10 Kelebihan dan Kekurangan HP ASUS Zenfone dan ROG Phone
Industri smartphone terus bergerak cepat, dan setiap produsen berusaha mencari identitasnya masing-masing. Namun, identitas ASUS paling jelas yakni menghadirkan ponsel sebagai pelengkap portofolio mereka.
Saya juga dapat info bahwa memang fokus ASUS ada di laptop. Persaingan di ponsel cukup keras sehingga mereka ada di posisi yang seolah-olah tidak terlalu masalah jika lini ponsel mereka laku keras atau tidak.
Meski begitu, setiap kali merilis Zenfone series maupun ROG Phone series, ASUS selalu berhasil menarik perhatian lewat spesifikasi dan fitur yang kompetitif. Dua lini ini menunjukkan bahwa ASUS sebenarnya mampu menghadirkan konsep produk yang kuat. Mereka menawarkan performa tinggi, fitur fungsional, dan pengalaman penggunaan yang berbeda dari kompetitor.
Lantas, apakah ponsel ASUS, baik Zenfone maupun ROG Phone sebenarnya bagus meski fokus mereka tidak ada di lini ini? Untuk mengetahuinya, mari simak berbagia kelebihan HP ASUS Zenfone maupun ROG Phone secara umum berikut ini.
Kelebihan HP ASUS
Apa saja kelebihan yang ditawarkan oleh HP ASUS? Simak 5 poin keunggulannya berikut ini.
1. Selalu Hadirkan Ponsel dengan Performa TinggiÂ

Performa masih menjadi identitas paling kuat dari HP ASUS di tahun 2025 dan 2026. Perusahaan ini secara konsisten menempatkan performa sebagai pondasi utama produknya. Hal ini terlihat dari produk mereka yang rilis di 2025 yakni Zenfone 12 Ultra, ROG Phone 9, dan ROG Phone 9 Pro.
Ketiganya sama-sama menggunakan Snapdragon 8 Elite, sementara ROG Phone 9 FE memakai Snapdragon 8 Gen 3 yang juga masih sangat kencang.
ASUS memang ingin hadirkan ponsel yang benar-benar kencang dan semua fitur ada. Apalagi ROG Phone yang jelas harus kencang karena identitas gaming melekat pada produk tersebut.
ROG Phone 9 series ditujukan untuk pengguna yang membutuhkan kestabilan performa dalam durasi panjang. Kecepatannya tidak hanya terasa di menit awal, tetapi tetap konsisten bahkan saat menjalankan gaming berat. Sistem pendingin internal yang efisien menjaga temperatur tetap stabil, dan AeroActive Cooler X bisa ditambahkan sebagai pendinginan aktif saat diperlukan.
Di sisi lain, Zenfone ditujukan bagi pengguna yang menginginkan pengalaman harian berkelas professional. Tenaganya tetap sama garang, tetapi desain dan pendekatannya lebih elegan tanpa nuansa perangkat gaming.
Aktivitas seperti multitasking berat, pengeditan video 4K berbantuan gimbal, hingga kebutuhan respons antarmuka yang cepat bisa dijalankan dengan mulus.
Dengan memberikan karakter yang berbeda bagi ROG Phone dan Zenfone, ASUS mampu menjaga performa tetap relevan untuk berbagai segmen. ROG Phone 9 series menjadi pilihan ideal bagi pengguna yang mengutamakan kestabilan ekstrem untuk gaming.
Seri Zenfone seperti Zenfone 11 Ultra dan 12 Ultra sendiri cocok bagi mereka yang membutuhkan performa tinggi tanpa tampilan mencolok. Pada akhirnya, performa tetap menjadi identitas paling kuat HP ASUS, diperkuat oleh keyakinan mereka yang konsisten pada teknologi Qualcomm.
Kerjasama dengan Qualcomm tampaknya berlanjut. Paslanya, pada September 2025, Qualcomm telah merilis Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan akan menyusul dengan Snapdragon 8 Gen 5 pada Desember.
Dugaan saya, melihat pola perilaku ASUS selama bertahun-tahun, sangat mungkin generasi ROG Phone berikutnya akan menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 sebagai dapur pacu utamanya.
Sementara itu, Snapdragon 8 Gen 5 berpotensi hadir pada ROG Phone varian standar atau terjangkau, atau bisa saja menjadi chipset untuk penerus Zenfone 12 Ultra. Dari pola tersebut terlihat jelas bahwa ASUS selalu membenamkan chipset kencang pada setiap lini unggulannya, dan mereka secara konsisten mempercayakan tenaga tersebut kepada Qualcomm.
2. Hadirkan Produk yang Lebih Tersegmentasi

Sejak 2020, ASUS sudah tidak lagi berfokus pada smartphone murah. Mereka mengarahkan sumber daya pada perangkat yang lebih premium dan lebih tersegmentasi. Mereka hanya fokus pada ROG Phone dan Zenfone.
Saya pribadi melihat strategi seperti ini sebagai langkah yang tepat. ASUS memiliki reputasi kuat di ranah PC Desktop dan aksesorisnya, namun persaingan di dunia mobile berjalan jauh lebih agresif.
Karena itu, keputusan untuk menghadirkan produk yang lebih tersegmentasi terasa lebih realistis dan lebih sesuai dengan posisi mereka di pasar smartphone yang kompetitif.
Contoh paling terlihat ada di kelas tertinggi. ROG Phone 9 series hadir sebagai perangkat yang memprioritaskan pengalaman gaming. Fitur seperti AirTriggers, port USB-C ganda, dan performa tinggi dari Snapdragon 8 Elite menjadikannya pilihan matang bagi para gamer.
Di sisi lain, Zenfone 11 dan 12 Ultra tampil sebagai perangkat videografi yang serius melalui 6-Axis Hybrid Gimbal Stabilizer yang sangat membantu menghasilkan rekaman stabil.
Di lini ROG Phone 9 dan 9 Pro, ASUS memperlihatkan kecermatan dalam memilih prioritas. Mereka tetap mempertahankan Snapdragon 8 Elite, begitu pula fitur inti seperti AirTriggers.
ROG Phone 9 FE menjadi opsi yang menarik bagi pengguna yang ingin masuk ke ekosistem gaming ROG dengan biaya yang lebih terjangkau. Harganya hanya Rp7 jutaan, malah bisa dapat Rp6 jutaan di momen tertentu.
Harga murah ini bisa dicapai karena ROG Phone 9 Fe memakai cip Snapdragon 8 Gen 3, yang performanya di bawah Snapdragon 8 Elite tapi masih kencang karena banyak dipakai di ponsel flagship 2023 dan 2024.
Meski kehilangan fitur seperti kamera telefoto, ciri khas ROG tetap hadir karena AirTriggers tetap dipertahankan.
Menurut saya, strategi seperti ini menunjukkan bahwa ASUS memilih bergerak lebih fokus dalam persaingan smartphone. Mereka mempertajam keunggulan yang sudah terbukti dan membawanya ke berbagai segmen dengan cara yang lebih terarah.
3. Kualtias Audio Baik dan Masih Mempertahankan Port Audio Jack

Bagian ini mungkin sepele tapi patut diapresiasi. Di saat banyak smartphone flagship mulai mengurangi fitur-fitur penting, ASUS justru mempertahankan salah satu elemen yang semakin langka, yaitu kualitas audio.
Komitmen ini terasa kuat pada lini Zenfone dan ROG Phone series. ASUS menunjukkan bahwa mereka masih mendengar kebutuhan komunitas audiophile dan para gamer yang mengutamakan presisi suara. Hal itu terlihat dari tidak dihilangkannya port audio 3.5 mm. Baik Zenfone 12 Ultra maupun ROG Phone 9 series tetap mempertahankan fitur ini.Â
Saya mengapresiasi ASUS karena masih mempertahankan port audio jack ini. Meski pembeli ponsel mahal mungkin bisa membeli TWS yang juga mahal, bagi sebagian orang pengalaman memakai earphone atau headset kabel tetap berbeda dan memiliki kualitas tersendiri yang sulit digantikan.
Untuk seorang audiophile, jack 3.5 mm berarti mereka bisa langsung memasangkan headphone high-end tanpa perlu dongle tambahan. Koneksi kabel memberikan kualitas suara tanpa kompresi yang sulit ditandingi koneksi nirkabel.
Bagi para gamer, jack audio juga memberikan keuntungan besar. Koneksi kabel menawarkan zero latency, sehingga tidak ada jeda antara suara dalam game dan apa yang terdengar di telinga.
4. Selalu Hadirkan Ponsel dengan Build Quality yang Solid

ASUS tidak hanya mengandalkan spesifikasi internal, tetapi juga memberikan perhatian besar pada build quality. Banyak reviewer menilai Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9 series sebagai perangkat yang langsung terasa kokoh dan premium saat digenggam.
ASUS menggunakan material kelas atas seperti rangka aluminium yang kuat serta kaca pelindung Gorilla Glass terbaru di bagian depan dan belakang. Material tersebut memberi rasa solid dan durabilitas yang sepadan dengan kelas harganya.
Salah satu peningkatan besar adalah hadirnya sertifikasi ketahanan air dan debu. Saat ROG Phone 7 dirilis, perangkat tersebut hanya memiliki sertifikasi IP54 yang berarti perlindungan masih terbatas.
Sertifikasi ini hanya memastikan perangkat tahan debu ringan dan mampu bertahan dari semprotan air dari sudut tertentu. Untuk perangkat gaming yang memiliki banyak port gaming dan jalur ventilasi, kondisi tersebut dianggap wajar karena sulit meraih perlindungan yang lebih tinggi.
Menariknya, ASUS berhasil membawa sertifikasi IP68 ke ROG Phone 8 lalu meneruskannya ke ROG Phone 9 series. Sertifikasi IP68 sangat jarang ditemui pada ponsel gaming karena desainnya cenderung memiliki lebih banyak bukaan fisik.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ASUS mampu menyeimbangkan performa tinggi dengan ketahanan fisik yang lebih baik. Memasuki 2025, sertifikasi IP68 sudah menjadi standar di lini flagship mereka, termasuk Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9 series.
Perlindungan penuh dari debu serta kemampuan bertahan di dalam air menutupi kekurangan lama pada seri ROG dan memberi rasa aman lebih besar dalam penggunaan sehari-hari.
Walau berbagi material premium yang serupa, kedua lini tetap memiliki gaya desain yang berbeda. Zenfone 12 Ultra tampil elegan, bersih, dan professional, cocok bagi pengguna yang menginginkan perangkat rapi tanpa gaya mencolok.
Sementara itu, ROG Phone 9 series mempertahankan identitas gaming yang kuat meski tampil lebih matang. Kehadiran layar mini-LED AniMe Vision pada beberapa model Pro dan desain tangguh pada varian FE menunjukkan bahwa build yang kuat diterapkan ASUS secara konsisten di seluruh jajaran.
5. Pilihan UI yang Fungsional dan Sesuai Segmennya

Pendekatan ASUS dalam mengembangkan software menjadi salah satu keunggulan yang cukup menonjol. ASUS tidak memaksakan satu antarmuka untuk semua perangkat, melainkan menyediakan dua UI berbeda yang disesuaikan dengan karakter setiap lini. Cara ini membuat pengalaman pengguna terasa lebih tepat sasaran.
Untuk Zenfone series, ASUS menghadirkan ZenUI. Antarmuka ini digemari banyak power user serta pengguna yang menyukai tampilan Android murni. ZenUI terasa ringan, bersih, dan minim bloatware, sehingga memberikan pengalaman yang sangat dekat dengan Android stok.
Meski tampil sederhana, ASUS tetap menambahkan fitur AI dan opsi kustomisasi yang fungsional tanpa membuat antarmuka terasa berat.
ROG Phone series menggunakan ROG UI yang memiliki fokus berbeda. Menariknya, ROG UI sebenarnya merupakan pengembangan dari ZenUI, lalu diperluas dengan berbagai fitur khusus gaming.
Core-nya sebenarnya sama, namun ASUS menambahkan kemampuan lebih jauh melalui Armoury Crate, pengaturan performa per-game, penyesuaian sensitivitas AirTriggers, hingga opsi kustomisasi perangkat keras yang lebih mendalam. Tidak mengherankan jika ROG Phone menjadi lini ASUS dengan fitur gaming paling lengkap.
ASUS menghadirkan dua UI ini terbukti efektif. Zenfone series menawarkan antarmuka yang ringan, sederhana, dan ideal untuk produktivitas harian. Di sisi lain, ROG Phone series memberikan UI yang punya fitur untuk mendukung pengalaman bermain game yang menyenangkan.
Kekurangan HP ASUS
Setelah mengetahui kelebihan HP ASUS, sekarang pertanyaannya, apa saja kekurangan dari HP ASUS? Simak poin-poin kekurangannya berikut ini.
1. Update Software Tidak Sepanjang Para Pesaing

Meski antarmuka ASUS seperti ZenUI dan ROG UI tergolong nyaman, ringan, dan minim bloatware, kualitas UI yang baik tersebut tidak diimbangi dengan dukungan pembaruan software yang panjang.
Ini menjadi salah satu kelemahan terbesar lini ponsel ASUS. Banyak brand ponsel di kelas premium sudah memberikan masa dukungan yang jauh lebih panjang, sedangkan ASUS masih tertinggal cukup jauh dari standar tersebut.
Saat ini Samsung menawarkan tujuh tahun pembaruan OS dan tujuh tahun patch keamanan untuk lini flagship terbarunya. OPPO lewat Find X9 series memberikan lima kali pembaruan OS dan enam tahun patch keamanan. vivo pun tidak mau ketinggalan, karena X300 series mendapatkan lima tahun pembaruan OS dan tujuh tahun patch keamanan.
Komitmen jangka panjang seperti ini memberi nilai investasi yang besar karena perangkat tetap aman, stabil, dan relevan lebih lama.
Sebaliknya, ASUS masih mempertahankan kebijakan lama. Untuk lini flagship 2025 seperti Zenfone series dan ROG Phone series, masa pembaruan masih pendek. ASUS hanya menjanjikan dua pembaruan besar OS serta empat tahun patch keamanan. Untuk perangkat di kelas harga premium, angka ini terasa sangat kurang kompetitif.
Saya berharap di masa depan, ponsel ASUS (ROG Phone dan Zenfone generasi baru) mendapat pembaruan OS yang lebih panjang sehingga terasa sekali premiumnya.
2. Zenfone Kehilangan Identitas, Berbanding Terbalik dengan Strategi ROG

Kekurangan ASUS selanjutnya adalah hilangnya identitas Zenfone sebagai ponsel compact yang dulu menjadi ciri khasnya. Pada generasi sebelumnya seperti Zenfone 8, 9, dan 10, ASUS berhasil menempati ceruk pasar yang sangat spesifik.
Zenfone dikenal sebagai flagship Android yang benar-benar compact, menghadirkan tenaga besar dalam ukuran kecil. Banyak pengguna menginginkan perangkat kecil namun tetap bertenaga, dan Zenfone menjadi satu-satunya pilihan yang memenuhi kebutuhan tersebut.
Identitas itu mulai memudar sejak hadirnya Zenfone 11 Ultra dan berlanjut ke Zenfone 12 Ultra. Zenfone berubah menjadi ponsel besar, mengikuti tren flagship modern.
Kini Zenfone hanya tampak seperti versi yang lebih formal dari ROG Phone series, tanpa karakter pembeda yang kuat. Pergeseran ini membuat banyak penggemar loyal merasa kehilangan opsi compact yang dulu menjadi alasan utama memilih Zenfone.
Menurut saya, perubahan ini dipicu tren pasar smartphone saat ini. Ponsel makin besar dan model compact dianggap kurang laku. Apple pun menghentikan varian mini setelah iPhone 13 mini karena penjualannya tidak memuaskan.
Padahal, jika Zenfone tetap mempertahankan identitas compact, ASUS masih bisa menguasai ceruk pasar yang sebenarnya masih dibutuhkan. Buktinya, banyak pengguna tertarik dengan vivo X200 Pro mini atau vivo X200 FE yang menawarkan konsep perangkat kecil namun tetap bertenaga.
Di sisi lain, strategi ROG Phone series masih sangat jelas dan konsisten. ASUS memanfaatkan kekuatan brand Republic of Gamers dan menghadirkan smartphone yang identitasnya tegas sebagai perangkat gaming.
Fokus tersebut membuat ROG berhasil mendominasi pasar smartphone gaming dan memberikan margin yang sehat. Keberhasilan itulah yang mendorong ASUS menyatukan fondasi desain antara ROG Phone dan Zenfone.
Pada akhirnya, langkah baru Zenfone merupakan strategi efisiensi. ASUS kini hanya perlu mengembangkan satu sasis inti dari ROG Phone lalu membaginya menjadi dua produk: satu untuk pengguna gaming, dan satu lagi dengan tampilan lebih kalem untuk penggunaan umum.
Pendekatan ini memang menghemat biaya riset dan produksi, namun harus dibayar dengan hilangnya identitas Zenfone sebagai ponsel compact yang dulu punya daya tarik kuat.
3. Kualitas Foto Masih Tertinggal dari Pesaing

ASUS sebenarnya memiliki keunggulan kuat di sisi video, terutama pada Zenfone 12 Ultra yang dibekali gimbal sangat stabil. Namun untuk kualitas foto, ASUS masih menghadapi kelemahan yang cukup nyata. Pada pemotretan still image, hasil foto seringkali belum sebanding dengan kelas harganya yang premium.
Kamera pada Zenfone 12 Ultra maupun ROG Phone series sebenarnya tergolong baik. Masalahnya muncul ketika dibandingkan dengan para pesaing di kelas flagship. Dalam banyak kasus, kualitas foto ASUS masih berada di bawah perangkat lain seperti Samsung Galaxy S25 atau iPhone 16 Pro Max, terutama dalam skenario pemotretan sehari-hari.
Kekurangan ini bukan berasal dari sisi hardware, karena ASUS sudah memakai sensor Sony yang bagus. Masalah utamanya ada pada computational photography atau cara gambar diproses lewat software.
Saat dibandingkan langsung, foto dari ASUS sering kalah dalam rentang dinamis, warna kulit terlihat kurang akurat, dan hasil pada kondisi low-light cenderung kehilangan detail karena algoritmanya belum sekuat para pesaing.
Kekurangan kamera ini juga hadir di ROG Phone series. Meski kamera buka yang jadi utama, menurut saya untuk sebuah ponsel harga belasan juta, harusnya semua spesifikasi yang ditawarkan seimbang.
Sebenarnya hasil foto ROG Phone masih memadai untuk kebutuhan media sosial, tetapi jika dibandingkan dengan flagship non-gaming di kelas harga yang sama, perbedaannya terasa cukup signifikan.
4. Fitur Link to MyASUS yang Belum Optimal

ASUS memiliki aplikasi yang sebenarnya cukup menarik untuk menghubungkan ponsel dan laptop, yaitu Link to MyASUS. Aplikasi ini pada dasarnya bagus, tetapi banyak pengguna justru mengeluhkan pengalamannya.
Masalah yang paling sering muncul adalah konektivitas: perangkat kadang tidak saling menemukan atau koneksi tiba-tiba terputus meski ponsel dan PC berada di jaringan Wi-Fi yang sama. Bahkan ketika koneksi berhasil terbentuk, pengalaman yang didapat sering mengecewakan.
Pengguna melaporkan performa lambat dan lag signifikan, terutama pada fitur screen mirroring. Proses transfer file juga rawan masalah dan sering buggy; ada kasus transfer selesai tapi file tidak muncul di galeri ponsel, atau gagal tanpa penjelasan jelas.
Lebih parah lagi, banyak yang menilai MyASUS terasa penuh fitur tapi berantakan, bahkan seperti bloatware. Fungsionalitasnya sangat bergantung pada driver PC tertentu, misalnya "ASUS System Control Interface", yang harus selalu diperbarui agar segala sesuatunya bekerja.
Mereka harus belajar dari Motorola yang punya fitur Smart Connect dengan performa yang lebih mulus dan lebih baik.
5. Garansi Ponsel Tidak Seistimewa Garansi Laptop

Kekurangan ASUS berikutnya ada pada kebijakan purna jual, khususnya ketika membandingkan garansi ponsel dan laptop. Meski keduanya ditangani oleh pusat servis yang sama, perlindungan yang diberikan untuk laptop terasa jauh lebih komprehensif. Ini menjadi poin penting bagi konsumen yang mengutamakan perlindungan jangka panjang.
Saya pribadi pernah datang ke ASUS Service Center dan menurut saya pelayanannya bagus. Stafnya jelas dan responsif. Hanya saja pengalaman saya baru sebatas untuk produk laptop. Untuk ponsel, saya belum pernah melakukan klaim servis secara langsung. Jadi, dari sisi layanan, ASUS sudah baik.
Namun yang saya kritisi adalah kebijakan garansinya untuk perangkat ponsel, bukan kualitas pelayanannya.
Perbedaan utama terlihat pada masa berlaku garansi. Untuk ponsel ASUS seperti Zenfone series dan ROG Phone series, masa garansi standar hanya 12 bulan. Memang cukup umum tetapi menurut saya, untuk sebuah ponsel premium, garansinya harusnya bisa lebih baik.
Sebagai perbandingan, beberapa brand lain sudah menawarkan garansi default 15 bulan tanpa biaya tambahan. Bahkan pada periode promosi, beberapa pesaing berani memberikan tambahan garansi 6 bulan sehingga total perlindungannya bisa mencapai 18 bulan.
Jika tidak bisa ada garansi tambahan, seharusnya ada layanan garansi berbayar. Misalnya seperti Samsung Samsung menawarkan program perlindungan tambahan bernama Samsung Care+. Layanan berbayar ini mencakup perbaikan kerusakan akibat kelalaian pengguna, seperti perangkat yang terkena cairan atau layar yang retak.
ASUS tidak memiliki perlindungan tambahan yang sebanding untuk lini ponsel mereka, sehingga pengguna ponsel ASUS mendapatkan perlindungan yang jauh lebih terbatas.
Di sisi lain, laptop ASUS memberikan paket garansi yang lebih unggul. Banyak model premium Zenbook dan ROG hadir dengan garansi dua tahun sebagai standar, ditambah dengan International Warranty Service (IWS) yang memungkinkan klaim di berbagai negara.
ASUS Indonesia juga sering memberi nilai tambah berupa ASUS Perfect Warranty yang menanggung kerusakan akibat kelalaian pengguna selama tahun pertama.
Keuntungan-keuntungan seperti ini tidak tersedia untuk ponsel ASUS, sehingga perbedaan kualitas garansinya semakin terasa. Dari sini, tampak kalau ASUS memang sangat memprioritaskan produk laptop mereka jika dibandingkan produk ponsel.
Simpulan
Melihat seluruh kelebihan dan kekurangannya, langkah ASUS di pasar ponsel memang terasa setengah hati. Mereka memiliki produk yang sebenarnya sangat menarik, baik dari sisi performa, desain, hingga fitur-fitur unik seperti gaming dan videografi.
Namun komitmen jangka panjangnya tidak sekuat yang mereka tunjukkan di pasar laptop. Di segmen laptop, ASUS berani berinvestasi besar, membangun ekosistem kuat, memberi garansi panjang, dan menghadirkan inovasi yang konsisten.
Sayangnya, strategi agresif seperti itu belum terlihat pada lini ponsel mereka. Beberapa keputusan justru membuat ASUS kehilangan momentum dan identitas, terutama pada Zenfone series yang dulu dikenal sebagai pilihan compact terbaik.
Jadi menurut saya, lini ponsel ASUS pada dasarnya adalah pelengkap portofolio produk mereka. Pasalnya, mereka sudah bermain di ranah PC Desktop, laptop, aksesoris, bahkan handheld. Produk ponsel mereka tetap hadirkan mungkin biar tetap relevan di industri.
