnya cukup aman dan netral untuk berbagai tipe pengguna.
Namun buat saya pribadi, khusus varian Titan Grey terasa terlalu polos. Estetikanya kurang menonjol dan tidak memberikan kesan yang benar benar menarik ketika dilihat dari belakang.
Karena finishing bodi belakangnya juga mudah meninggalkan bekas gores kecil dan noda sidik jari, saya sangat menyarankan untuk langsung menggunakan casing bawaan yang ada dalam paket penjualan.

Casing tersebut membantu meningkatkan grip sekaligus melindungi bodi agar tidak cepat kusam. Tanpa casing, ponsel ini terasa sedikit licin dan berisiko lebih mudah jatuh terutama ketika tangan mulai berkeringat.
Untuk kenyamanan digenggam, sebenarnya Redmi 15 tidak ada masalah berarti. Lengkungan di sisi frame terasa nyaman dan tepi flat-nya membuat ponsel terasa mantap saat digenggam dua tangan, misalnya untuk menonton film atau bermain game.
Hanya saja ukuran dan bobotnya membuat penggunaan satu tangan tidak terlalu ideal. Bagi pengguna yang terbiasa memegang ponsel dengan satu tangan sepanjang waktu, mungkin akan perlu waktu beradaptasi.
Menurut saya desain Redmi 15 lebih menekankan fungsi daripada tampilan visual. Tidak ada kesan mewah yang kuat, tetapi solid dipakai dan terasa aman untuk penggunaan harian dengan casing. Jika kamu tipe pengguna yang mengutamakan kekokohan dan kepraktisan daripada gaya, desain seperti ini mungkin sudah lebih dari cukup.
Layar

Bagian layar menjadi salah satu aspek yang paling saya perhatikan saat memakai Redmi 15. Ponsel ini membawa panel IPS LCD berukuran besar 6,9 inci dan secara pengalaman, visualnya terasa sangat lega. Untuk nonton film, baca dokumen, atau sekadar scrolling, tampilannya terasa lapang dan nyaman dipakai waktu lama.
Dengan harga sekitar Rp2,1 jutaan, pengalaman visual yang ditawarkannya menurut saya sudah sangat baik.
Sayangnya ada satu hal yang cukup membuat saya kecewa. Meski layarnya besar, Redmi 15 tidak mendukung split screen, sehingga saya tidak bisa membuka dua aplikasi berdampingan untuk multitugas. Padahal ukuran layarnya sangat potensial untuk produktivitas seperti edit dokumen sambil melihat referensi, atau chat sambil menonton video.
Untuk kualitas tampilan, saya sebenarnya tidak ada keluhan berarti. Warna dan ketajamannya sudah enak untuk dipandang dan tidak membuat mata cepat lelah.

Hanya saja, karena saya terbiasa menggunakan ponsel dengan layar AMOLED, perbedaan karakter warna terasa cukup jelas. Reproduksi warnanya terasa lebih biasa dan tidak sedalam AMOLED.
Tersedia pilihan profil warna seperti Vivid, Saturated, dan Standard, namun menurut saya perubahannya tidak terlalu signifikan. Secara bawaan, layar ini sudah berada pada mode Vivid.
Soal kelancaran visual, layar Redmi 15 sudah mendukung refresh rate hingga 144 Hz dengan tiga pilihan pengaturan yaitu 60, 90, dan up to 144 Hz.

Saran saya, mode 90 Hz paling ideal untuk penggunaan harian karena terasa lebih mulus dibanding 60 Hz namun tetap lebih hemat daya daripada memaksa 144 Hz. Tetapi jujur saja, saya cukup sering memakai 60 Hz demi ketahanan baterai yang lebih panjang, apalagi tidak semua aplikasi mendukung refresh rate tinggi.
Untuk pemakaian luar ruangan, tingkat kecerahan layar mendukung HBM hingga 850 nits. Secara angka terlihat tinggi, tetapi ketika saya coba langsung di bawah matahari terik, visibilitasnya tidak seterang yang saya harapkan. Tulisan masih bisa terbaca, namun harus sedikit memicingkan mata.

Menurut saya ini masih wajar untuk panel IPS di harga kelas ini, tetapi jangan berharap setara dengan layar AMOLED kelas atas.
Yang menarik perhatian saya adalah fitur Wet Touch 2.0. Awalnya saya pikir hanya gimmick, tetapi setelah mencobanya dengan tangan basah, layarnya tetap responsif dan navigasi tetap nyaman. Bahkan saat memakai sarung tangan tipis, layar masih bisa merespons sentuhan dengan baik. Menurut saya, ini salah satu fitur yang benar benar terasa manfaatnya dalam penggunaan nyata.



Untuk kenyamanan mata, Redmi 15 sudah memiliki sertifikasi TÜV Rheinland untuk Low Blue Light dan Flicker Free. Teknologi DC Dimming membantu tampilan tetap stabil tanpa kedipan yang melelahkan mata, terutama saat dipakai di ruangan gelap. Secara keseluruhan, layarnya nyaman dipakai jangka panjang tanpa membuat mata cepat tegang.
Performa

Unit yang saya gunakan untuk pengujian adalah varian 8 GB RAM dan 256 GB storage, dan menurut saya keputusan Xiaomi menggunakan storage UFS 2.2 pada Redmi 15 patut diapresiasi. Penyimpanan ini membuat proses loading aplikasi, booting, dan perpindahan aplikasi terasa lebih cepat dibanding ponsel lain di harga 2 jutaan yang masih memakai eMMC.
Untuk pasar Indonesia sendiri, perangkat ini dijual resmi dalam dua pilihan, yaitu 8 GB /128 GB dengan harga Rp2.099.000 dan 8 GB /256 GB seharga Rp2.299.000.
Dapur pacu Redmi 15 ditenagai Snapdragon 685, chipset kelas entri yang menggunakan konfigurasi 8-core dengan komposisi 4 core Cortex A73 2.8GHz dan 4 core Cortex A53 1.9GHz. Chipset ini juga memakai GPU Adreno 610 sebagai pengolah grafis.
Secara spesifikasi, jelas bahwa prosesor ini lebih berfokus pada efisiensi daya dan stabilitas performa jangka panjang, bukan kecepatan komputasi mentah seperti seri Snapdragon G atau Dimensity 6000-an.
Namun dalam penggunaan harian saya, performanya terasa cukup mulus untuk scrolling di media sosial, multitasking ringan, hingga menjalankan aplikasi perkantoran dan hiburan. Saya jarang menemukan lag yang mengganggu, dan suhu perangkat tetap aman meski dipakai lama.
Untuk hasil benchmark, skor AnTuTu yang saya dapatkan mencapai 372.654 poin pada versi V10. Sementara pada pengujian AnTuTu v11 skor yang didapatkan adalah 504.860 poin.

Sebagai perbandingan, perangkat dengan Helio G99 biasanya punya skor AnTuTu v11 di 450 ribuan. Itu berarti secara performa, Snapdragon 685 terasa kurang kencang dibanding Helio G99.
Selanjutnya saya melakukan benchmark pada PCMark Work 3.0. Benchmark ini mensimulasikan produktivitas seperti mengetik, browsing, dan edit foto ringan, skor yang didapatkan adalah 9.397 poin. Skor tersebut menunjukkan bahwa ponsel ini sangat mumpuni untuk tugas kerja harian.Â

Sementara itu, di Geekbench 6 terbaca skor 473 untuk Single-Core, 1.585 untuk Multi-Core, dan 378 untuk GPU OpenCL. Angka ini mengonfirmasi bahwa ponsel ini bukan ditujukan untuk komputasi berat, namun stabilitas performa dan efisiensi dayanya sangat baik.

Tes Gaming

Untuk urusan gaming, pengalaman saya memakai Redmi 15 sebenarnya cukup stabil. Game populer seperti Mobile Legends dan Free Fire bisa berjalan dengan sangat lancar dan nyaman untuk dimainkan dalam waktu lama.
Namun jika berbicara dari sudut performa mentah di kelas harganya, memang ada beberapa ponsel lain yang menawarkan tenaga lebih besar dan bahkan sudah mendukung jaringan 5G. Jadi menurut saya, Redmi 15 bukan ditujukan untuk gamer kompetitif yang mengejar frame rate tinggi dan respon kontrol super presisi.
Apalagi ponsel ini tidak memiliki gyro hardware, melainkan hanya menggunakan gyro virtual. Efeknya sangat terasa terutama di game FPS seperti PUBG Mobile. Berikut catatan detail hasil tes game di ponsel ini.
1. PUBG Mobile
- Smooth – Ultra
- Frame rate stabil di kisaran 40–45 fps
- Tidak tersedia mode 60 fps
- Virtual Gyro membuat aiming terasa kurang presisi dan kadang drifting
2. Mobile Legends
- Grafik Ultra + High FPS aktif
- Stabil 60 fps, termasuk saat team fight besar
- Suhu adem setelah bermain 1 jam lebih
3. Genshin Impact
- Pengaturan Lowest alias terlalu rendah
- Meskipun dapat berjalan, pengalaman bermainnya cenderung lambat. Kamu harus menggunakan pengaturan grafis "Low" (terendah) untuk mendapatkan pengalaman yang paling stabil (sekitar 30 FPS),
- Masih ada stuttering pada area luas
4. Free Fire
- Grafik tinggi dengan frame rate stabil
- Sangat playable, namun tetap kurang cocok untuk pemain yang mengandalkan gyro presisi
Kamera Belakang

Redmi 15 hadir dengan kamera utama 50 MP f/1.8, tetapi resolusi penuh 50 MP baru aktif saat mengaktifkan mode High Resolution. Secara default, kamera memotret 12,5 MP dan sektor fotografi di ponsel ini terasa lebih fungsional daripada impresif.
Untuk opsi menu kameranya sendiri, menurut saya pengaturannya cukup sederhana dan mudah dipahami. Tersedia beberapa mode dasar seperti Photo, Portrait, Video, Night,dan Ultra HD untuk mengaktifkan pemotretan 50 MP penuh.
Ada juga mode Timelapse. Sayangnya, tidak ada mode Panorama dan Slow motion. Pengaturan seperti HDR, Dynamic Shot, dan opsi penambahan watermark bisa diakses dengan cepat dari tampilan utama, sehingga tidak perlu masuk menu yang terlalu dalam.
Performa kameranya bagaimana? Untuk pemotretan di siang hari, menurut saya cukup mengesankan untuk kelas harganya. Hasil foto terlihat tajam, detail objek cukup tertangkap, dan karakter warnanya terasa natural tanpa berlebihan.



Langit pada foto outdoor tampak seperti aslinya, bukan yang dibuat kebiruan secara berlebihan. Mode portrait juga bekerja cukup baik dengan pemisahan subjek dan latar yang rapi.


Mode portraitnya bekerja dengan baik meski tidak punya efek blur berlebihan tapi sudah cukup untuk kelas harganya. Tapi mode foto dekat kurang begitu baik.

Sayangnya, Redmi 15 tidak menawarkan lensa ultrawide. Modul kedua pada kamera belakang hanyalah lensa auxiliary yang fungsinya lebih dekoratif daripada benar benar memberikan kegunaan tambahan. Ini membuat fleksibilitas pengambilan foto lanskap atau area luas menjadi terbatas.
Untuk kondisi low light, kemampuan kamera ini mulai mengalami kesulitan, sesuatu yang sebenarnya umum terjadi pada ponsel terjangkau. Ketiadaan OIS membuat tangan harus sangat stabil, karena sedikit saja goyangan membuat hasil foto mudah blur.



Mode Malam memang tersedia dan membantu menaikkan eksposur, tetapi proses pengurangan noise terasa cukup agresif sampai detail halus sering hilang dan tekstur foto menjadi terlihat seperti watercolor.
Untuk video, perekaman mentok di 1080p@30 fps dan tanpa stabilisasi yang memadai, sehingga rekaman terlihat goyang saat berjalan. Hasil rekaman video pun terasa agak gelap di kondisi cahaya yang kurang mencukupi.
Kamera Depan

Redmi 15 dibekali kamera depan 8 MP. Kamera ini menurut saya sudah cukup andal untuk kebutuhan harian seperti video call, foto kasual, dan unggahan media sosial.
Hasil selfie terlihat natural, warna kulit tidak dibuat berlebihan, dan detail wajah masih tergolong baik untuk kelas harganya. Saya juga cukup terkesan dengan performanya di malam hari.

Selama pencahayaan di sekitarnya masih memadai, hasil fotonya tetap terlihat bagus dan tidak terlalu dipenuhi noise. Fitur Soft light ring bawaan yang memanfaatkan cahaya layar juga terasa membantu ketika memotret di tempat gelap karena membuat wajah tetap terang tanpa harus mengandalkan flash keras yang biasanya mengganggu.


OS dan UI

Redmi 15 menjalankan antarmuka HyperOS berbasis Android 15 (atau Android 14 yang akan segera diperbarui). Saya pribadi tidak mengalami kesulitan beradaptasi karena sebelumnya sudah pernah memakai ponsel Xiaomi.
Navigasinya terasa ringan, animasi responsif, dan sistem berjalan cukup stabil untuk pemakaian harian. HyperOS memang terasa cukup optimal dalam memanfaatkan Snapdragon 685 sehingga manajemen memori dan aplikasi latar belakang bekerja lebih efisien.
HyperOS juga membawa cukup banyak fitur yang berguna di layar besar seperti ini. Misalnya fitur quick transfer untuk berbagi file dengan perangkat Xiaomi lain, serta Mi Smart Hub untuk mengontrol perangkat pintar rumah dalam satu tampilan. Fitur seperti Privacy Protection juga terasa penting karena memberi kontrol lebih jelas terhadap izin aplikasi.

Hal yang agak disayangkan jelas ketidakadaan fitur split screen, yang membuat pengalaman pakai secara multitasking di ponsel ini kurang oke.
Dalam penggunaan nyata, saya merasa layar besar 6,9 inci benar benar membantu untuk multitasking, membaca dokumen, atau menonton video sambil membuka chat di jendela kecil. Rasanya seperti memakai tablet mini namun tetap fleksibel.
Namun tetap ada beberapa catatan penting yang harus saya sebutkan. HyperOS masih membawa bloatware dan iklan di beberapa aplikasi bawaan. Contohnya saat saya membuka Mi Video, iklan muncul terlebih dahulu sebelum konten tampil. Jujur terasa mengganggu.

Notifikasi dari Mi Browser juga cukup sering muncul di awal pemakaian meski untungnya bisa dinonaktifkan. Saran saya, jika tidak ingin berurusan dengan iklan, sebaiknya pakai aplikasi alternatif dari Play Store.
Untuk pembaruan perangkat lunak, Xiaomi menjanjikan dukungan pembaruan yang cukup panjang yaitu 2 kali update OS Android utama sampai Android 17 dan 3 sampai 4 tahun patch keamanan. Xiaomi mengklaim pengalaman menggunakan ponsel akan tetap stabil hingga 48 bulan berkat optimasi sistem jangka panjang.
Kualitas Audio

Untuk sektor audio, Redmi 15 terasa cukup minimalis. Ponsel ini hanya menggunakan konfigurasi speaker mono yang terletak di bagian bawah. Menurut saya ini cukup disayangkan, karena beberapa pesaing di kelas harga serupa sudah menawarkan speaker stereo yang lebih imersif.
Saat bermain game dalam posisi lanskap, speaker ini juga mudah tertutup telapak tangan sehingga suara langsung terdengar mendem.
Soal kualitas suara, Redmi 15 memiliki fitur volume boost hingga 200 persen, membuat output suara menjadi sangat keras ketika dibutuhkan, misalnya di lingkungan yang ramai.
Namun sebagai catatan, saat mode 200 persen aktif, kualitas suaranya cenderung menurun dan terdengar agak melengking serta sedikit terdistorsi. Untuk pemakaian kasual seperti YouTube, TikTok, atau podcast, kualitas ini masih cukup layak.
Perangkat ini mendukung Dolby Audio, yang membantu memberikan efek audio yang lebih lebar ketika menonton film atau bermain game. Tetapi karakter mono tetap membatasi pengalaman mendengarkan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya port audio 3.5 mm. Jika ingin menggunakan earphone berkabel, diperlukan adaptor USB-C ke 3.5 mm. Saya pribadi lebih sering memakai TWS, jadi hal ini tidak terlalu mengganggu, meskipun harus diakui bahwa TWS murah umumnya masih memiliki delay yang terasa saat bermain game.
Untuk pengguna audio nirkabel, Redmi 15 sudah mendukung beragam codec Bluetooth HD seperti AAC, aptX, aptX HD, aptX Adaptive, dan LDAC, serta mendukung Hi-Res Audio. Dengan perangkat audio yang kompatibel, kualitas suara bisa meningkat cukup jauh dibanding menggunakan speaker bawaan.
Konektivitas dan Sensor

Untuk urusan konektivitas, Redmi 15 sudah menyediakan fitur dasar yang dibutuhkan untuk penggunaan harian. Dukungan jaringan 4G LTE terasa stabil untuk streaming dan aktivitas media sosial. Kehadiran NFC juga sangat membantu untuk pengecekan dan pengisian saldo uang elektronik tanpa harus mencari mesin top up. Dalam pemakaian saya, semua fungsi konektivitas berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Namun ketika masuk ke bagian sensor, di sinilah saya merasa cukup kecewa. Seperti sudah saya singgung pada pembahasan gaming sebelumnya, Redmi 15 tidak memiliki sensor gyroscope fisik dan hanya mengandalkan gyro virtual.
Efeknya sangat terasa terutama di game FPS seperti PUBG Mobile. Di game tersebut kontrol gerakan kamera terasa kurang presisi, ada jeda respons, dan kadang muncul drifting yang membuat aiming tidak akurat. Untuk gamer yang terbiasa mengandalkan gyro sebagai kontrol utama, absennya sensor ini bisa menjadi kekurangan yang cukup besar.

Saya juga menyayangkan tidak adanya fitur Infrared Blaster. Dulu salah satu alasan saya suka ponsel murah Xiaomi adalah adanya fitur IR yang sangat berguna saat keadaan darurat. Saya pernah kehilangan remote AC di rumah, dan IR di ponsel betul betul jadi penyelamat.
Sayangnya, fitur itu tidak tersedia di Redmi 15, padahal banyak pengguna yang masih menganggap IR Blaster sebagai fitur praktis dan ikonik.
Untuk slot SIM, Redmi 15 menggunakan tipe hybrid, sehingga pengguna perlu memilih antara Dual SIM atau kombinasi SIM + MicroSD.

Dengan opsi storage hingga 256 GB, bagi sebagian orang ini mungkin tidak masalah, tetapi tetap saja akan lebih ideal jika slotnya dedicated agar lebih fleksibel.
Keamanan Biometrik

Redmi 15 menyediakan dua opsi keamanan biometrik, yaitu sensor sidik jari dan face unlock. Sensor sidik jari ditempatkan di tombol power di sisi kanan, dan menurut saya posisinya sangat nyaman karena jempol secara alami akan berada di sana saat menggenggam ponsel.
Selama saya gunakan, responsnya cukup cepat dan akurat. Proses membuka kunci terasa langsung dan praktis karena setelah sensor terbaca, tampilan langsung masuk ke pilihan menu aplikasi tanpa transisi tambahan.
Selain itu, tersedia juga fitur face unlock berbasis kamera depan. Fitur ini terasa lebih cepat dalam hal deteksi wajah, tetapi ada satu perbedaan perilaku yang cukup penting. Ketika memakai face unlock, layar akan terbuka ke halaman utama terlebih dahulu.
Jadi jika ingin mengakses aplikasi lain, saya harus swipe up dulu untuk masuk ke daftar aplikasi. Sementara saat memakai sensor sidik jari, menu aplikasi langsung muncul dan terasa lebih cepat untuk berpindah aplikasi.
Karena itu, bagi saya pribadi, jika ingin akses tercepat, lebih baik mengandalkan sensor sidik jari ketimbang face unlock, terutama saat sedang terburu buru.
Baterai dan Pengisian Daya

Baterai adalah kekuatan utama Redmi 15. Ponsel ini membawa kapasitas masif 7.000 mAh, jauh lebih besar dibanding standar ponsel kebanyakan. Teknologi baterai anoda Silicon Carbon memungkinkan kapasitas besar ini dipasang dalam bodi yang masih tergolong ramping, sehingga perangkat tidak terasa seperti membawa brick tebal meski bobotnya memang cukup terasa.
Untuk pemakaian harian, daya tahannya benar benar mengesankan. Dalam penggunaan normal seperti scrolling, chatting, menonton video, dan sosial media, perangkat ini dapat bertahan hingga dua hari tanpa perlu diisi ulang.
Saya melakukan pengujian pemutaran video offline memakai aplikasi VLC dengan volume dan kecerahan layar di angka 50 persen selama 10 jam nonstop, dan hasilnya sisa baterai masih 34 persen.
Sebagai perbandingan saya juga menguji tes yang sama pada beberapa ponsel. Contohnya Redmi A5 (5200 mAh, layar HD+) dengan hasil menyisakan baterai 43 persen dan POCO M7 Pro (5110 mAh, FHD+ AMOLED) menyisakan 37 persen pada pengujian yang sama.

Melihat kapasitas baterai Redmi 15 yang jauh lebih besar dan layarnya yang jauh lebih besar pula, menurut saya hasil ini cukup wajar sekaligus menunjukkan bahwa efisiensi dayanya bekerja dengan baik.
Untuk pengisian daya, Redmi 15 mendukung fast charging 33W. Saya melakukan pengisian dari kondisi 0 persen mulai pukul 09.27. Dalam 30 menit, baterai sudah terisi 32 persen. Setelah 1 jam, angkanya mencapai 66 persen. Dan untuk penuh hingga 100 persen, waktunya sekitar 1 jam 40 menit.
Memang bukan yang paling cepat, tetapi dengan daya tahan penggunaan sekuat ini, saya merasa waktu pengisian tersebut masih sangat masuk akal. Sebagai nilai tambah, Redmi 15 mendukung reverse charging 18W sehingga bisa difungsikan sebagai power bank darurat untuk mengisi daya TWS atau ponsel lain.
Xiaomi juga mengklaim bahwa kesehatan baterai perangkat ini akan tetap di atas 80 persen setelah 1.600 siklus pengisian, atau setara 4 sampai 5 tahun penggunaan. Angka ini dua kali lebih tinggi dibanding standar industri dan layak diapresiasi.
Simpulan

Redmi 15 menurut saya hadir sebagai perangkat yang cukup unik dibanding banyak ponsel lain di tahun 2025. Xiaomi terlihat memahami bahwa tidak semua orang membutuhkan performa gaming maksimal. Ada banyak pengguna yang lebih menginginkan baterai super awet dan layar besar yang nyaman dipakai dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi baterai 7.000 mAh dan layar luas 6,9 inci, Redmi 15 berhasil menawarkan pengalaman pemakaian yang sangat fungsional di kelas harganya. Ini bukan ponsel yang berusaha bagus di semua aspek, melainkan perangkat spesialis yang sangat kuat pada satu sisi dan rela berkompromi pada sisi lain demi menjaga harga tetap ramah.
Penggunaan Snapdragon 685 yang tergolong lawas, absennya lensa ultrawide, serta ketiadaan gyroscope fisik tentu akan memicu perdebatan. Tapi bila melihatnya dari sudut kebutuhan nyata sehari hari, Redmi 15 menjawab masalah klasik: baterai yang cepat habis dan layar yang terasa sempit. Intinya, ini adalah ponsel yang mengutamakan waktu nyala panjang dan kenyamanan visual, bukan performa mentah.
Kelebihan
- Baterai 7.000 mAh yang super awet, mampu bertahan dua hari, dan bahkan masih tersisa 34 persen setelah tes menonton video offline 10 jam
- Fast charging 33W, pengisian penuh dari 0 sampai 100 persen sekitar 1 jam 40 menit
- Layar besar 6,9 inci yang sangat nyaman untuk multimedia, belajar, dan multitasking
- Penyimpanan UFS 2.2 yang terasa gesit untuk membuka aplikasi dan berpindah tugas
- Sertifikasi IP64 untuk ketahanan debu dan cipratan air
- Fitur tambahan lengkap seperti NFC dan update keamanan hingga empat tahun
Kekurangan
- Tidak ada lensa ultrawide
- Virtual Gyroscope membuat pengalaman gaming FPS kurang presisi
- Speaker masih mono dan port audio 3,5 mm dihilangkan
- Performa gaming tidak terlalu kuat meski stabil untuk harian
- Desain terkesan sederhana dan bagian belakang cukup mudah tergores
- Tidak ada fitur split screen, padahal layarnya cukup besar
Ponsel Ini Cocok untuk Siapa?
Saya melihat Redmi 15 sangat cocok untuk pengemudi ojek online atau kurir yang butuh layar terang di luar ruangan dan baterai tahan lama untuk dipakai bekerja seharian tanpa harus mencari colokan.
Ponsel ini juga ideal untuk pelajar, pekerja kantoran, atau penikmat film yang menginginkan pengalaman menonton lebih lega. Selain itu, Redmi 15 pas dijadikan perangkat kedua untuk hotspot atau kebutuhan komunikasi bisnis.
Namun jika kamu seorang gamer kompetitif, atau konten kreator yang membutuhkan kamera fleksibel serta performa tinggi, ada opsi lain di kelas harga yang mungkin lebih sesuai.
