carisinyal web banner retina

Inilah 5 Chipset yang Setara dengan Unisoc T618

Pada mulanya, banyak warga Indonesia yang menganggap remeh chipset Unisoc karena seringkali terkait dengan smartphone kelas bawah dengan performa seadanya. Namun sejak kemunculan Advan GX yang pakai Unisoc Tiger T618, rasanya Unisoc seperti telah melakukan epic comeback.

Pasalnya, performa yang ditawarkan Advan GX cukup gahar melampaui kelas harganya yang hanya 1 jutaan. Ia bahkan mampu memainkan game-game berat seperti PUBG Mobile, COD Mobile, dan bahkan Genshin Impact.

Saking melonjaknya nama Unisoc Tiger T618, para pencinta gawai pun penasaran dengan chipset apa saja yang setara dengannya. Dapur pacu Unisoc Tiger T618 ini hadir pada kuartal kedua tahun 2018 dan dikhususkan untuk kelas harga bawah.

Konfigurasinya mencakup CPU delapan inti yang terdiri dari dua unit Cortex A75 (1.82 GHz) serta enam inti Cortex A55 (1.82 GHz), beserta kartu pengolah grafis ARM Mali G52 MP2 berfrekuensi 614 MHz.

Penasaran dengan SoC dari perusahaan lain yang punya kinerja setara dengan Unisoc Tiger T618? Yuk, simak penjelasan mengenai beragam chipset di bawah ini!

1. Helio G85

Helio-G85

MediaTek Helio G85 merupakan SoC kelas menengah yang hadir pada ponsel-ponsel ber-value tinggi. Ia paling sering hadir pada ponsel Infinix, Redmi, dan juga realme, sebut saja Infinix Hot 10s, Infinix Note 10, realme C25s, Redmi Note 8 2021, Redmi Note 9, dan masih banyak lagi.

Helio G85 sendiri mencakup konfigurasi octa core yang tidak jauh berbeda dengan Unisoc Tiger T618, sama-sama mengemas dua unit Cortex A75 dengan enam unit Cortex A55 sebagai inti hemat dayanya.

Akan tetapi, clock speed masing-masing inti ini berbeda dengan Unisoc. Pada Helio G85, Cortex A75 miliknya berlari pada frekunesi 2 GHz alih-alih 1.82 GHz sedangkan Cortex A55-nya berfrekuensi 1.8 GHz, sedikit lebih kecil dari Unisoc T618 dengan frekunesi 1.82 GHz.

Kedua SoC pun sama-sama menawarkan proses fabrikasi sebesar 12 nanometer. Kendati begitu, ada perbedaan di segi TDP atau Thermal Design Power. TDP pada Helio G85 lebih kecil yakni 5 W sementara Unisoc T618 memiliki TDP 10 W.

Adapun pada kartu pengolah grafisnya, Helio G85 dan Unisoc T618 mengandalkan GPU berupa Mali G52 MP2 walau dengan frekuensi berbeda. GPU pada Helio G85 memiliki frekuensi 1000 MHz sedangkan Unisoc T618 hanya 614 MHz saja.

Helio G85 juga memiliki dukungan resolusi kamera yang jauh lebih besar di angka 48 MP, serta memiliki kemampuan merekam video hingga resolusi 4K pada frame rate 30 FPS.

Helio G85 turut mengandalkan teknologi MediaTek HyperEngine Gaming yang dapat menangani manajemen sumber daya secara cerdas agar kinerja game bisa berlangsung lebih lama.

Kelebihan Helio G85

  • Frekuensi CPU lebih tinggi (2 GHz vs. 1.8 GHz)
  • GPU-nya juga berlari pada frekuensi lebih tinggi (1 GHz vs. 614 MHz)
  • Mendukung resolusi kamera hingga 48 MP

Kekurangan Helio G85

  • Memiliki arsitektur ARMv8-A yang lebih lawas dari Unisoc T618 dengan set instruksi ARMv8.2-A

2. Helio G88

Ilustrasi chipset Helio G88

Meskipun Helio G85 sudah cukup berkinerja tinggi, ini tidak mencegah MediaTek untuk kembali luncurkan varian SoC yang lebih baru dengan beragam upgrade kekinian, yakni Helio G88.

Diketahui, baik Helio G88 dan G85 sama-sama memiliki konfigurasi delapan inti serupa dengan dua unit Cortex A75 (2 GHz) dan Cortex A55 sebanyak enam buah (1.8 GHz). Bahkan dari segi GPU-nya pun keduanysa tampilkan Mali G52 MC2 berkekuatan 1000 MHz.

Perbedaan utamanya terletak pada dukungan resolusi kamera utama yang kini bertambah menjadi 64 MP. SoC yang hadir pada kuartal kedua tahun 2021 ini pun sama-sama dikemas pada proses fabrikasi 12 nanometer.

Helio G88 juga kini mendukung resolusi layar Full HD+ beserta laju penyegaran 90 Hz secara bersamaan. Ya, dari segi layar dan kamera mungkin Unisoc T618 cukup ketinggalan namun kemiripan spesifikasi GPU dan CPU-nya membuat keduanya setara dari segi performa bermain game.

Kelebihan Helio G88

  • Mendukung 90 Hz FHD+ serta dukungan resolusi kamera hingga 64 MP
  • Memiliki frekuensi GPU lebih tinggi

Kekurangan Helio G88

  • Menurut sumber NanoReview, Unisoc Tiger T618 memiliki skor benchmark AnTuTu v9 lebih tinggi (253 ribuan vs. 222 ribuan)

3. Snapdragon 675

snapdragon 675

Bukan hanya dari kubu MediaTek saja yang setara dengan Unisoc Tiger T618, rupanya sang naga merah juga punya Snapdragon 675 yang kemampuan kinerjanya setara. Dari sudut pandang spesifikasi CPU, keduanya terbilang cukup mirip.

Snapdragon 675 hadirkan klaster prosesor 2 + 6, sama seperti Unisoc Tiger T618. Adapun konfigurasi octa core-nya tersusun atas dua buah unit Kryo 460 Gold berbasiskan Cortex A76 (2 GHz) sedangkan ada juga enam unit hemat daya berupa Kryo 460 Silver berbasiskan Cortex A55 (1.7 GHz). Secara kesimpulan, baik Unisoc T618 dengan Snapdragon 675 sama-sama suguhkan clock speed hingga 2 GHz.

Bagaimana dari sisi litografinya? Well, Unisoc T618 kalah dalam hal ini karena suguhkan fabrikasi 12 nm alih-alih Snapdragon 675 dengan proses 11 nanometer. Adapun TDP yang ditawarkan Snapdragon 675 sebesar 6 W, lagi-lagi kalahkan Unisoc dengan TDP 10 W.

Kendati begitu, Unisoc Tiger T618 berhasil menggarap kemampuan pengolah grafis yang lebih solid, suguhkan frekuensi 850 MHz pada Mali G52 MP2 sedangkan Adreno 612 pada Snapdragon 675 hanya berfrekuensi antara 700 hingga 750 MHz.

Dari segi dukungan memori, kedua SoC memiliki support terhadap tipe memori LPDDR4X dengan frekuensi 1866 MHz. Secara ukuran maksimal, Snapdragon 675 mampu mendukung kapasitas 8 GB dibandingkan Tiger 618 dengan dukungan hingga 6 GB saja.

Berlanjut ke sisi multimedia, Snapdragon 675 lebih unggul karena menyanggupi keberadaan tipe memori internal UFS 2.1, resolusi layar maksimal 2520 x 1080 piksel, juga resolusi kamera hingga 1x 192 MP dan 2x 16 MP. Snapdragon 675 juga telah mendukung video capture hingga resolusi 4K di 30 FPS.

Kelebihan Snapdragon 675

  • Memiliki ukuran transistor lebih kecil (11 nm)
  • Mendukung maksimal resolusi kamera dan perekaman video lebih tinggi
  • Hadirkan dukungan 4G berupa LTE Cat. 12

Kekurangan Snapdragon 675

  • Frekuensi GPU lebih rendah (700 hingga 750 MHz vs. 850 MHz)

4. Snapdragon 820

Snapdragon 820

Yang satu ini merupakan chipset di kelas harga flagship pada zamannya yakni tahun 2015. Snapdragon 820 merupakan pilihan terbaik untuk bermain game dan masih terbilang sesuai dengan standar zaman sekarang.

Pertama-tama, ia suguhkan CPU serupa dengan arsitektur Kryo sebanyak empat buah, dua di antaranya berkekuatan 2.2 GHz sementara dua lainnya berlari pada frekuensi 1.6 GHz. Ya, masih mengusung konfigurasi quad core adalah salah satu kekurangannya dibanding Unisoc Tiger T618.

Kendati begitu, besaran clock speed-nya sedikit lebih unggul di angka 2.2 GHz ketimbang Unisoc Tiger T618 dengan frekunesi CPU 2 GHz. Adapun proses fabrikasinya, Snapdragon 820 tidak sebaik SoC dari Unisoc karena suguhkan 14 nanometer.

Lagi-lagi Snapdragon 820 kembali dikalahkan, kali ini dari sudut pandang kemampuan grafis. Untuk diketahui ia mengemas GPU berupa Adreno 530 dengan frekuensi 624 MHz. Mungkin saat SoC ini pertama dirilis, frekuensi GPU ini sudah tergolong gahar namun sayangnya didn't age well karena ia bahkan kalah dengan Unisoc tiger T618 dengan frekuensi GPU 850 MHz.

Kelebihan Snapdragon 820

  • Game dan aplikasi cenderung dioptimasikan pada SoC dari Qualcomm
  • Punya besaran clock speed CPU lebih tinggi
  • Secara umum, sisi multimedia-nya lebih unggul (perekaman video hingga 4K di 30 FPS, mendukung resolusi layar hingga 3840 x 2160 piksel)

Kekurangan Snapdragon 820

  • Hanya menghadirkan quad core alias empat inti alih-alih octa core
  • Frekuensi GPU-nya hanya 624 MHz, kalah dibanding Tiger 618 dengan frekuensi GPU 850 MHz

5. Exynos 8890

exynos 8890

Chipset yang setara dengan Unisoc Tiger T618 kali ini merupakan besutan Samsung dan ditujukan untuk ponsel flagship. Kasusnya sama seperti Snapdragon 820, yakni SoC flagship yang tidak lekang oleh waktu dan akhirnya tersusul oleh chipset entry-level seperti Unisoc Tiger T618 ini.

Exynos 8890 yang dirilis pada tahun 2015 ini sempat dimiliki oleh beberapa flagship ternama pada zamannya yaitu Samsung Galaxy S7, Galaxy Note 7, dan Samsung Galaxy S7 Edge. Alasan di balik kesetaraannya dengan Unisoc Tiger T618 adalah keduanya punya konfigurasi CPU yang tidak beda jauh.

Tidak seperti Snapdragon 820 yang hanya andalkan konfigurasi quad core, setidaknya Exynos 8890 tetap hadir dengan octa-core seperti Unisoc Tiger T618. Bahkan, terlepas dari umurnya yang tua, ia memiliki clock speed lebih tinggi di angka 2.3 GHz.

Rinciannya adalah sebagai berikut: empat unit custom berupa Mongoose berkekuatan 2.6 GHz serta empat unit Cortex A53 dengan frekuensi 2.3 GHz. Exynos 8890 juga memiliki kartu pengolah grafis Mali T88- MP12 dengan frekuensi 650 MHz, sedikit lebih besar dibanding Mali G52 MP2 pada Tiger T618. Kehadiran kartu pengolah grafis dengan clock speed lebih unggul isoc Tiger T618 yang mengusung frekuensi 614 MHz.

Kelebihan Exynos 8890

  • Punya frekuensi CPU lebih tinggi (2.3 GHz vs. 1.8 GHz)
  • Kehadiran kartu pengolah grafis dengan clock speed lebih unggul (650 MHz vs. 614 Mhz)

Kekurangan Exynos 8890

  • Proses fabrikasi lebih besar (14 nm)
  • Arsitektur set instruksi yang lebih lawas

Itu tadi merupakan daftar chipset yang setara dengan Unisoc Tiger T618. Sungguh sebuah hal yang sulit dipercaya bahwa beberapa chipset flagship lawas pun kini menjadi setara dengan SoC entry-level. Semoga informasi tersebut bermanfaat bagi Anda sehingga bisa melakukan perbandingan ponsel secara akurat sebelum meminang sebuah smartphone.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram