Review REDMI Buds 8 Pro: ANC-nya Bikin Saya Lupa Lagi di Mana
Inilah REDMI Buds 8 Pro, TWS Premium dari Xiaomi. Saya sudah mencoba TWS ini langsung selama lebih dari dua minggu, dan hasilnya cukup bikin saya kaget, dalam artian positif.
Sebelum memakai TWS ini, saya terbiasa pakai TWS di kisaran 100 ribuan sampai 400 ribuan, dan di rentang harga itu selalu ada batasan yang terasa, baik dari sisi kualitas suara maupun fitur.
REDMI Buds 8 Pro yang masuk ke Indonesia pada 3 Maret 2026 ini berbeda. Ia membawa arsitektur tiga driver koaksial, ANC hingga 55dB, dan sederet fitur yang biasanya cuma ditemukan di produk jauh lebih mahal. Apakah semua itu terbukti di pemakaian nyata? Simak pengalaman saya memakai TWS ini.
Spesifikasi REDMI Buds 8 Pro

- Model: M2535E1
- Arsitektur Driver: Coaxial Triple-Driver (11 mm Dynamic Driver berlapis titanium + 2 Piezoelectric Ceramic Tweeter 6,7 mm)
- Konfigurasi Audio: Dual Independent DAC dengan pembagian frekuensi aktif
- Konektivitas: Bluetooth 5.4 (HFP / A2DP / AVRCP / BLE)
- Rentang Frekuensi: 20 Hz – 40 kHz
- Codec yang Didukung: SBC, AAC, LDAC, LHDC 5.0, LC3, MIHC 2.0
- ANC: Smart ANC hingga 55 dB, bandwidth hingga 5 kHz
- Mikrofon: Triple-Mic per earbud dengan AI Noise Reduction, tahan angin hingga 12 m/s
- Baterai Earbud: 54 mAh per sisi
- Baterai Casing: 480 mAh
- Pengisian Daya: USB Type-C dengan Fast Charging
- Ketahanan: IP54 (khusus earbud)
- Bobot Earbud: 5,3 gram per sisi
- Bobot Casing: 36,3 gram
- Pilihan Warna: Glacier Blue, Obsidian Black, Cloud White
- Harga di mi.co.id: Rp948.000 (naik dari harga rilis Rp899.000)
Isi Kotak

Isi kotak kemasan REDMI Buds 8 Pro ini terbilang sederhana. Dominasi warna putihnya yang bersih dengan sentuhan logo oranye khas Xiaomi di sudutnya langsung memberikan kesan minimalis yang rapi.
Begitu kotaknya dibuka, tata letak isinya cukup ringkas namun sudah mencakup semua esensi yang kamu butuhkan. Perhatian pertama tentu tertuju pada unit TWS yang sudah tersimpan aman di dalam casing-nya.
Sebagai pelengkap, tersedia juga kabel pengisi daya USB Type-C ke USB Type-A berwarna putih dengan panjang kurang lebih 30 cm, tumpukan buku panduan penggunaan, serta dua pasang ear cap silikon cadangan berukuran S dan L dalam bungkusan plastik terpisah. Untuk ukuran M sendiri tidak perlu dicari, karena sudah terpasang langsung pada earbud dari pabrik.
Ada satu detail kecil namun berkesan yang saya temukan saat pertama kali membuka casing TWS ini. Terdapat dua stiker plastik pelindung di bagian dalam slot earbud yang sengaja dipasang untuk memblokir pin konektor kuningan.
Fungsinya sangat cerdas, yaitu untuk memastikan earbud tidak terus-menerus mengisi daya di dalam kotak sebelum benar-benar diaktifkan oleh pembeli pertama. Walaupun kedengarannya sepele, hal ini menjadi tanda bahwa Xiaomi sangat teliti dalam merancang pengalaman unboxing sekaligus menjaga kesehatan baterai untuk pemakaian jangka panjang.
Desain

Unit yang saya coba adalah varian Obsidian Black. Xiaomi Indonesia juga menjual dua varian warna lainnya, yaitu Glacier Blue dan Cloud White, jadi ada pilihan yang bisa disesuaikan dengan selera. Untuk varian hitam ini, tampilannya elegan dan tidak mencolok, cocok untuk pemakaian sehari-hari baik di kantor maupun saat santai.
Tangkai earbud menggunakan proses NCVM (Non-Conductive Vacuum Metallization) yang menghasilkan kilau metalik halus, terlihat mewah tapi tidak licin di tangan dan tidak mudah belang bekas sidik jari.
Sisi luar tangkai sengaja dibuat mengilat (glossy) untuk kontras visual sekaligus mempermudah kontrol gestur sentuh. Bicara soal gestur, salah satu yang saya suka adalah kontrol volume lewat usapan (slide) di tangkai, cukup geser ke atas atau ke bawah langsung naik-turun volume tanpa harus merogoh ponsel. Fitur ini terdengar sepele, tapi di kelas harga segini tidak semua TWS punya.
Casing-nya berbentuk bulat seperti batu kerikil halus, pas banget masuk ke saku jeans tanpa terasa mengganjal. Material luarnya semi-matte, terasa kokoh dan antilicin saat digenggam.
Di bagian belakang casing ada tulisan "triple driver sound" yang dicetak halus tepat di bawah logo REDMI berwarna emas. Detail kecil ini yang bikin produk terasa punya karakter, bukan sekadar nama model yang dicetak asal.
Fitur yang paling saya suka dari sisi desain adalah strip lampu LED indikator baterai di bagian depan casing. Setiap kali tutupnya dibuka, lampu ini langsung menyala menunjukkan sisa kapasitas baterai. Saat dicas, ada animasi dinamis yang cukup memanjakan mata.
Kelihatannya fitur minor, tapi dalam pemakaian sehari-hari ini sangat membantu karena saya tidak perlu buka aplikasi hanya untuk cek baterai.
Soal kenyamanan di telinga, bobotnya yang cuma 5,3 gram per sisi benar-benar terasa. Saya pakai ini hampir tiga jam nonstop saat kerja dari kafe dan tidak ada rasa nyeri atau lelah di telinga sama sekali.
Kontur earbud-nya mengikuti lekuk saluran telinga cukup natural, dan ukuran silikon M bawaan sudah cukup presisi buat telinga saya, memberikan isolasi pasif yang solid tanpa terasa menekan berlebih. Ditambah sertifikasi IP54, saya cukup tenang memakainya saat hujan-hujanan ringan atau sesi olahraga yang bikin banyak keringat.
Fitur dan Kualitas Suara

REDMI Buds 8 Pro mengandalkan arsitektur koaksial tiga driver dengan dua DAC independen, dan hasilnya benar-benar terasa di telinga. Saya menguji audio ini dengan realme 16 Pro, codec LDAC sudah aktif otomatis tanpa perlu pengaturan manual. Ini yang saya rasakan setelah beberapa hari mendengarkan berbagai genre:
Frekuensi rendah (bass) terasa sangat bertenaga dan dalam. Ada karakter "rumble" yang intens saat memutar musik elektronik atau hip-hop, tapi tidak sampai terdengar pecah meski volume diangkat tinggi. Ini jelas TWS yang akan memuaskan para penggemar bass.
Perlu dicatat, tuning bawaannya memang cenderung bass-heavy, jadi kalau kamu suka suara yang lebih netral dan analitik, perlu sedikit bermain-main dengan equalizer di aplikasi Xiaomi Earbuds yang tersedia gratis di Android maupun iOS.
Vokal dan frekuensi menengah secara umum jernih. Vokal perempuan terdengar sangat hidup, sementara untuk vokal pria ada sedikit kehangatan dari bass yang meluber tipis ke area ini, tapi tidak sampai mengganggu kejelasan artikulasi.

Frekuensi tinggi adalah area di mana kehadiran tweeter keramik ganda benar-benar terasa bedanya. Simbal, petikan gitar akustik, dan detail perkusi terdengar tajam dan transparan dengan mikro-detail yang rapi, tanpa terasa menusuk meski didengarkan lama.
Untuk fitur spasial audio, integrasi Dolby Audio dengan dynamic head tracking bekerja sangat meyakinkan. Saya coba tonton film berformat Dolby Atmos dan efek surround tiga dimensinya terasa nyata, bukan sekadar trik reverb biasa. Buat gaming juga lumayan imersif, terutama untuk game tembak-tembakan di mana posisi suara penting.
Di aplikasi Xiaomi Earbuds tersedia equalizer 8-band kustom plus empat preset bawaan (Balanced, Enhanced Bass, Enhanced Treble, dan Enhanced Voice) bagi yang tidak mau repot utak-atik manual.
Peredaman Suara & Mikrofon

Salah satu fitur yang paling saya tunggu-tunggu untuk diuji adalah ANC-nya. REDMI Buds 8 Pro mengusung teknologi Smart ANC yang diklaim mampu meredam kebisingan hingga 55 dB dengan bandwidth hingga 5 kHz, lebih luas 20 % dibanding generasi sebelumnya.
Yang menarik, pengaturan levelnya tidak terkunci di satu titik saja, kamu bisa atur sendiri seberapa kuat peredaman yang diinginkan lewat slider dari Light ke Deep langsung di aplikasi Xiaomi Earbuds, tanpa harus bongkar menu yang rumit.
Ada juga fitur Immersive Commute yang menarik: mode ini menggabungkan ANC dengan suara ambient yang menenangkan, dan bisa dipilih sesuai situasi, mulai dari mode Airplane, Public Transit, hingga Train. Saya sendiri belum sempat mencoba mode Train secara langsung, tapi keberadaan mode-mode ini menunjukkan bahwa Xiaomi memang merancang TWS ini dengan mempertimbangkan berbagai skenario mobilitas penggunanya.
Saya uji ANC di dua skenario nyata:
Di pinggir jalan yang cukup ramai, suara knalpot dan deru kendaraan diredam dengan sangat baik. Saya tidak perlu menaikkan volume musik secara berlebihan untuk bisa menikmati lagu tanpa terganggu. Ini sudah jauh berbeda dari pengalaman saya dengan TWS di bawah 500 ribuan yang pernah saya pakai sebelumnya.
Yang paling berkesan buat saya adalah saat mencobanya di kafe yang sedang ramai. Waktu itu kondisinya memang rame banget, bukan cuma satu dua kelompok orang yang ngobrol, tapi banyak. Begitu saya aktifkan ANC ke mode Deep, suara obrolan itu benar-benar tidak terdengar. Saya sampai agak kaget sendiri, efeknya lebih baik dari yang saya ekspektasikan.
Hanya saja, saya harus jujur: saya tidak bisa berlama-lama di mode Deep ini. Ada sensasi yang agak tidak nyaman saat saya membuka earpiece, semacam perubahan tekanan penerimaan suara yang tiba-tiba. Mungkin karena telinga saya belum terbiasa. Jadi untuk pemakaian harian yang lebih lama, saya biasanya pakai mode ANC di level yang lebih rendah.
Mode transparansi cukup fungsional untuk keperluan sehari-hari seperti tetap waspada saat berjalan di trotoar, meski reproduksi suara luarnya masih terasa kurang natural dibanding kompetitor yang lebih fokus di fitur ini.
Untuk mikrofon, sistem Triple-Mic per earbud bekerja sangat baik di ruangan tertutup maupun di pinggir jalan dengan kebisingan sedang. Kelemahannya muncul saat angin berhembus kencang, misalnya saat berkendara motor.
Algoritma AI-nya kadang terlalu agresif meredam angin sampai memotong frekuensi vokal saya sendiri, hasilnya suara saya terdengar agak muffled atau putus-putus di ujung lawan bicara. Dalam kondisi seperti ini, saya akhirnya memilih pakai speaker ponsel saja.
Konektivitas & Latensi

Dari sisi konektivitas, REDMI Buds 8 Pro sudah menggunakan Bluetooth 5.4 yang memberikan koneksi lebih stabil dan efisien dibanding generasi sebelumnya. Dalam penggunaan sehari-hari di kafe atau kantor, jangkauan efektifnya mencapai sekitar 10 meter dan saya tidak pernah mengalami putus koneksi mendadak selama berbagai sesi pemakaian.
REDMI Buds 8 Pro mendukung Dual Device Connection, artinya bisa terhubung ke dua perangkat sekaligus tanpa batasan merek. Saya sendiri mencobanya dengan menghubungkan ke realme 16 Pro sekaligus laptop, dan perpindahan audio antarperangkat berjalan mulus. Bisa juga ke dua HP berbeda merek sekaligus, dengan batas maksimal dua perangkat.
Selain itu ada fitur Audio Sharing yang berbeda fungsinya: fitur ini memungkinkan dua pasang REDMI Buds 8 Pro mendengarkan audio yang sama dari satu sumber secara bersamaan. Sayangnya fitur ini terbatas pada perangkat Xiaomi tertentu seperti Xiaomi 15, Xiaomi 14, dan Xiaomi Pad 7 Pro.
Satu fitur yang ternyata cukup berguna buat saya secara pribadi adalah Find Your Earphones. Saya termasuk orang yang sering lupa menaruh TWS atau salah satu earbud tiba-tiba jatuh tanpa sadar.
Dengan fitur ini, saya bisa membunyikan alarm di earbud kiri, kanan, atau keduanya sekaligus langsung dari aplikasi Xiaomi Earbuds. Fitur ini bekerja dengan baik saat saya coba. Satu catatan penting: fitur ini hanya berfungsi saat earbud dalam kondisi terbuka (di telinga atau di luar casing), tidak bisa diaktifkan saat earbud tersimpan di dalam casing yang tertutup.

Buat pengguna ekosistem HyperOS, pairing bisa dilakukan instan lewat pop-up animasi saat casing dibuka, tanpa perlu instal aplikasi tambahan. Untuk pengguna di luar HyperOS seperti saya, semua fitur kustomisasi tetap tersedia lengkap di aplikasi Xiaomi Earbuds.
Google Fast Pair juga hadir untuk deteksi otomatis cepat di ponsel Android.
Untuk gaming, Mode Game menjaga latensi di level sangat minim. Saya coba beberapa sesi Call of Duty Mobile dan sinkronisasi antara visual dan efek suara terasa presisi, tidak ada gejala delay yang mengganggu refleks.
Satu catatan minor: saat LDAC di mode kualitas tertinggi di area sangat padat frekuensi radio seperti pusat perbelanjaan ramai, sesekali ada stuttering tipis. Kondisi ini jarang terjadi tapi perlu diketahui.
Ketahanan Baterai

Baterai memang sering jadi pertimbangan utama saat memilih TWS, terutama buat yang sering bepergian atau bekerja seharian. REDMI Buds 8 Pro hadir dengan kapasitas 54 mAh per earbud dan 480 mAh di casing.
Menurut klaim resmi Xiaomi, dengan codec AAC dan ANC dimatikan, earbud bisa bertahan hingga 8 jam per sesi dengan total sekitar 33 jam termasuk casing. Dalam pemakaian nyata saya dengan LDAC aktif dan ANC di level sedang, daya tahannya turun ke kisaran 5 hingga 6 jam per pengisian earbud. Wajar mengingat beban kerja yang cukup berat berjalan bersamaan.
Saya juga sempat mengalami sendiri betapa cepatnya baterai terkuras. Suatu malam saya lupa menaruh earbud kembali ke casing sebelum tidur, dan pagi harinya baterai sudah tersisa sekitar 2 persen saja. Jadi memang perlu kebiasaan untuk selalu mengembalikan earbud ke casing setelah selesai dipakai.
Yang paling saya suka dari sisi baterai adalah Fast Charging-nya. Isi selama 5 menit, langsung dapat durasi putar hingga 2 jam. Sangat berguna di situasi buru-buru. Isi penuh earbud di dalam casing butuh sekitar 1 jam, sementara isi casing dari kosong sampai penuh lewat USB-C butuh sekitar 2 jam.
Simpulan

REDMI Buds 8 Pro adalah salah satu TWS paling "value for money" yang bisa kamu dapat di kisaran harga satu jutaan saat artikel ini ditulis. Harganya di mi.co.id saat ini Rp948.000, naik sedikit dari harga rilis Rp899.000, tapi paket yang ditawarkan tetap sangat kompetitif.
Kombinasi tiga driver koaksial dengan DAC ganda, ANC 55 dB, codec hi-res LDAC dan LHDC 5.0, plus integrasi Dolby Audio adalah paket yang biasanya hanya ditemukan di produk flagship berlabel dua hingga tiga kali lipat harganya.
Buat saya yang sudah terbiasa dengan TWS di bawah 500 ribuan, perbedaannya benar-benar terasa, baik dari sisi kualitas suara, efektivitas ANC, maupun fitur-fitur pendukungnya.
Ada beberapa kompromi yang perlu diketahui, terutama di performa mikrofon saat angin kencang, sensasi tidak nyaman di mode ANC Deep untuk pemakaian lama, dan tuning bass yang mungkin perlu disesuaikan bagi yang suka suara netral.
Tapi secara keseluruhan, REDMI Buds 8 Pro layak jadi pertimbangan utama, terutama bagi kamu yang ingin naik kelas dari TWS entry-level tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Kelebihan
- Suara tiga driver koaksial terasa nyata: bass bertenaga, vokal jernih, treble tajam tanpa distorsi.
- ANC mode Deep sangat efektif, bahkan di kafe ramai penuh obrolan pun bisa hening.
- ANC 55 dB dengan bandwidth 5 kHz, lebih luas 20 % dari generasi sebelumnya. Ada juga High-Speed Rail Mode, meski saya pribadi belum sempat mencobanya.
- Codec LDAC dan LHDC 5.0 didukung, aktif otomatis di banyak ponsel Android modern.
- Dual Device Connection lintas merek, bisa konek ke dua perangkat sekaligus.
- Find Your Earphones bekerja baik, bisa cari earbud kiri, kanan, atau keduanya via aplikasi.
- Gestur slide di tangkai untuk kontrol volume langsung, tanpa perlu sentuh ponsel.
- Tiga pilihan warna tersedia di Xiaomi Indonesia: Obsidian Black, Glacier Blue, Cloud White.
- LED indikator baterai di casing, informatif dan praktis.
- Fast Charging: 5 menit cas, dapat 2 jam putar.
- Bobot ringan 5,3 gram per earbud, nyaman dipakai lama.
- Sertifikasi IP54, tahan keringat dan cipratan air.
Kekurangan
- Mode ANC Deep menimbulkan sensasi tidak nyaman saat earpiece dibuka, kurang cocok untuk pemakaian sangat lama.
- Tuning bawaan bass-heavy, perlu atur equalizer dulu untuk suara yang lebih netral.
- Mikrofon kurang optimal saat angin kencang, suara bisa muffled atau putus-putus.
- Mode transparansi kurang natural dibanding kompetitor yang fokus di fitur ini.
- LDAC di mode kualitas tertinggi kadang stuttering di area padat frekuensi radio.
- Find Your Earphones tidak berfungsi saat earbud tersimpan di dalam casing tertutup.
- Promo Spotify Premium hanya untuk pengguna baru, setingkat Standard (bukan Individual), butuh akun Mi, dan berlaku hingga 8 Agustus 2026.
- Daya tahan baterai turun ke 5 - 6 jam saat LDAC dan ANC aktif bersamaan.

