carisinyal web banner retina
Carisinyal / Laptop / 10 Kelebihan dan Kekurangan Mac Mini yang Perlu Anda Tahu

10 Kelebihan dan Kekurangan Mac Mini yang Perlu Anda Tahu

Ditulis oleh Ahmad Tsalis - Diperbaharui 21 April 2021

Banyak kreator konten yang merasa terbantu dengan komputer bikinan Apple, entah itu iMac atau MacBook. Produk komputer dari Apple jadi pilihan utama para kreator konten tidak lain karena performa oke, stabil, dan kemampuan grafisnya yang sip. Pekerjaan serius seperti mengedit foto, mendesain poster, sampai rendering video bisa diatasi tanpa masalah berarti.

Komputer Apple tidak hanya 'berjualan spesifikasi' seperti komputer Windows. Namun, mereka menawarkan sebuah keseragaman ekosistem yang mampu menjamin pengalaman terbaik dan kenyamanan bagi si pengguna. Ekosistem yang dimaksud adalah adanya integrasi antara software dan hardware. Bahkan, Apple punya standar tinggi buat aplikasi pihak ketiga yang ingin mendukungnya.

Di sisi lain, orang yang punya mobilitas tinggi tentu bakal mustahil menenteng komputer desktop iMac ke mana-mana. Sedangkan membawa laptop MacBook Pro yang bisa dimasukkan tas punggung masih kurang ringkas. Itulah mengapa Apple meluncurkan komputer mungil Mac Mini sejak 2005. Dengan ukuran panjang x lebar tidak lebih dari penggaris 30 cm, Mac Mini sangat kompak.

November 2020 Apple meluncurkan generasi kelima Mac Mini dengan prosesor terbarunya, Apple M1. Untuk diketahui, Mac Mini generasi kelima ini adalah salah satu lini produk Apple pertama yang memakai prosesor bikinan sendiri.

Sebelumnya, Apple selalu memercayakan prosesor Intel sejak kemunculan generasi kedua Mac Mini (2006). Mungkin Anda akan penasaran sehebat apa kemampuan Mac Mini dengan prosesor Apple M1, dan seberapa worth it untuk dimiliki. Oleh sebab itu, simak ulasan kelebihan dan kekurangannya berikut:

Spesifikasi Mac Mini

  • Prosesor: System on Chip Apple M1 (8 core: 4 core kencang + 4 core efisiensi; neural engine 16 core) 3,2 GHz, berbasis ARM 5 nm
  • Kartu Grafis: GPU terintegrasi 8 core dengan luaran 2,6 teraflop, 1278 MHz
  • RAM: 8 GB atau 16 GB LPDDR4X-4266 MHz SDRAM (unified memory)
  • Storage: SSD 256 GB, 512 GB, 1 TB, atau 2 TB
  • Konektivitas: WiFi 6 (802.11ax) kompatibel dengan IEEE 802.11a/b/g/n/ac, Bluetooth 5.0
  • Port: 1 Ethernet (RJ-45), 1 HDMI 2.0, 2 Thunderbolt/USB-A (USB 4 + USB 3.1 gen 2), jek audio 3,5 mm, colokan adaptor
  • Konsumsi Daya Maksimum: 39 Watt
  • Dimensi dan Bobot: 19,7 x 19,7 x 3,6 cm; 1,2 kg

Kelebihan Mac Mini

Bentuk yang ringkas sebagaimana para pendahulunya bukan satu-satunya faktor kelebihan dari Mac Mini. Ada banyak hal yang membuat perangkat mungil ini menarik. Apa saja itu? Mari kita bahas satu per satu.

1. Performa Mantap

Komputer Windows boleh lebih dahulu mengadopsi prosesor berbasis ARM. HP Envy X2 yang diperkenalkan ke publik pada 2017 adalah salah satunya. Namun, hingga artikel ini ditulis, tak ada satu pun komputer Windows berbasis ARM yang performanya mampu mengungguli komputer Apple dengan chipset M1.

Salah satu masalah terbesarnya adalah, komputer Windows dengan prosesor ARM belum terlalu lihai melakukan emulasi software berarsitektur x86. Karena itu, M1 merupakan awalan yang bagus buat Apple untuk bisa melepaskan ketergantungan terhadap Intel pada masa mendatang.

Chris Welch dari The Verge pun mengakui bahwa performa Mac Mini dengan chip Apple M1 benar-benar hebat. Menurut pengalaman Welch, Mac Mini mampu menjalankan aplikasi berarsitektur x86 (yang dirancang buat prosesor Intel) dengan cukup baik.

Aplikasi yang dia coba adalah Lightroom Classic, Plex, dan Google Chrome dengan lusinan tab. Rahasia kemampuan keren chipset M1 ini ternyata ada pada software emulasi Apple Rosetta 2. Ketika pertama kali akan meng-install aplikasi x86, pengguna akan terlebih dahulu diminta mengunduh software Apple Rosetta 2 lalu memasangnya.

Di samping Rosetta 2, hal yang membuat Mac Mini dengan chip M1-nya stabil adalah sistem operasi terbaru, macOS Big Sur. Lewat sistem operasi ini, Apple merancang seluruh aplikasi dengan label Apple teroptimasi secara universal. Artinya, mau dipasang di perangkat Apple mana pun, sebuah aplikasi tetap lancar digunakan. Hal ini membuat Mac Mini bisa menjalankan aplikasi iOS.

Sementara itu, menurut pengalaman Matt Hanson dari Tech Radar, mengedit video 8K dengan Final Cut Pro sambil membuka banyak aplikasi lain tak membuat Mac Mini ngos-ngosan. Performanya tetap lancar, sebuah kabar baik buat desainer maupun videografer.

Tidak lengkap rasanya jika tak menyertakan hasil uji software benchmark sintetis. Tes pertama yakni menggunakan software Geekbench 5 untuk menguji kemampuan prosesornya. Matt Hanson menyebut skor singlecore yang dihasilkan chip M1 menyentuh angka 1754, dengan multicore 7676. Adapun unit yang diuji Hanson adalah varian termurah (RAM 8 GB, SSD 256 GB).

Sementara itu, dengan varian yang sama, Shubham Agarwal dari Laptop Mag mendapat skor mirip: 1706 untuk singlecore. Skor singlecore chip M1 di Mac Mini berada di urutan teratas, mengungguli Mac Mini 2018 (generasi keempat).


Baca juga:

Bahkan sedikit lebih tinggi ketimbang MacBook Pro (13 inci) dan Mac Book Air 2020 yang sama-sama punya chip M1. Posisi teratas tidak berubah dalam pengujian multicore. Kata Agarwal, skor Mac Mini juga lebih tinggi ketimbang MacBook Pro (16 inci) yang memakai prosesor Intel Core i9 delapan inti.

Kemudian, dalam uji dengan software Cinebench R23 yang dilakukan oleh Matt Hanson, skor yang didapat adalah 1.515 (singlecore) dan 7755 (multicore). Shubham Agarwal pun dapat skor yang tak jauh beda, yaitu 1509 (singlecore) dan 7741 (multicore). Angka-angka ini menandakan prosesor delapan inti yang ada di chip M1 punya performa mantap!

Selanjutnya, tes yang tidak kalah penting adalah kemampuan prosesor melakukan rendering video. Software pertama yang digunakan adalah Handbrake 1.4 yang ramah buat prosesor M1. Berdasarkan tes yang dilakukan Agarwal, Mac Mini sanggup mengubah video 4k menjadi video 1080p dalam waktu 8 menit. Menurut Agarwal, jangka waktu itu lebih cepat daripada rata-rata komputer mini lainnya.


Adapun waktu yang dibutuhkan melebar jadi 13 menit saat software Handbrake dijalankan dengan Rosetta 2. Hasil tak jauh beda juga didapati Brian Westover dari Toms Guide. Dia mendapat waktu 8 menit 11 detik pada uji dengan Handbrake 1.4, dan 12 menit lebih 38 detik memakai Handbrake yang umum buat prosesor PC.

Uji kemampuan prosesor sudah, lalu bagaimana dengan kemampuan grafisnya? Andrei Frumusanu dari Anand Tech pun mencobanya dengan software uji paling mainstream GFXBench 5.0 Aztec Ruins. Di software ini, Mac Mini diadu dengan beberapa laptop. Hasilnya, ia selalu lebih unggul ketimbang laptop lain dengan kartu grafis terintegrasi.

Uji frame rate di 1080p
Uji frame rate di 1440p

Bahkan Mac Mini lebih tinggi daripada Acer Nitro 5 2019 yang memakai prosesor AMD Ryzen 5 2500U dengan VGA diskrit AMD RX 560X. Meski begitu, Mac Mini masih tertinggal dari Surface Book 15 (Core i7 1065G7 + NVIDIA GeForce GTX 1660 Ti).

Frames per second yang didapat Mac Mini dalam uji menggunakan GFXBench 5.0 adalah 204,8 (normal 1080p) dan 77,7 (High 1440p). Dari hasil ini, Frumusanu berani menyebut bahwa GPU yang ada di dalam chip M1 adalah juaranya GPU terintegrasi, dan rival buat GPU discrete. Gambaran tersebut semakin diperjelas dengan uji langsung lewat beberapa gim.

Berdasarkan tes yang dilakukan Frumusanu dengan game Rise of Thomb Raider, Mac Mini dengan Rosetta 2 selalu mampu menghasilkan gambar di atas 60 fps (rerata 73,1 fps), pada pengaturan grafik HD (1366 x 768). Sedangkan bila pengaturan grafiknya ditingkatkan menjadi Full HD, gambar yang dihasilkan masih playable di 39,6 fps.

Rise of Thomb Rider Medium 720p
Rise of Thomb Rider Very High 1080p

Gim lain seperti Counter Strike Global Offensive dan Fortnite dapat ditampilkan pada 40 fps, kata Shubham Agarwal. Intinya, gim-gim berbasis x86 yang disebutkan dapat ditangani oleh SoC M1 yang berbasis ARM.

Meski begitu, menurut John Burek dari PC Mag, GPU dalam M1 tentu lebih perkasa jika menangani gim-gim universal Apple, Baldurs Gate 3 misalnya. Hanya saja, hasil ini memberi bukti bahwa M1 benar-benar jadi penantang serius buat Intel Iris Xe yang menurut beberapa orang merupakan GPU terintegrasi paling kencang di dunia.

Selain karena chipset-nya, kecepatan SSD juga berandil dalam keandalan performa Mac Mini. Apple mengklaim SSD yang disematkan dua kali lebih kencang daripada yang dipakai di Mac Mini sebelumnya.

Saat diuji oleh Agarwal dengan aplikasi Blackmagic, kecepatan sequential-nya memang cukup baik. Yakni 2400 MB/s (tulis) and 2700 MB/s (baca), melampaui standar industri yang hanya 1300-1400 Mbps.

2. Senyap dan Dingin

Mac Mini punya satu kipas yang bisa dilepas berikut heat sink yang menyatu dengan motherboard kecil. Dalam kasus laptop, keberadaan kipas biasanya menandakan bahwa laptop bisa diajak berpacu untuk kecepatan tinggi. Namun, belakangan ada banyak laptop berspesifikasi tinggi yang memakai liquid cooling, alih-alih mempertahankan kipas sebagai media transfer panas.

Kendati punya kipas, Mac Mini tak mengeluarkan suara berisik saat diajak melakukan tugas berat. Hal itu seperti yang diungkapkan Chris Welch. Welch mengaku tak pernah mendengar desis kipas selama 30 menit menguji Mac Mini dengan software Cinebench atau ketika meng-convert video 4k. Mac Mini tetap mampu bekerja di kecepatan tertingginya.

Bahkan Shubham Agarwal gagal membuat kipas Mac Mini 'bersuara' selama tiga minggu pengujian. Mac Mini tetap dingin saat dipakai untuk mengedit video 4K dengan Adobe Premier Pro, sambil menyetel tiga video UltraHD di YouTube.

Aaron Zollo, pemilik kanal YouTube Zollotech, juga merasakan hal sama. Kata Zollo, Mac Mini kepunyaannya tetap dingin pasca dipakai uji benchmark sintetis Geekbench 5 dan Cinebench R23.

Meski begitu, Zollo tidak mengukur berapa temperatur si komputer mungilnya. Keterjagaan Mac Mini dari suara bising kipas dan suhu panas bisa jadi karena daya listrik yang digunakan untuk mendinginkan prosesornya tidak besar.

Menurut pengujian Andrei Frumusanu dalam situs web Anand Tech, paling mentok chip M1 butuh daya 27 Watt (TDP) saat menghadapi beban kerja tinggi (dalam skenario multi-threaded). Kata dia, kira-kira reratanya ada di 20-24 Watt. Hasil ini lebih rendah dari klaim Apple yang menyebut Mac Mini punya konsumsi daya maksimum 39 W.

Di sisi lain, Brian Westover mengharap Mac Mini punya performa lebih tinggi daripada dua saudaranya yang juga memakai chip M1 MacBook Air dan MacBook Pro. Mengingat Mac Mini punya kipas, tak seperti dua saudaranya itu.

3. Desain Tetap Cantik

Sederhana, cantik, dan elegan adalah bahasa desain untuk seluruh produk Apple, tak terkecuali buat Mac Mini. Karena itu, jika Anda mencari komputer mungil dengan desain paling cantik, Mac Mini adalah jawabannya. Desain komputer mungil ini tak banyak berubah dari edisi 2018.

Hanya warnanya saja yang kini berubah jadi silver, generasi sebelumnya berwarna perak keabu-abuan. Kemudian bodinya tetap memakai material aluminium yang dipoles secara halus layaknya sutra. Empat tepi bodi dibentuk secara melengkung tanpa sambungan.

Pada bagian atas ada logo tiga dimensi Apple yang berkilau. Seluruh port ditaruh dalam dudukan berwarna hitam yang memanjang di sisi belakang. Di situ ada pula tombol power yang ketika dipencet maka indikator LED di bagian depan akan menyala. Beranjak ke bagian bawah, ada sebuah piringan plastik hitam yang agak menonjol bertuliskan "Mac mini".

Piringan itu adalah kaki dari Mac Mini yang bisa dilepas guna mengakses jeroannya. Sayang, meski bisa dibongkar, Anda tak bisa mengutak-atik jeroannya karena seluruh komponen tersolder dalam motherboard, termasuk storage SSD dan RAM.

Mac Mini 2020 dirangkai dalam dimensi 19,7 x 19,7 x 3,6 cm dan bobot 1,2 kg. Lebih ringan 136 gram ketimbang edisi sebelumnya. Bobot yang ringan dari pendahulunya disebabkan karena Mac Mini 2020 sudah memakai konfigurasi SoC yang lebih ringkas.

4. Harga Relatif Terjangkau

Di Indonesia, Mac Mini dibanderol dengan harga sekitar Rp12 juta untuk varian 256/8 GB. Varian lainnya dengan storage 512 GB dijual Rp14 jutaan. Nominal ini tidak berbeda jauh ketika Mac Mini generasi sebelumnya meluncur pada 2018.

Mengeluarkan uang sebanyak Rp12-14 juta memang bukan jumlah yang sedikit. Akan tetapi, jika mencermati performa yang disajikan sebagaimana dijelaskan pada poin pertama, Mac Mini bisa dikategorikan murah. Dalam hal ini Mac Mini punya price to performance yang oke.

Alasannya karena performanya bisa menandingi laptop-laptop Apple yang juga memakai chip M1. Selain itu, Mac Mini jelas lebih murah daripada saudara-saudaranya. Sebagai perbandingan, Mac Book Air 13 inci versi paling murah dibanderol Rp16 jutaan. Mac Mini pun menjadi perangkat dengan chip M1 paling terjangkau yang bisa Anda beli.

5. Dukungan Wi-Fi 6

Bluetooth dan Wi-Fi adalah sarana yang dimiliki oleh Mac Mini 2020 agar bisa terhubung ke perangkat lain atau jaringan. Teknologi Bluetooth yang disertakan masih sama dengan Mac Mini 2018, yakni 5.0. Namun, untuk Wi-Fi sudah diberi generasi yang lebih anyar, yaitu Wi-Fi 6.

Pemberian dukungan Wi-Fi 6 membuat Mac Mini 2020 melakukan dua lompatan. Pasalnya, sang pendahulu mentok di Wi-Fi generasi 4 alias WiFi n. Lantas, apa benefit Wi-Fi 6? Yang jelas Wi-Fi jenis ini sudah bisa menggunakan spektrum 5 GHz layaknya Wi-Fi 5.

Namun, Wi-Fi 6 punya transfer data lebih kencang (9,6 Gbps berbanding 3,5 Gbps) dan memiliki stabilitas empat kali lebih tinggi daripada WI-Fi 5. Selain itu, Wi-FI 6 lebih hemat daya serta punya performa lebih baik di lingkungan padat. Protokol Wi-Fi 6 tentu saja akan lebih masif digunakan pada masa depan.

Kekurangan Mac Mini

Chipset M1 membuat Mac Mini terlihat istimewa dari segi performa. Akan tetapi, Mac Mini tidak hadir begitu saja tanpa cela. Berikut ini terdapat beberapa kekurangan Mac Mini yang mungkin saja bisa Anda setujui.

1. Port Lebih Sedikit

Jumlah Port Mac Mini 2020 vs Mac Mini 2018

Jumlah port yang dimiliki Mac Mini (2020) dengan chip Apple M1 ini lebih sedikit ketimbang generasi 2018 yang memakai prosesor Intel. Pada gambar di atas Anda bisa melihat bahwa port Thunderbolt 3 (USB tipe C, USB 4) yang dimiliki Mac Mini M1 cuma dua, sedangkan Mac Mini 2018 ada empat.

Tak berhenti di situ pembatasan yang Apple buat untuk produknya ini. Sebab, Mac Mini M1 juga hanya mendukung maksimal dua layar eksternal, dan hanya satu layar yang bisa terhubung lewat port Thunderbolt. Layar yang lain harus dihubungkan via port HDMI.

Bandingkan dengan Mac Mini 2018 yang bisa dihubungkan ke tiga layar eksternal. Pembatasan port Thunderbolt ini otomatis memangkas dukungan resolusi maksimal 6K 60 Hz. Pasalnya, layar yang dicolokkan via port HDMI paling pol beresolusi 4K dengan laju penyegaran 60 Hz.

Hal yang disayangkan selanjutnya adalah downgrade port ethernet ke jenis biasa. Bukan ethernet 10 Gbps seperti yang dipasang di Mac Mini 2018. Port ini mungkin tidak terlalu penting karena sebagian orang masa kini lebih senang internetan via Wi-FI.

Namun, kecepatan tinggi yang bisa disajikan port ethernet 10 Gbps tentu saja tidak bisa ditandingi oleh Wi-Fi dan tidak didukung pula oleh port ethernet biasa. Orang yang butuh koneksi dari port ini--seperti kreator konten yang butuh video mentah tanpa kompresi--jelas mesti lebih bersabar kala memakaI Mac Mini M1.

Satu lagi port yang dirasa tidak nyaman bagi Shubham Agarwal adalah colokan audio 3,5 mm. Coba saja peletakannya ditaruh di depan, maka jelas akan lebih nyaman digunakan. Sayang, dari tahun ke tahun jack audio 3,5 mm pada Mac Mini selalu ditaruh di belakang.

2. Tidak Bisa Pakai GPU Eksternal

GPU delapan core yang dikandung chip M1 rasa-rasanya lebih menjanjikan daripada Intel Iris. Sebab, berdasarkan pengalaman banyak penguji, GPU ini membuat kinerja Mac Mini tampak ringan. Entah itu untuk melakukan rendering video, edit foto, bahkan bermain gim.

Hanya saja, performanya tidak bisa dikebut lagi lantaran chip M1 tak mendukung pemasangan GPU eksternal (eGPU). Mac Mini 2018 masih bisa dipasangi eGPU.

Fakta ini adalah hal yang disayangkan mengingat eGPU adalah satu-satunya cara agar sebuah komputer mini bisa powerfull digunakan untuk waktu yang lama. Selain itu, ketiadaan dukungan GPU eksternal pada Mac Mini M1 membuat port Thunderbolt-nya jadi sedikit sia-sia.

3. Tak Bisa Di-upgrade

Apple tak lagi menghendaki penggunanya meng-upgrade memori internal pada Mac Mini sejak kemunculan generasi keempat (2018). Namun, pengguna masih bisa mengutak-atik konfigurasi RAM karena penutup bawah Mac Mini dapat dibongkar.

Penutup bawah Mac Mini 2020 juga bisa dibongkar untuk melihat apa penampakan jeroannya. Sayangnya, Anda tak akan lagi menemui slot dua keping RAM yang bisa dicopot seperti Mac Mini 2018. Benar, RAM yang ada di Mac Mini 2020 kini disolder pada motherboard.

Hal ini membuat Mac Mini 2020 mungkin tidak future-poof karena pengguna tidak bisa meng-upgrade-nya pada masa mendatang. Apple berdalih bahwa RAM yang dipasang pada Mac Mini generasi terbaru punya mekanisme unified memory alias sistem memori terpadu.

Sederhananya, mekanisme unified memory mengizinkan seluruh komponen untuk mengakses memori yang ada di dalam RAM dan memori yang ada di dalam GPU secara sekaligus.

Jadi, misalnya memori yang dibutuhkan untuk melakukan rendering kurang, GPU bisa mengambilnya di RAM tanpa adanya jembatan apa pun. Menurut Apple, mekanisme ini lebih efisien dan menjanjikan performa lebih cepat.

4. Speaker Pelan

Chris Welch dari The Verge dan Shubham Agarwal Agarwal dari Laptop Mag menyayangkan kualitas suara yang keluar dari speaker Mac Mini. Saking sedihnya dengan luaran suara si komputer, Welch menyarankan untuk tidak usah dipakai.

Suaranya cempreng, dangkal, dan datar. Bahkan, untuk memainkan video di YouTube pun tidak layak. Cukup memalukan buat sebuah komputer keluaran 2020, menurut Agarwal.

Berdasarkan pengalaman Welch dan Agarwal, Anda yang meminati Mac Mini mesti berinvestasi lagi. Minimal Anda membeli headset untuk pemakaian pribadi, atau speaker yang disambungkan via bluetooth jika hendak dipakai untuk ramai-ramai.

5. Beberapa Masalah soal Kompatibilitas

Selain hal yang dijelaskan pada empat poin kekurangan di atas, ada beberapa masalah yang ditemui oleh para penguji. Misalnya, masalah penyambungan mouse dan keyboard bluetooth. Berdasarkan pengalaman Chris Welch, dua perangkat tersebut tidak bisa langsung disambung secara plug and play.

Sebab, Welch memerlukan mouse dan keyboard berkabel untuk melakukan pengaturan awal guna menghubungkan mouse dan keyboard bluetooth. Hal ini tentu saja merepotkan bukan? Bahkan, Brian Westover dari Tom's Guide merasa bahwa ada yang salah dengan bluetooth Mac Mini.

Pasalnya, mouse, keyboard, dan headphone yang ia sambungkan kadang-kadang terputus sambungannya secara tiba-tiba. Kata Westover, pengguna lain ada juga yang merasakan mouse-nya jadi lamban, dan tidak bisa diarahkan secara tepat. Masalah ini bisa diatasi dengan update software.

Masalah selanjutnya adalah kompatibilitas aplikasi. Sistem operasi Big Sur dan software emulasi Rosetta 2 memang menjamin aplikasi-aplikasi Apple yang lawas (dirancang berbasis Intel) bisa dijalankan di Mac Mini yang punya prosesor M1 berbasis ARM. Begitu juga dengan aplikasi-aplikasi iOS.

Namun, kini Mac Mini 2020 tak lagi bisa menjalankan aplikasi dan gim Windows seperti para pendahulunya. Alasannya karena Mac Mini 2020 kini tidak lagi mendukung software Boot Camp yang dibikin Apple sejak 2006. Dulu pengguna komputer Apple tak hanya bisa menjalankan gim dan aplikasi Windows dengan Boot Camp.

Sebab, dengan software itu, mereka juga bisa meng-install sistem operasi Windows di komputer Apple. Ketidakmampuan menjalankan gim dan aplikasi Windows populer bisa jadi membuat Anda berpikir dua kali untuk membeli Mac Mini.

Simpulan

Mac Mini 2020 dengan sistem operasi Big Sur dan software emulasi Rosetta 2 terbukti powerfull untuk menjalankan berbagai aktivitas. Tak ada penurunan performa dan isu panas berlebih kendati pekerjaan berat ditimpakan kepadanya.

Makin menarik lagi karena Mac Mini adalah komputer berchipset M1 termurah yang bisa Anda dapatkan. Namun, kendala RAM yang tidak bisa di-upgrade bisa jadi akan mengurungkan niat Anda untuk membeli Mac Mini 2020. Juga karena Mac Mini 2020 tak bisa menjalankan gim dan aplikasi Windows.

Mac Mini 2018 yang memakai prosesor intel (Core i, Core i5, Core i7) mungkin bisa jadi alternatif, dan masih oke dipakai. Sebab, si pendahulu masih memungkinkan untuk di-upgrade RAM-nya dan bisa juga dipasangi aplikasi Boot Camp. Harga Mac Mini 2018 pun lebih murah karena ada yang menjual di kisaran harga Rp8 jutaan, untuk varian Core i3 dengan RAM 8 GB dan storage 128 GB.

Kalau ingin yang lebih murah lagi ada Intel NUC 10 yang dijual sekitar Rp4 jutaan. Komputer mini besutan Intel ini ditenagai oleh prosesor Core i3 yang juga tangguh. Hanya, dengan harga tersebut, komputer mungil ini 'kosongan', alias tidak ada RAM, SSD, dan tidak ada pula sistem operasi. Sekarang, Anda mau beli yang mana?

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram