Inilah Kelebihan dan Kekurangan HP Buatan Huawei
HUAWEI adalah salah satu brand yang tetap menarik perhatian di industri smartphone, meski harus menghadapi banyak tantangan dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan tersebut adalah pemblokiran terhadap rantai pasok dan layanan Google.
Di tengan tantangan tersebut, Huawei memilih jalur berbeda dengan membangun teknologi dan ekosistemnya sendiri. Sesuatu yang sangat saya apresiasi. Ini juga terbukti dengan hadirnya beragam perangkat (terutama ponsel) HUAWEI keluaran baru yang justru menunjukkan perkembangan besar, baik dari sisi performa, kamera, jaringan, hingga sistem operasinya.
Namun, perubahan besar ini membuat pengalaman memakai HP HUAWEI tidak selalu sama seperti merek Android lain. Ada banyak kelebihan yang membuat perangkat Huawei unggul di kelasnya, tetapi ada juga kekurangan yang perlu dipertimbangkan, terutama untuk pengguna di Indonesia.
Untuk membantu Anda menilai apakah HP HUAWEI masih layak dibeli di tahun ini, berikut rangkuman kelebihan dan kekurangan HP HUAWEI secara umum.
Kelebihan HP Huawei
Apa saja kelebihan yang ditawarkan oleh HP Huawei? Simak poin-poin keunggulannya berikut ini.
1. Kemampuan Fotografinya Selalu Jadi yang Terbaik

Daya tarik HP Huawei pada umumnya terletak di sektor kamera. Huawei memang tidak main-main soal kamera. Terbukti dengan beberapa tipe HP Huawei yang selalu masuk peringkat atas DxOMark. Tiap tahunnya, HP kelas atas mereka selalu jadi langganan sebagai predikat HP dengan kamera terbaik.
Bukan hanya DxOMark, beberapa kalangan juga memang menyebutkan kalau hasil tangkapan kamera HP Huawei kelas atas, yakni Huawei Pura series dan Huawei Mate series, memang menawarkan kualitas yang baik.
Huawei bisa melakukan hal tersebut karena pernah bekerja sama dengan LEICA, perusahaan lensa kamera yang cukup terkemuka.
Sayangnya, kerjasama ini sudah berakhir pada Maret 2022. Berdasarkan laporan Gizmochina, kerja sama HUAWEI dan LEICA berakhir setelah HUAWEI P50 rilis. Dan benar saja, HUAWEI P60 dan seterusnya tidak lagi menggunakan branding LEICA pada spesifikasi kamera maupun material pemasarannya.
Namun, bukan berarti kualitas kamera HUAWEI jadi menurun setelah tidak bekerjasama dengan Leica. Kualitas kamera ponsle mereka masih tetap bagus. HUAWEI Pura 80 Ultra yang dirilis pada Juni 2025 berhasil menjadi nomor 1 saat dirilis menurut penilaian DxOMark.
Ini membuktikan bahwa HUAWEI sudah belajar dari kerjasama dengan LEICA. Mereka melakukan tuning-an kamera sendiri dengan kualitas yang tidak tersaingi, bahkan oleh iPhone sekalipun.
2. Memiliki Chipset Sendiri

HUAWEI adalah salah satu vendor ponsel yang memiliki pengembangan chipset tersendiri, berbeda dengan vendor lain yang ketergantungan pada chipset MediaTek maupun Qualcomm Snapdragon. Chipset yang dikembangkan Huawei dinamakan HiSilicon Kirin. Karena itu, tidak aneh jika banyak HP HUAWEI yang memakai chipset Kirin.
Memang ada beberapa tipe HP HUAWEI yang memakai Snapdragon maupun MediaTek tetapi jumlahnya tidak banyak. Di berbagai ponsel andalannya, HUAWEI selalu mengandalkan chipset besutan mereka. Karena memiliki chipset tersendiri, tentu optimalisasi sistem dan pengembangannya lebih mudah.
Salah satu contoh terbaik dari chipset Kirin adalah fitur GPU Turbo. Fitur ini memungkinkan gim yang sudah didukung GPU Turbo mendapat optimalisasi yang baik sehingga pengalaman bermain gim jadi lebih maksimal.
Chipset Kirin juga yang turut serta membuat kualitas kamera HP Huawei menghasilkan gambar yang baik. Tentu berkat DSP yang ada di dalamnya.
Chipset Kirin tidak hanya digunakan oleh HUAWEI, melainkan juga oleh HONOR yang awalnya merupakan anak perusahaan HUAWEI. Kedua perusahaan tersebut sempat memiliki hubungan dekat bak saudara kandung. Namun, diakhir 2020, HONOR dijual Huawei ke Shenzhen Zhixin New Information Technology Co.
Sayang, kemandirian HUAWEI dengan chipset bikinan sendiri ini sempat terganjal oleh blacklist Amerika Serikat. HUAWEI tidak diperbolehkan mempergunakan teknologi apa pun dari Amerika, termasuk komponen semi konduktor untuk menciptakan chipset. Alhasil pengembangan Kirin mandek pasca Kirin 9000 dirilis pada tahun 2020.
Namun menariknya, Kirin 9000s tiba-tiba datang bak bom bagi negara Amerika Serikat. Sebab, chipset tersebut mampu mendukung jaringan 5G yang semestinya jadi hal mustahil sejak HUAWEI masuk daftar hitam perdagangan pada tahun 2019.
Alasan Kirin 9000s bisa dikemas dengan jaringan 5G adalah karena HUAWEI tidak lagi bekerja sama dengan TSMC buntut dari isu perdagangan tersebut. HUAWEI justru menggaet SMIC, pabrikan semikonduktor asal Cina yang sempat tertinggal dari TSMC namun kini mengalami perkembangan yang pesat.
Selain 5G, Kirin 9000s juga mendukung fitur pengiriman pesan via satelit yang menjadi salah satu fitur unik pada banyak ponsel Huawei.
Terlepas dari perjalanan Kirin yang panjang dan berliku, perusahaan smartphone mana pun yang bisa membuat chipset sendiri adalah hal yang patut diapresiasi. Semakin banyak perusahaan berbeda yang memproduksi cip buatan sendiri, diharapkan semakin pesat juga tumbuh kembang teknologi chipset ke depannya.
3. Memiliki R&D yang Baik

HUAWEI adalah salah satu vendor ponsel yang memiliki tim penelitian dan pengembangan (R&D = Research and Development) yang baik. Malah HUAWEI tidak pernah tanggung soal R&D ini.
Riset dan pengembangan malah jadi tulang punggung Huawei dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini tidak lagi hanya gencar berinovasi, tetapi telah menjadikan R&D sebagai fondasi utamanya.
Menurut laporan tahunan 2024, Huawei menginvestasikan sekitar CNY 179,7 miliar untuk R&D atau sekitar Rp390 triliun. Angka sebesar itu mencerminkan 20,8% dari total pendapatan perusahaan. Tidak hanya itu, lebih dari 113 ribu karyawan atau sekitar 54% dari tenaga kerja Huawei terlibat langsung dalam aktivitas penelitian.
Hasil dari R&D HUAWEI terlihat beberapa tahun terakhir. Contohya kemampuan kamera ponsel mereka yang jempolan, pengembangan software mandiri (yang bakal dibahas di poin selanjutnya), pengembangan cip Kirin, dan masih banyak lagi.
R&D HUAWEI juga memainkan peran besar dalam peningkatan performa AI di ponsel mereka. Teknologi AI yang dikembangkan HUAWEI, seperti Pangu di sektor konsumen, berperan dalam pengenalan objek, pemrosesan gambar, manajemen daya, dan respons sistem yang lebih cerdas.
Selain itu, HUAWEI aktif melakukan penelitian pada teknologi jaringan dan baterai. Hasil riset mereka pada 5.5G atau 5G-Advanced menawarkan kecepatan lebih tinggi dan latensi lebih rendah, yang memberi pengalaman lebih stabil untuk streaming, video call, hingga layanan berbasis cloud.
Di sisi baterai, riset HUAWEI menghasilkan optimalisasi daya dan pengisian cepat yang lebih aman serta efisien, sehingga ponsel mereka dikenal memiliki daya tahan kuat dan performa yang stabil dalam penggunaan panjang.
4. Berani Mengembangkan OS Sendiri

Hal yang saya salut dari HUAWEI adalah keberanian mereka mengembangkan sistem operasi yang lebih mandiri. Berkat R&D yang baik, HUAWEI berhasil ciptakan OS mereka sendiri bernama HarmonyOS NEXT.
Penamaan NEXT pada HarmonyOS NEXT karena HUAWEI asalnya menghadirkan HarmonyOS yang masih berbasis Android (tanpa layanan Google). Lalu mereka menghadirkan versi lebih lanjut. Sistem ini memakai kernel HongMeng yang dikembangkan sepenuhnya oleh HUAWEI tanpa ketergantungan pada Android.
Banyak pihak awalnya skeptis dan menganggap langkah ini terlalu ambisius, apalagi HUAWEI harus membangun pondasi software dari tahap awal. Namun seiring berjalannya waktu, HUAWEI mampu membawa HarmonyOS NEXT berkembang menjadi platform yang makin matang dan menjadi landasan baru untuk ekosistem perangkat mereka.
Dengan kontrol penuh pada OS mereka, HUAWEI bisa menghadirkan perangkat ponsel dan tablet yang punya performa yang lebih stabil, transisi UI yang lebih mulus, serta efisiensi daya yang lebih baik. Keunggulan hal ini berpengaruh pada pengalaman penggunaan software yang kini lebih singkron dengan hardware, karena semuanya milik HUAWEI sendiri.
Pengembangan OS ini berpengaruh terhadap ekosistem aplikasi di dalamnya. Salah satu contohnya adalah banyaknya aplikasi native di HarmonyOS.
Untuk pengguna Indonesia, aplikasi penting seperti BCA Mobile, Livin’ by Mandiri, BRImo, OCTO Mobile, serta layanan pembayaran seperti DANA dan ShopeePay sudah dapat berjalan lebih stabil melalui AppGallery. Hal ini menunjukkan bahwa HUAWEI tidak hanya membangun sistem operasi baru, tetapi juga memastikan ekosistem aplikasinya relevan dan ramah bagi pengguna global.
HarmonyOS NEXT juga membawa keunggulan dalam integrasi lintas perangkat melalui konsep Super Device. Ponsel, tablet, laptop, jam tangan pintar hingga perangkat smart home HUAWEI dapat terhubung dengan sangat mulus untuk berbagi layar, memindahkan file, atau melanjutkan pekerjaan antar perangkat.
Yang agak disayangkan, HarmonyOS NEXT versi penuh baru tersedia di Tiongkok. Perangkat global masih memakai EMUI atau HarmonyOS yang sebagian komponennya tetap berbasis Android. Namun, cepat atau lambat, HarmonyOS NEXT bakal meluncur juga ke global.
Bahkan, selain pengembangan OS untuk ponsel dan tablet, HUAWEI sudah menyiapkan OS saingan Windows. Pada Maret 2025, situs berita China Focus, menyebutkan HUAWEI sudah memperkenalkan dua laptop berbasis HarmonyOS.
5. Ekosistem Gadget HUAWEI yang Lengkap dan Solid

Selain ponsel, HUAWEI juga dikenal punya ekosistem perangkat pintar yang sangat kuat. Mereka tidak hanya fokus pada smartphone, tetapi juga menghadirkan berbagai perangkat pendukung seperti HUAWEI Watch, HUAWEI Band, laptop MateBook Series, serta tablet MatePad Series yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Produk-produk ini biasanya hadir dengan desain premium, performa stabil dan sejumlah fitur yang memperkuat ekosistem HUAWEI secara keseluruhan.
Contohnya HUAWEI Watch D. Jam tangan ini menjadi salah satu smartwatch pertama di dunia yang mampu mengukur tekanan darah secara langsung dari pergelangan tangan.
Berbeda dari smartwatch umum yang hanya mengukur detak jantung atau SpOâ‚‚, HUAWEI Watch D menggunakan teknologi micro air pump dan airbag kecil di dalam strap untuk mensimulasikan cara kerja alat tensi portabel.
Fitur ini memberikan hasil pengukuran yang lebih akurat dibandingkan sekadar estimasi berbasis sensor optik, sehingga sangat berguna bagi pengguna yang ingin memantau tekanan darah secara rutin.
Tablet HUAWEI juga termasuk jemporan. Contohnya HUAWEI MatePad Pro 12.2, yang hadir dengan layar besar, respons stylus yang presisi dan mode kerja mirip laptop sehingga cocok untuk ilustrator maupun pengguna kreatif.
Ada pula HUAWEI MatePad 11.5, pilihan yang lebih terjangkau namun tetap kuat untuk menggambar, mencatat, hingga mengerjakan dokumen. Kedua seri MatePad ini juga mendukung WPS Office versi PC-level, menjadikannya perangkat yang nyaman untuk pekerjaan kantor atau tugas sekolah.
Keunggulan terbesar dari berbagai perangkat ini adalah kemampuannya untuk terhubung dengan sangat mulus melalui fitur seperti Super Device dan Multi-Screen Collaboration. Pengguna bisa memindahkan file, berbagi layar, menerima notifikasi silang perangkat atau melanjutkan pekerjaan antar perangkat hanya dengan beberapa ketukan.
6. Memiliki Layanan Purna Jual yang Baik

Layanan purna jual HUAWEI di Indonesia mendapat penilaian positif dari banyak penggunanya. Pengalaman perbaikan umumnya berjalan lancar berkat proses servis yang cepat, teknisi yang profesional serta ketersediaan suku cadang asli yang memadai.
HUAWEI memiliki jaringan pusat layanan resmi dan authorized experience store di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Pengguna dapat datang untuk melakukan perbaikan, pengecekan ringan atau sekadar konsultasi teknis. HUAWEI juga menyediakan fitur janji temu online melalui situs dukungan resmi agar pelanggan bisa menghindari antrean.
HUAWEI juga menawarkan layanan HUAWEI Care+ yang mencakup perlindungan terhadap kerusakan tidak disengaja, termasuk layar retak dan kerusakan komponen tertentu.
Dengan berbagai kemudahan ini, HUAWEI menunjukkan komitmennya dalam memberikan dukungan purna jual yang kuat bagi pengguna di Indonesia, menjadikan pengalaman servis lebih nyaman, mudah diakses dan minim hambatan.
Kekurangan HP Huawei
Setelah mengetahui kelebihan dari HP HUAWEI, selanjutnya mari cari tahu kekurangan dari HP HUAWEI. Apa saja kekurangan dari HP HUAWEI? Simak ulasannya berikut ini.
1. Tidak Ada Layanan GMS dan Dukungan 5G untuk Global

Salah satu kekurangan paling mencolok dari HP HUAWEI, terutama untuk pengguna di Indonesia dan pasar internasional, adalah absennya layanan Google Mobile Services (GMS).
Dampak dari banned Amerika membuat HUAWEI tidak bisa lagi bekerja sama dengan Google sehingga perangkat global tidak memiliki Google Play Store, Google Maps, Gmail, YouTube dan layanan berbasis Google Play Services lainnya.
Kondisi ini bisa menjadi hambatan besar bagi pengguna yang aktivitas pekerjaannya sangat bergantung pada integrasi layanan Google di berbagai perangkat.
Meski begitu, pengguna masih dapat mengakses aplikasi Google melalui beberapa metode alternatif. Cara yang paling umum adalah menggunakan shortcut berbasis web atau memasang third-party installer seperti GBox melalui AppGallery. GBox memungkinkan beberapa aplikasi Google seperti YouTube, Gmail dan Google Maps berjalan melalui lapisan kompatibilitas.
Cara ini memang tidak sesederhana menggunakan layanan Google asli, tetapi cukup membantu bagi pengguna yang hanya membutuhkan layanan Google untuk kebutuhan ringan.
Hal yang harus diingat, bagi pengguna yang mengandalkan ekosistem Google secara penuh, seperti sinkronisasi Drive, kolaborasi dokumen di Google Workspace atau aplikasi yang memerlukan Google Play Services secara mendalam, pengalaman ini akan terasa kurang praktis dan tidak sefleksibel ponsel Android pada umumnya.
Selain masalah GMS, perangkat HUAWEI versi global juga belum mendapatkan dukungan jaringan 5G. Ini berbeda dengan perangkat HUAWEI yang dijual di Tiongkok, karena model domestik mereka bisa menggunakan 5G secara normal. Pembatasan modem 5G akibat perang dagang membuat versi global hanya berjalan di jaringan 4G meskipun secara hardware sebenarnya mampu.
Bagi pengguna yang sudah berada di area dengan 5G yang stabil, ketiadaan dukungan ini dapat menjadi kekurangan yang cukup signifikan. Faktor ini yang kadang membuat banyak orang, termasuk saya jarang merekomendasikan HUAWEI, apalagi harga flagship HUAWEI yang belasan juta jelas terasa kurang layak karena tidak dukung 5G dan tidak ada GMS.
2. Versi Global HarmonyOS Belum Sepenuhnya Matang

Meskipun HarmonyOS NEXT berkembang pesat di Tiongkok, pengalaman yang sama belum sepenuhnya dirasakan oleh pengguna global. Sebagian besar perangkat HUAWEI yang dijual di Indonesia dan pasar internasional masih memakai EMUI atau HarmonyOS versi hibrida yang tetap mengandalkan komponen Android.
Perbedaan ini membuat performa dan ekosistem global belum setara dengan perangkat HUAWEI di Tiongkok yang sudah menikmati HarmonyOS NEXT versi penuh.
Dampaknya, meskipun aplikasi native HarmonyOS terus bertambah di pasar domestik HUAWEI, ketersediaannya di pasar internasional cenderung lebih lambat.
Beberapa aplikasi lokal dan layanan tertentu belum memiliki versi native yang optimal di luar Tiongkok, sehingga pengguna global belum merasakan pengalaman yang benar-benar terintegrasi seperti yang dipromosikan HUAWEI untuk pasar utama mereka.
Kondisi ini bukan masalah besar bagi pengguna yang memakai aplikasi populer yang sudah kompatibel, tetapi bagi yang membutuhkan ekosistem software mandiri sepenuhnya, situasi ini perlu dipertimbangkan. Saya bukan tidak memuji perkembangan HarmonyOS memang yang signifikan, hanya saa penyebaran versi penuh ke pasar global masih berjalan bertahap dan belum seragam.
3. Distribusi Perangkat dan Ketersediaan Model yang Terbatas

Kekurangan lain dari ponsel HUAWEI adalah distribusi produknya yang tidak selalu secepat atau seluas brand besar lainnya. Banyak perangkat terbaru HUAWEI dirilis lebih dulu di Tiongkok, kemudian baru menyusul versi global beberapa bulan setelahnya.
Pola seperti ini membuat pengguna di Indonesia sering harus menunggu lama sebelum bisa merasakan teknologi terbaru dari HUAWEI.
Contoh paling jelas terlihat pada HUAWEI Mate XT Ultimate Design. Perangkat flagship lipat premium ini pertama kali dirilis di Tiongkok pada September 2024.
Versi globalnya baru diumumkan beberapa bulan kemudian pada Februari 2025, lalu baru resmi masuk Indonesia pada April 2025. Jeda sekitar tujuh bulan dari rilis Tiongkok hingga rilis Indonesia menunjukkan betapa panjangnya proses distribusi HUAWEI ke pasar internasional.
Sebagai perbandingan, HUAWEI Pura 80 Series memiliki jeda waktu yang lebih pendek, meski pola rilisnya tetap bertahap. Rilis Tiongkok berlangsung pada 11 Juni 2025, disusul peluncuran global pada 10 Juli 2025.
Versi Indonesia hadir belakangan, yakni Pura 80 Pro dan Pura 80 Ultra pada 17 September 2025, dan Pura 80 standar pada 9 Oktober 2025. Rentang waktunya tidak selama Mate XT Ultimate Design, tetapi tetap menunjukkan bahwa Indonesia bukan pasar prioritas pertama untuk perangkat flagship HUAWEI.
Kondisi distribusi seperti ini dapat memengaruhi konsumen yang ingin segera menggunakan ponsel terbaru. Selain itu, ketersediaan aksesori resmi dan suku cadang untuk model tertentu biasanya lebih cepat hadir di Tiongkok dibandingkan pasar luar negeri.
Bagi pengguna yang mengutamakan ketersediaan produk dan aksesorinya sejak awal, pola rilis bertahap seperti ini perlu menjadi pertimbangan sebelum memilih ponsel HUAWEI.
4. Branding yang Kurang Kuat di Indonesia

Meskipun HUAWEI dikenal memiliki inovasi kuat dan kualitas hardware yang tinggi, branding mereka di pasar global masih dipengaruhi oleh isu geopolitik.
Sejak HUAWEI terkena banned oleh Amerika, muncul berbagai opini publik dan narasi negatif yang membuat sebagian pengguna ragu memilih perangkat HUAWEI. Situasi ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi citra perusahaan yang ikut terdampak karena pemberitaan dan kebijakan pemerintah di berbagai negara.
Di beberapa pasar internasional, HUAWEI masih menghadapi tantangan dalam meyakinkan konsumen bahwa perangkat mereka aman dan layak bersaing dengan produk dari brand lain.
Walaupun banyak pengguna dan reviewer mengakui kualitas ponsel HUAWEI, persepsi negatif yang terbentuk beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya hilang. Hal ini membuat sebagian calon pengguna lebih berhati-hati atau memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum beralih ke perangkat HUAWEI.
Di Indonesia sendiri, persepsi negatif ini tidak sekuat di pasar Barat, tetapi tetap memiliki dampak. Sebagian konsumen masih mengaitkan HUAWEI dengan ketidakpastian akses software, dukungan aplikasi atau isu regulasi luar negeri. Bahkan, bisa dibilang HUAWEI kurang oke secara branding untuk lini ponsel.
Persepsi seperti ini sering menjadi hambatan sebelum konsumen benar-benar mencoba perangkat HUAWEI secara langsung. Akibatnya, kualitas hardware dan fitur unggulan HUAWEI tidak selalu cukup untuk mengatasi keraguan awal calon pembeli.
Meskipun begitu, persepsi brand bukanlah sesuatu yang permanen. Dengan inovasi yang konsisten, layanan purna jual yang semakin baik dan perkembangan HarmonyOS yang semakin matang,
HUAWEI punya peluang besar untuk memperbaiki citranya di mata konsumen global. Namun pada kondisi saat ini, persepsi brand yang masih terpengaruh isu geopolitik tetap menjadi salah satu kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh calon pengguna.
Simpulan
HUAWEI adalah brand yang berani dan konsisten berinovasi. Mereka unggul di sektor kamera, desain, ekosistem perangkat, dan riset teknologi. Mereka juga mengembangkan secara serius HarmonyOS NEXT dengan dukungan aplikasi native yang semakin banyak.
Namun di sisi lain, tantangan seperti ketiadaan GMS, dukungan 5G global yang terbatas, distribusi produk yang lambat serta persepsi brand di pasar internasional masih menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan calon pembeli.
Untuk ponsel HUAWEI, saya merekomendasikan jika digunakan sebagai ponsel kedua. Bisa jadi yang utama tetapi umumnya, untuk kondisi saat ini, akan sangat cocok sebagai perangkat pendamping.

