carisinyal web banner retina

Inilah Negara Asal Berbagai Brand HP Populer di Indonesia

Ditulis oleh Ahmad Tsalis

Telepon genggam atau lebih familier disebut handphone (HP) telah menjadi perangkat yang tak tergantikan bagi manusia. Apa pun urusannya, di mana pun tempatnya, HP selalu jadi solusi pertama yang dituju. Tak heran bila sebagian orang meyakini bahwa HP adalah salah satu benda yang paling berarti dalam hidup.

Sejak muncul pertama kali pada abad ke-20, HP mengalami transformasi bentuk dan kegunaan. Dulu sebuah HP punya antena dan banyak tombol. Kini perangkat telekomunikasi ini hanya berupa sebentang layar dengan dua sampai tiga tombol saja.

Yang semula hanya bisa untuk menelepon dan mengirim SMS, kini bisa memotret, merekam, dan mengendalikan perangkat lain. Perubahan-perubahan itu tentu muncul berkat dedikasi berbagai brand untuk melakukan inovasi.

Dalam artikel ini, Carisinyal akan membahas negara asal brand-brand yang memproduksi HP. Mayoritas brand yang disebutkan di daftar ini masih aktif dan pernah memasarkan produknya di Indonesia. Berikut dapat Anda simak daftarnya sampai habis.

Amerika Serikat

1. Apple

logo apple

Apple semula adalah perusahaan komputer, mesin printer, dan periferal. Perusahaan yang berbasis di California, Amerika Serikat ini, punya tokoh kunci Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne. Namun, kejadian yang menimpa perusahaan pada dekade 90-an mengubah Apple seutuhnya.

Kejadian itu adalah merosotnya pangsa pasar Apple karena duopoli Windows dan Intel yang menciptakan komputer dengan harga miring. Apple akhirnya mencoba peruntungan dengan melakukan diversifikasi produk ketika memasuki era 2000-an. Salah satu yang mereka ciptakan adalah ponsel iPhone.

HP tersebut meluncur kali pertama di dunia pada 2007. iPhone menggebrak dunia karena membuang ciri khas ponsel zaman itu, yakni keberadaan keypad. Selain tampil beda, iPhone semakin diminati lantaran tampilannya sederhana, aman, dan memiliki performa yang andal untuk jangka waktu lama.

2. Google Pixel

google pixel 7 pro featured image_

Google tak pernah berambisi memiliki divisi hardware sejak mengakuisisi Android pada 2005. Sampai akhirnya, mereka membeli Motorola Mobility pada 2011. Motorola berada dalam masa sulit dan Google datang sebagai penyelamat. Hanya, keputusan Google meminang Motorola menimbulkan kecemburuan bagi brand lain.

Brand lain menilai Google sebagai pengembang Android akan menganakemaskan Motorola. Atas dasar itu, Google menjual Motorola ke Lenovo pada 2014. Beberapa tahun berselang, Google berubah pikiran. Mereka ingin membikin ponsel sendiri. Google sebenarnya sudah punya Nexus, tetapi pembuatannya melibatkan berbagai brand lain.

Keinginan Google akhirnya terwujud setelah mengakuisisi divisi smartphone HTC pada 2017. Merek Nexus pun dipensiunkan dan diganti dengan Pixel. Performa Pixel relatif stabil karena hardware dan software-nya dibuat sendiri oleh Google. HP ini bahkan juga diperkuat SoC rancangan Google sendiri yang namanya Tensor.

3. Motorola Mobility

motorola

Bersama Nokia, Motorola Mobility adalah perusahaan pembuat HP paling tua dan masih aktif. Perjalanan awal Motorola dimulai sebelum perang dunia kedua. Kala itu, mereka menciptakan komponen untuk radio dan berlanjut radio untuk mobil.

Bisnis telepon dan ponsel baru mereka mulai pada 1970-an. Motorola lantas semakin tenar sejak produknya jadi salah satu pilihan utama konsumen pada 80-an hingga awal 2000-an. Saat Android baru j di dunia, Motorola jadi salah satu brand awal yang mengadopsinya.

Namun, di waktu yang sama, Motorola mengalami masalah finansial. Berbagai solusi pun ditempuh. Dimulai dari memecah perusahaan menjadi dua perusahaan terpisah, yakni Motorola Mobility dan Motorola Solutions (perusahaan keamanan), lalu dilanjutkan dengan menjual saham ke Google (2011) dan berakhir dibeli Lenovo pada 2014.

Cina/Tiongkok

1. Huawei

logo Huawei

Huawei berdiri pada 1987. Ia didirikan oleh seorang insinyur bernama Ren Zhengfei. Sejak awal, Huawei memang memiliki visi menyediakan solusi telekomunikasi. Perjalanan mereka diawali dengan membangun jaringan telekomunikasi nasional RRC pada 80-an hingga 90-an.

Baru pada akhir 90-an mereka dipercaya membangun jaringan telekomunikasi di negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Bisnis mereka pun melebar ke berbagai benua, termasuk Eropa. Sukses dengan bisnis jaringan, Huawei membentuk divisi smartphone pada 2003.

Ternyata divisi ini mengalami kesuksesan hingga Huawei mesti menghadapi perang dagang Cina-AS pada 2019. Gara-gara perang tersebut, Huawei dilarang memakai teknologi dari Amerika Serikat, dan tak boleh menjual produknya ke sejumlah negara. Smartphone masih dibuat oleh Huawei. Namun, konsentrasi mereka beralih ke gawai lain seperti laptop dan wearable device.

2. Lenovo

lonovo

Lenovo mulai berjualan HP sejak 2000-an. Namun, karena ingin fokus ke industri laptop, divisi ponsel Lenovo dijual pada 2008. Baru setahun dijual, Lenovo berubah pikiran. Mereka pun kembali membeli divisi smartphone yang sebelumnya mereka jual.

Salah satu hal yang membuat mereka kembali berjualan smartphone adalah ingin menyaingi Samsung. Samsung sudah menguasai pasar smartphone Cina saat masa-masa awal Android dikenal. Perkembangan Lenovo ternyata sangat pesat. Mereka bahkan membeli Motorola Mobility pada 2014 untuk memperkuat pangsa pasar.

Upaya Lenovo untuk melebarkan sayap ditempuh dengan menciptakan beragam segmen, mengakuisisi sejumlah brand, dan menciptakan sub-brand. Namun, hanya Motorola yang eksis. Sementara itu, Lenovo juga memproduksi HP untuk segmen gaming mulai 2020. Namanya adalah Lenovo Legion, sama seperti laptop seri gaming mereka.

3. Xiaomi

logo xiaomi

Xiaomi dibentuk pada 2010. Brand ini dikenal dengan produk berspesifikasi mumpuni yang harganya bersahabat. Namun, perlu Anda tahu, awalnya Xiaomi tidak menciptakan HP, melainkan antarmuka MIUI. Pada masa awal Android muncul, MIUI jadi salah satu pilihan favorit mereka yang suka meng-custom ROM.

Xiaomi mulai berjualan ponsel sejak meluncurkan Xiaomi Mi 1 pada 2011. HP ini ludes terjual di Cina melalui flash sale, sebuah cara penjualan yang kemudian ditiru oleh banyak produsen smartphone. Dalam satu dekade setelah peluncuran Mi 1, Xiaomi mengalami perkembangan pesat.

Mereka tidak cuma menjual HP murah, tapi juga flagship papan atas. Bahkan, mereka juga menciptakan submerek POCO, membuat Redmi menjadi perusahaan independen, dan berinvestasi pada start-up HP gaming Black Shark. Pangsa pasar Xiaomi secara global berada di urutan ketiga pada 2022.

4. OPPO

logo oppo

OPPO lahir pada 2004, sembilan tahun setelah - BBK Group - induk perusahaannya berdiri. Pada 2000-an HP OPPO tidak begitu familier mengingat penjualannya hanya berada di Cina. Namun, sejak merilis OPPO N1 pada 2013, brand yang satu ini mendapat perhatian dari publik luas. OPPO N1 adalah HP Android pertama mereka.

Slogan yang membekas di benak masyarakat mengenai OPPO adalah "Selfie Expert". Slogan ini sejalan dengan produk awal mereka yang mengedepankan kemampuan kamera depan yang unggul. Namun, lambat laun, OPPO beralih visi untuk menciptakan ponsel yang mumpuni di berbagai hal.

Portofolio smartphone OPPO cukup luas. Seri A untuk ponsel kelas entri dan menengah, Reno buat ponsel kelas menengah dan menengah premium, serta Find X untuk ponsel kelas atas. OPPO memiliki anak perusahaan yang juga memproduksi ponsel. Namanya adalah OnePlus.

5. vivo

logo vivo

vivo merupakan keluarga dari OPPO karena sama-sama berada di bawah naungan BBK Group. Namun, usia vivo jauh lebih muda. Ia berdiri pada 2011, tetapi langsung merangsek ke pasar global. Strategi penjualan vivo mirip seperti OPPO, yakni memperkuat jaringan toko ritel.

Mereka juga beberapa kali mengadakan acara besar dalam rangka memperkenalkan produk baru. vivo kondang sebagai HP dengan kemampuan kamera selfie yang unggul. Namun, seiring perkembangan, mereka berupaya menciptakan HP dengan kemampuan merata, termasuk meningkatkan kemampuan kamera belakang.

Salah satu upaya yang mereka tempuh adalah menggandeng produsen lensa kamera Zeiss, dan menciptakan chip pemrosesan gambar sendiri. Kini vivo telah menjual produk mereka ke lebih dari 60 negara di dunia. Adapun vivo memiliki submerek bernama IQOO yang lahir pada 2019. Submerek ini menciptakan HP dengan performa tinggi.

6. realme

realme logo

realme lahir dari rahim OPPO. Ia dibentuk oleh Sky Li, mantan petinggi OPPO, pada 2018. realme muncul sebagai alternatif dari OPPO, tetapi dengan harga yang lebih masuk akal. Pada awal berdiri, realme masih mempergunakan sumberdaya OPPO, termasuk menggunakan antarmuka ColorOS.

Perlahan-lahan realme jadi brand yang mandiri, seiring meluasnya pasar mereka ke berbagai negara. Hingga 2022, realme telah masuk ke pasar India, Asia Tenggara, Asia Selatan, Eropa, dan tentu saja negara asal mereka yaitu Cina. Berbagai segmen HP ditawarkan oleh realme.

Misalnya, seri C untuk HP kelas entri, seri angka untuk HP kelas menengah dan menengah atas, serta realme GT buat HP flagship. Ada juga seri narzo yang dijual khusus via distribusi online.

7. Meizu

logo meizu

Meizu berdiri pada 2003. Brand ini awalnya dikenal sebagai produsen MP3 dan MP4 player. Lima tahun sesudahnya, mereka berkembang dan mulai menjual ponsel.

Pada 2011, smartphone pertama mereka, Meizu M9, meluncur di Cina. Kesuksesan besar langsung diraih Meizu. Perjalanan pun berlanjut ketika mereka memutuskan untuk terjun ke segmen flagship pada 2015 melalui seri Pro. Seri ini menemani seri M (kelas entri) dan seri MX (kelas menengah) yang telah lebih dahulu ada.

Seri Pro kemudian dilanjutkan dengan seri angka seperti Meizu 18s Pro dan Meizu 18s. Sejak meluncurkan seri flagship, Meizu kalah saing dengan brand Cina lain. Mereka jarang lagi memproduksi ponsel. Hanya hitungan jari ponsel yang dirilis Meizu tiap tahunnya. Keuangan yang sulit membuat perusahaan ini akhirnya dijual ke produsen mobil Geely pada 2022.

8. OnePlus

logo oneplus

OnePlus juga pernah mencicipi pasar HP Indonesia. Produk mereka beredar secara resmi di Indonesia pada periode 2015-2016. Persyaratan TKDN yang cukup berat jadi alasan brand ini hengkang. Maklum, saat itu OnePlus belum punya sumber daya yang kuat seperti sekarang.

OnePlus baru berdiri pada 2013. Perusahaan ini diinisiasi oleh dua pemuda bertalenta, yakni Pete Lau dan Carl Pei. Dua orang tersebut merupakan mantan petinggi OPPO. Dengan slogan "Never Settle", OnePlus menawarkan produk berspesifikasi tinggi, sistem operasi yang bersih, dan harga menarik.

Anak perusahaan dari OPPO ini awalnya memakai custom ROM favorit di masanya, yakni Cyanogen Mod, sebagai antarmuka. Namun, sejak Cyanogen Mod ditinggalkan pengembangnya, OnePlus membikin antarmuka OxygenOS yang sama bersihnya. Kini portofolio HP OnePlus meluas ke segmen entri dan menengah.

9. Coolpad

logo coolpad

Usia peredaran HP Coolpad di Indonesia cukup singkat. Perjuangan mereka di Indonesia hanya berlangsung selama tiga tahun, tepatnya pada 2015-2018. Padahal, produk yang mereka tawarkan dijual dengan harga kompetitif. Banyaknya merek yang masuk di Indonesia pada periode itu membuat Coolpad pergi.

Coolpad awalnya memiliki nama Yulong. Brand ini memproduksi benda bernama pager pada 90-an. Nama perusahaan lalu berubah jadi Coolpad pada 2002. Tahun itu pun ditandai dengan produksi ponsel untuk kali pertama bagi mereka. Coolpad pernah jadi perusahaan dengan kesuksesan besar pada 2012.

Brand HP ini selalu jadi pilihan bagi orang Cina saat itu, setelah Huawei, Lenovo, dan ZTE. Saat memasuki era 5G, nama mereka tidak begitu terdengar. Meski begitu, mereka masih mengedarkan produk di negara asal mereka dan di Amerika Serikat.

10. Infinix

logo infinix

Infinix didirikan di Hong Kong. Namun, kantor pusat mereka telah berpindah di Shenzhen, Cina. Merek ini berdiri pada 2013 di bawah naungan Transsion Holdings. Awalnya, merek ini difokuskan untuk pasar Asia, sebagai pembeda dari Tecno (saudara Infinix) yang dipasarkan di Afrika.

Namun, pemasaran Infinix ternyata meluas juga ke Afrika dan Timur Tengah. Mayoritas produk Infinix membidik segmen terjangkau di harga 1-2 jutaan. Namun, mereka juga menciptakan HP premium dengan seri Zero. Ciri khas Infinix adalah spesifikasi produk yang sesuai dengan harga yang dibayar.

Selain menjual smartphone, Infinix menyediakan perangkat lain seperti laptop, dan earphone. Di Indonesia, pangsa pasar Infinix berada di urutan ketujuh.

11. Tecno

logo tecno

Tecno adalah brand ponsel pertama yang dimiliki oleh Transsion Holdings. Pasar mereka pada mulanya terkonsentrasi di negara-negara Afrika. Akan tetapi, brand yang muncul pada 2006 ini akhirnya muncul di negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

HP yang ditawarkan Tecno bermacam-macam. Ada yang murah meriah seperti seri POP dan SPARK , ada seri POVA dengan performa mumpuni, ada juga seri CAMON yang kameranya bagus. Mereka pun punya seri Phantom yang khusus untuk ponsel flaghip.

Meskipun Tecno merupakan brand yang independen, layanan purnajual mereka tetap jadi satu dengan Infinix dan itel. Perbaikan kerusakan dan klaim garansi ditangani oleh Carlcare yang merupakan anak perusahaan Transsion Holdings.

12. Itel

itel

Transsion Holdings sudah punya Infinix dan Tecno yang harga HP-nya cukup terjangkau. Namun, Transsion Holdings masih punya satu brand lagi dengan produk yang lebih murah. Brand tersebut adalah itel. Mereka memang menciptakan ponsel dasar untuk para pemula.

Karena itu, HP itel harganya pasti tak lebih dari Rp1,5 juta. itel berdiri pada 2013. Brand ini sudah melayani konsumen di berbagai negara lintas benua. Mulai dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Selatan.

13. ZTE

logo zte

ZTE menghadapi ancaman seperti Huawei pasca-perang dagang Cina-Amerika Serikat. Namun, brand yang satu ini masih diperbolehkan memakai teknologi 5G dan menggunakan Google Play Services.

ZTE sendiri bukanlah perusahaan kemarin sore. Perusahaan ini dibentuk pada 1985.

Sejak awal, ZTE sudah terkenal sebagai perusahaan semikonduktor yang produknya adalah infrastruktur jaringan internet, termasuk modem dan router. Ponsel juga mereka buat dan beredar secara luas mulai 2000-an. Ketika memasuki era smartphone, ZTE menyambutnya dengan baik.

Bahkan, mereka menjadi salah satu produsen yang membuat smartphone dengan sistem operasi Android dan Windows Phone. Saat WIndows Phone terlihat tak begitu menjanjikan, ZTE fokus menggunakan Android untuk seluruh smartphone mereka.

Finlandia

1. Nokia

logo nokia

Siapa yang tidak kenal dengan Nokia? Nokia pernah menjadi rajanya HP selama bertahun-tahun sebelum era smartphone menjegal dominasi mereka. Gara-gara lambat mengadopsi layar sentuh, serta lebih memilih Windows Phone daripada Android, jadi beberapa alasan mengapa Nokia tak mampu mempertahankan takhtanya.

Nokia punya sejarah yang sangat panjang karena berdiri sejak 1865. Perusahaan ini awalnya menyediakan bahan untuk membuat kertas. Sekitar tahun 1960-an Nokia mempunyai divisi yang memproduksi alat telekomunikasi, lalu dilanjutkan HP pada 1980-an.

Titik puncak kemunduran Nokia terjadi pada 2014, yakni ketika divisi smarpthone mereka dijual ke Microsoft. Dua tahun setelahnya, Microsoft mundur dari bisnis smartphone. Bisnis feature phone Nokia pun dijual Microsoft ke HMD Global pada 2016.

Nah, HMD lantas meneruskan eksistensi smartphone Nokia dengan membeli lisensi brand Nokia. Yang menarik, HMD Global berasal dari Finlandia, sama seperti Nokia. Produksi smartphone Nokia dilakukan oleh Foxconn di Taiwan.

Jepang

1. Sharp

logo sharp

Jenama terkenal Sharp ternyata membuat HP juga. Walaupun begitu, HP bukan prioritas utama mereka. Sharp menggunakan nama Sharp Aquos pada produk ponsel mereka. Nama ini sama seperti deretan televisi yang mereka jual.

Kiprah Sharp di dunia HP sebenarnya sudah cukup lama, yakni sejak 2000-an. Namun, produk mereka tak sementereng Sony. Sharp seringkali berani tampil beda dalam menciptakan sebuah HP. Misalnya Sharp Aquos Crystal yang tak punya bezel atas, sedangkan kamera depannya ada di bezel bawah.

Adapun Sharp sebenarnya sudah tidak murni brand yang asalnya dari Jepang. Pasalnya, mayoritas saham mereka telah dibeli oleh Foxconn sejak 2016. Foxconn adalah perusahaan semikonduktor yang asalnya dari Taiwan. Foxconn menguasai 66% saham Sharp.

2. Sony

logo sony

Sony merupakan pemutar musik pilihan banyak orang pada era 80-an dan 90-an. Hanya, ketika mereka memutuskan menjual ponsel mulai dekade tersebut, tidak banyak orang yang melirik. Akhirnya, mereka melakukan penggabungan usaha dengan Ericsson yang kala itu kalah saing dengan Nokia.

Terciptalah Sony Ericsson pada 2001. HP bikinan brand ini melegenda karena bentuknya keren dan selalu dibubuhi teknologi menarik. Sayang Sony dan Ericsson pisah pada 2011. Sony memutuskan untuk membeli setengah saham perusahaan patungan yang dipunyai Ericsson.

Sony tetap eksis hingga sekarang dengan produk-produk kelas atas. Sejak 2015, HP merek ini tak pernah lagi muncul di Indonesia. HP terakhir yang mereka luncurkan di Indonesia adalah Sony Xperia Z5 Premium.

Korea Selatan

1. Samsung

logo samsung

Sebelum perang dunia kedua, Korea Selatan bukanlah siapa-siapa. Samsung yang sudah berdiri saat itu bahkan belum jadi raksasa elektronik. Perusahaan yang muncul pada 1938 ini awalnya malah menjual bahan makanan seperti ikan yang dikeringkan, gula, tepung, dan mie.

Bisnis elektronik baru mereka sentuh pada 1980-an, bersamaan dengan fenomena Korean Wave. Samsung awalnya membikin cip memori, dilanjutkan LCD pada 1995, dan berbagai elektronik termasuk HP. HP Samsung mulai beredar pada 2000-an. Kala itu, Samsung juga pernah membuat PDA (Personal Digital Assistant), tetapi kurang laku.

Namun, ketika seri Galaxy lahir, Samsung berangsur-angsur diminati masyarakat. Sejak 2012, Samsung tak pernah lepas dari urutan tiga besar pangsa pasar smartphone dunia. Hal ini karena produk yang diluncurkan memiliki teknologi yang inovatif, dan tersedia di berbagai segmen mulai dari entri hingga flagship.

Indonesia

1. Advan

logo advan

Advan adalah perusahaan lokal yang berdiri sejak 1998. Bisnis Advan berkaitan dengan barang elektronik. Pada masa awal berdiri, mereka menjual TV Plasma, laptop, dan deskbook (PC yang menyatu dengan monitor). Seiring berubahnya tren ke arah mobile, Advan mengubah haluan perusahaan.

Mulai 2013, katalog produk mereka diisi dengan produk semacam tablet, HP, dan segala macam aksesori pendukung. Ciri khas HP Advan yakni memiliki harga jual yang terjangkau. Hal ini sesuai dengan segmen kelas entri yang mereka sasar. Adapun Advan telah memiliki 51 titik service center di seluruh Indonesia per 2017.

2. Evercoss

logo evercoss

Pernah dengar HP dengan merek Cross yang bisa digunakan untuk menonton televisi? Ya, brand ini berubah nama menjadi Evercoss pada 2013. Bidang usaha yang digeluti Evercoss mirip seperti Advan, yakni elektronik. Namun, selain membuat HP dan tablet, Evercoss juga membuat sejumlah perangkat lain.

Misalnya, set-top-box, laptop, dan alat kesehatan. Perusahaan yang berdiri pada 2008 ini memang punya diversifikasi produk yang luas. Selain memproduksi HP dengan merek Evercoss, perusahaan yang punya pabrik di Semarang ini membuat jenama lain bernama Luna.

Produk dengan brand Luna meliputi smartphone, smartphone tahan banting, tablet, dan wearable device. Adapun Evercoss adalah brand yang dipunyai oleh PT Aries Indo Global.

Taiwan

1. ASUS

logo asus

Sejak kemunculannya pada 1989, ASUS terkenal sebagai perusahaan semikonduktor dengan produk yang andal. Khususnya motherboard komputer. Lalu ASUS bertransformasi menjadi pembuat laptop dengan kualitas yang tak kalah bagus.

Bahkan, laptop mereka pernah meluncur ke luar angkasa untuk menemani perjalanan kosmonot Rusia pada 1998. Untuk bisnis smartphone, ASUS mengawalinya pada 2014 dengan merek Zenfone. Kehadiran ASUS cukup menghebohkan karena mereka menggandeng Intel.

Namun, manajemen panas chipset Intel kurang oke. Alhasil, ASUS tak pernah lagi memakai Intel dan beralih ke chipset Qualcomm Snapdragon dan MediaTek. Sejak 2019, ASUS memfokuskan diri untuk membuat ponsel di segmen flagship. Dua merek yang mereka tawarkan adalah Zenfone dan ROG Phone.

2. HTC

logo htc

HTC pernah menjadi salah satu pelopor smartphone Android. Perjalanan perusahaan asal Taiwan ini di dunia ponsel dimulai pada 2004. Kala itu, HTC merilis PDA yang merupakan cikal bakal smartphone masa kini. HTC kemudian sempat menciptakan smartphone dengan sistem operasi Windows dan Android.

Namun, pada akhirnya memilih meninggalkan Windows setelah prospeknya tidak bagus. HTC sebetulnya memiliki penggemar yang cukup banyak. Pasalnya, jenama ini cukup sering memopulerkan fitur yang inovatif. Misalnya pixel binning, OIS, dan speaker stereo.

Sayang, nasib mujur tak menjumpai HTC. Merek yang pernah beredar di Indonesia hingga 2016 ini masih memproduksi ponsel, tetapi tidak sering. Sebagian besar tim di divisi ponsel mereka telah diakuisi oleh Google pada 2017. HTC kini fokus memproduksi wearable device khususnya headset VR.

Demikian ulasan mengenai asal negara dari berbagai brand HP yang pernah beredar di Indonesia. Ternyata dari Indonesia pun ada yang membuat HP. Di antara brand yang masuk di dalam daftar ini, mana yang menjadi favorit Anda?

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram