carisinyal web banner retina
Mau nanya rekomendasi HP? klik di sini

Membabar Kelebihan dan Kekurangan HP ASUS Zenfone 8

Ditulis oleh Ahmad Tsalis - Diperbaharui 7 Juni 2021
Update!
Untuk info harga HP terbaru klik di sini

ASUS mendobrak konstelasi smartphone dunia dengan meluncurkan ASUS Zenfone 8 pada Mei 2021. Alasannya, ponsel ini menawarkan bentuk kompak dengan spesifikasi kelas atas. Ponsel kompak dengan spesifikasi kelas atas merupakan hal yang sulit ditemui sejak smartphone memasuki era layar penuh (fullview).

ASUS pun menjawab kegundahan Anda yang rindu akan smartphone Android yang pas digenggam, enak dimasukkan saku celana, dan punya performa tak mengecewakan. Adapun kedatangan ASUS Zenfone 8 tentu bakal menyaingi Apple iPhone yang konsisten menghadirkan ponsel mungil, meskipun ia memiliki platform berbeda.

Kali ini Carisinyal akan membabar habis-habisan kelebihan dan kekurangan ASUS Zenfone 8 yang telah dikonfirmasi masuk ke Indonesia. Ulasan dalam artikel ini dapat Anda jadikan sebagai salah satu referensi untuk memberi penilaian terhadap si ponsel. Sebelum berlanjut ke pembahasan, mari simak spesifikasi singkat ASUS Zenfone 8 sebagai berikut.

Spesifikasi ASUS Zenfone 8

  • Rilis: Mei 2021
  • Layar: Super AMOLED, 5,9 inci, 1080 x 2400 piksel
  • Chipset: Snapdragon 888
  • GPU: Adreno 660
  • RAM: 6 GB, 8 GB, 16 GB
  • Memori Internal: 128 GB, 256 GB
  • Memori Eksternal: -
  • Kamera Belakang: 64 MP + 12 MP
  • Kamera Depan: 12 MP
  • Baterai: Li-Po 4000 mAh

Spesifikasi selengkapnya...

Kelebihan ASUS Zenfone 8

Ada dua kata yang bisa menggambarkan ASUS Zenfone 8: kecil dan bertenaga. Gambaran itu bakal tercermin dalam poin-poin kelebihan di bawah ini. Yuk, simak satu per satu!

1. Desain Ergonomis dan Tahan Air

sumber: asus.com

Anda mungkin akan bertanya mengapa ASUS nekat mendesain Zenfone 8 dengan bentuk mungil. Jawabannya adalah, ASUS mengklaim bahwa dua per tiga penduduk dunia menginginkan smartphone dengan lebar layar kurang dari 6 inci. Begitu seperti yang dikatakan Eric Zeman dalam laman Android Authority.

Lebih lanjut, riset pasar yang dilakukan oleh ASUS memberi kesimpulan bahwa sebuah ponsel harus punya panjang kurang dari 150 mm dan lebar kurang dari 70 mm. Itulah mengapa Zenfone 8 dirancang dengan dimensi 148 x 68,5 x 8,9 mm, plus berbobot ringan: 169 gram.

Beberapa penguji sama sekali tidak mengalami masalah ketika menggenggam Zenfone 8 yang berdimensi mungil ini. Padahal, sebelum bertemu ponsel 5G ini, mereka sehari-hari menggunakan ponsel jumbo. Alisson Johnson dari The Verge mengaku tidak butuh lama beradaptasi dengan Zenfone 8 karena langsung nyaman di tangannya.

Penguji XDA-Developers, Mishaal Rahman, menyatakan hal serupa. Rahman bilang, memegang Zenfone 8 berjam-jam dengan satu tangan sangat memungkinkan. Ia juga bisa menjangkau seluruh sudut layar ponsel dengan jempolnya. Pengakuan dari Johnson dan Rahman tersebut punya arti bahwa Zenfone 8 punya desain yang sangat ergonomis.

Bukan cuma bentuk mungil yang jadi perhatian ASUS terhadap desain Zenfone 8. Pasalnya, mereka juga memberi material premium untuk menjamin build quality prima. Mulai dari kaca Corning Gorilla Glass Victus untuk sisi depan, logam aluminium untuk frame lengkung, dan kaca buram (frosted) Gorilla Glass 3 yang dipoles matte buat sisi belakang.

Adapun pemilihan material kaca buram dengan polesan matte membuat bercak tangan tak akan mudah menempel di sisi belakang ponsel. Baik itu untuk varian warna Obsidian Black maupun Horizon Silver.

Selain mungil dan punya kesan premium, Zenfone 8 tampil sederhana. Tidak ada aksen neko-neko pada sisi buritan selain tulisan "ASUS Zenfone" dan modul kamera belakang berkelir hitam yang sedikit menonjol. Modul tersebut dihuni oleh dua lensa dan satu lampu flash.

Pada bagian samping alias frame, Anda akan menjumpai tombol volume dan tombol power berwarna biru di sisi kanan. Lalu, di sisi bawah ada port USB C, slot nanoSIM, grill speaker utama, mikrofon, dan lampu LED notifikasi yang kini jarang ditemui! Di sisi kiri tidak ada apa-apa, sedangkan di sisi atas ada jack audio 3,5 mm.

Sementara itu, pada bagian depan ada layar yang punya bezel sedikit lebih tebal ketimbang ponsel flagship, dengan selingkar lensa kamera di pojok kiri atas. Ada juga earpiece yang punya fungsi ganda sebagai speaker sekunder.

Tidak ketinggalan, Zenfone 8 dijamin tahan debu dan air karena punya sertifikasi IP68. Karena sertifikasi tersebut, ponsel ini dijamin aman 'berendam' hingga kedalaman 1,5 m selama 30 menit.

2. Tampilan Sip

Namanya saja ponsel flagship, sisi tampilan mesti tidak boleh dikesampingkan. Ya, layar flat Zenfone 8 memakai panel Super AMOLED dengan material E4. Layar berbentang 5,9 inci ponsel ini memiliki resolusi Full HD+ (1080 x 2400 piksel), rasio 20:9, dengan kerapatan piksel 446 ppi.

Resolusi Full HD+ dan kerapatan piksel 446 ppi menjadikan seluruh konten yang disajikan oleh layar ponsel ini begitu tajam. Menurut David Lumb dari Tech Radar, ketajaman layar Zenfone 8 bahkan lebih baik ketimbang iPhone 12 Pro.

Selanjutnya, dukungan laju penyegaran (refresh rate) 120 Hz membuat layar Zenfone 8 di atas kertas akan memberi pengalaman menyenangkan seperti saat scrolling di aplikasi media sosial. Soal refresh rate tinggi, Anda tak perlu khawatir hal itu bakal membikin baterai jadi boros.

Sebab, dengan setelan dynamic, ponsel akan otomatis berpindah ke mode 60 atau 90 Hz. Bahkan pengguna juga bisa memilih sendiri untuk memilih mode 60, 90, atau 120 Hz secara fixed pada menu pengaturan.

Layar ponsel yang mendukung Widevine L1 ini juga punya touch sampling rate 240 Hz dengan respons 1 milidetik. Karena itu, jika Anda bermain gim dengan Zenfone 8, tidak akan ada waktu jeda yang terasa antara input dengan gerakan yang ditimbulkan.

Soal reproduksi warna, layar Zenfone 8 terbilang ciamik karena punya gamut warna DCI-P3 112%, delta E kurang dari 1 (menunjukkan akurasi warna), dan mendukung HDR10+. GSM Arena mengonfirmasi bahwa rentang kedalaman warna ponsel ini memang masuk dalam kategori DCI-P3.

Namun, dalam beberapa setelan temperatur warna yang disediakan pada menu pengaturan, delta E di bawah 1 tidak selalu tercapai. Kendati demikian, GSM Arena menilai warna yang ditampilkan layar Zenfone 8 masih sangat akurat, kecuali putih dan abu-abu yang tampak kebiruan.

Pengguna dapat mengurangi unsur kebiruan pada dua warna tersebut dengan melakukan kalibrasi secara manual pada menu pengaturan. Selanjutnya, bagaimana soal kecerahannya? ASUS menjanjikan layar Zenfone 8 bisa mengeluarkan tampilan yang terang hingga 800 nit, saat berada di luar ruangan.

Angka ini sesuai dengan pengujian yang dilakukan oleh GSM Arena. Adapun kecerahan puncak 1100 nit bisa diperoleh ketika ponsel digunakan untuk menyetel konten HDR. Tidak cuma terang, layar Zenfone 8 juga bisa sangat redup dengan kecerahan minimum 2,2 nit.

Kecerahan yang rendah dipadu dengan fitur DC Dimming (mengurangi kedipan layar), membuat mata Anda tidak cepat lelah saat memakai ponsel menjelang tidur pada malam hari. Apalagi radiasi warna biru juga ditekan hingga kurang dari 6,5%, dibuktikan dengan sertifikasi Eye Care Display dari lembaga inspeksi SGS.

Terakhir, karena memakai panel Super AMOLED, ponsel ini punya pemindai sidik jari di bawah permukaan layar dan fitur Always-on Display.

3. Kamera Mumpuni

sumber: asus.com

ASUS kukuh dengan semangat kesederhanan di tengah tren lensa kamera bejibun yang dipasang di smartphone. Atas dasar itu, ASUS percaya diri membekali buritan Zenfone 8 dengan dua lensa kamera saja. Kamera utamanya ditenagai oleh sensor 64 MP Sony IMX686.

Sensor berukuran 1/1,73 inci ini secara default menghasilkan gambar 16 MP. Teknologi 4-in-1 pixel binning dari filter Quad-Bayer RGGB membuat satu piksel gambarnya berubah menjadi 0.8µm, sehingga resolusi 64 MP tercapai. Selain itu, kamera utama ini dilengkapi lensa dengan focal length 26 mm, bukaan f/1.8, OIS, dan teknologi autofokus PDAF.

Kemudian, kamera ultrawide-nya diperkuat oleh sensor 12 MP Sony IMX363 berukuran 1/2,55 inci yang bisa menghasilkan piksel dengan besar 1.4µm. Sensor ini dipadu dengan lensa 14 mm yang punya sudut pandang 113°, diafragma f/2.2, dan dual pixel PDAF.

Tidak ada lensa telefoto di barisan kamera belakang seperti Zenfone 7. Namun, ASUS mengklaim bahwa kamera utama Zenfone 8 bisa menghasilkan foto yang tajam hingga dua kali perbesaran.

Sementara itu, kamera depan ponsel ini dihuni sensor 12 MP Sony IMX IMX663 1/2,93 inci dengan luaran piksel berukuran 1.22µm. Ia ditemani lensa 28 mm, apperture f/2.5, dan dual pixel PDAF.

Lantas, bagaimana hasil jepretannya? Menurut Mariyan Slavov dari Phone Arena, kamera utama ponsel ini bisa menyajikan gambar yang sangat baik. Dalam kondisi pencahayaan bagus, foto yang dihasilkan sangat detail. Warna fotonya pun ngejreng. Sebagian orang mungkin akan suka dengan warnanya, tetapi sebagian yang lain tidak.

Jepretan kamera utama (sumber: xda-developers | Mishaal Rahman)
Jepretan kamera utama - lowlight (sumber: xda-developers | Mishaal Rahman)

Slavov melanjutkan, mengambil foto dengan mode malam bisa dilakukan jika ada sedikit sumber cahaya. Hasilnya sangat bervariasi, terkadang bagus kadang pula buram. Sementara itu, hasil foto kamera ultrawide juga tergolong bagus. Namun, warna foto cenderung lebih kebiruan dibandingkan dengan foto jepretan kamera utama.

Sekedar informasi, kamera ultrawide ponsel ini juga merangkap tugas sebagai kamera makro karena dilengkapi dengan autofokus. Hanya saja, menurut GSM Arena, hasil fotonya 'campur aduk'. Foto yang dihasilkan sangat hidup dan kontrasnya jempolan. Akan tetapi, fokusnya sedikit meleset dan agak buram.

Jepretan kamera ultrawide (sumber: xda-developers | Mishaal Rahman)

Karena itu, foto yang dihasilkan seperti bukan ditangkap dengan teknik makro, tapi mirip foto close-up biasa. Hal itu terjadi jika foto diambil pada jarak 6-7 cm. Masalah fokus yang sedikit meleset ini bisa diatasi ketika foto diambil pada jarak 10 cm atau lebih.

Jepretan kamera ultrawide - makro (sumber: gsmarena.com)

Lanjut ke kamera selfie, Eric Zeman bilang bahwa kamera swafoto ponsel ini bisa menjalankan tugasnya dengan sip. Entah itu untuk mengambil foto selfie biasa atau foto selfie dengan bokeh. Saat dipakai buat mengambil foto selfie berbokeh, kamera depan Zenfone 8 sangat presisi dalam menentukan wilayah mana yang diburamkan.

Jepretan kamera selfie (sumber: xda-developers | Mishaal Rahman)

Adapun untuk perekaman video, resolusi maksimal 8K 24 fps bisa dicapai kamera utama. Sedangkan resolusi 4K 60 fps dapat dihasilkan dengan kamera utama dan kamera ultrawide. Lalu, kamera depan bisa menciptakan video dengan resolusi maksimal 4K 30fps.

Hasilnya, perekaman video Zenfone 8 secara umum bagus karena EIS bisa diaktifkan buat seluruh lensa kamera tak peduli resolusi yang dipakai. Gambarnya juga tajam dengan warna natural yang bisa dinikmati.

4. Zen UI yang Bersih

sumber: asus.com

Samsung Galaxy disebut-sebut punya OneUI yang sangat bersih dan stabil. OneUI pun jadi alasan mengapa orang nyaman memakai ponsel Samsung kendati spesifikasinya tidak tinggi-tinggi amat. Nyatanya, kenyamanan UI yang bersih dan stabil juga bisa Anda rasakan pada Zenfone 8 yang memakai ZenUI 8.

Berbeda dari OneUI yang dirombak agar tak mirip Android murni, ZenUI 8 yang berbasis Android 11 malah minim kustomisasi dan bloatware. Tampilan utama, app drawer, pemberitahuan notifikasi, hingga menu recent apps, semuanya dibuat sama persis seperti Android murni.

Fitur bawaan Android seperti Pixel Themes pun hadir dengan nama lain, yakni Style. Fitur ini memperbolehkan pengguna untuk mengganti font tulisan, warna, dan bentuk ikon. Di sisi lain, meski dari segi tampilan tak dipoles neko-neko, ZenUI disusupi begitu banyak fitur optimasi.

Beberapa di antaranya adalah one-handed mode, mini-heads up notification, twin-apps, OptiFlex (manajemen RAM), Smart Key (membuka aplikasi dengan tombol power), Game Genie, setelan mode performa, manajemen baterai.

Dari sekian fitur tersebut, dua fitur pertama yang disebutkan adalah yang paling menarik. One-handed mode berfungsi sesuai namanya, yakni untuk memudahkan pemakaian satu tangan. Fitur ini akan memperkecil tampilan layar sesuai keinginan. Sedangkan mini-heads up notification berguna untuk memperkecil tampilan notifikasi di bagian atas layar.

5. Performa Tinggi

sumber: asus.com

ASUS tak main-main terhadap sektor performa dengan membawa Snapdragon 888 ke dalam mainboard Zenfone 8. Chipset delapan inti ini terdiri atas tiga klaster CPU, GPU, dan komponen lain yang disatukan dengan proses fabrikasi 5 nm. Sorotan utama chipset ini tentu ada di CPU klaster kencangnya, yakni satu core Kryo 680 Prime yang berkecepatan 2,84 GHz.

Konon, klaster yang menggunakan arsitektur Cortex X1 ini mampu memberikan perbedaan performa 25% lebih tinggi ketimbang Snapdragon 865. Selain Kryo 680 Prime, GPU Adreno 660 yang dikandung Snapdragon 888 juga diklaim memberikan kinerja grafis 35% lebih oke daripada Adreno 650 milik Snapdragon 865.

Snapdragon 888 tentu saja menjadi modal yang bagus buat Zenfone 8 untuk menghadirkan performa terbaik di level smartphone flagship. Namun, spesifikasi di atas kertas belum terbukti benar jika tidak diuji. Beberapa penguji pun mengetes ponsel ini dengan sejumlah aplikasi benchmark sintetis untuk mengetahui sejauh apa potensinya.

Tim GSM Arena pertama-tama mengetes Zenfone 8 dengan aplikasi mainstream Antutu 8. Hasil yang diperoleh mengesankan dengan skor total 676.001. Zenfone 8 berada di peringkat pertama dan mengungguli Xiaomi Mi 11 (668.722) serta OPPO Find X3 Pro (656.467).

sumber: gsmarena.com

Tes berlanjut dengan aplikasi Geekbench 5 untuk menguji kemampuan CPU-nya. Zenfone 8 pun meraih skor 118 untuk kemampuan singlecore dan 3604 untuk multicore. Lagi-lagi ini merupakan skor yang bagus karena si ponsel mungil berada di urutan teratas.

sumber: gsmarena.com
sumber: gsmarena.com

Kemudian, GSM Arena tak lupa mencoba beberapa aplikasi untuk mengetes kemampuan grafis Zenfone 8. Sebelum uji dilakukan, ponsel dikunci pada setelan refresh rate 120 Hz.

Dalam sesi uji kemampuan grafis secara onscreen (GFX Manhattan 3.1), Zenfone 8 bisa tembus 105 fps. Lalu, pada sesi uji kemampuan grafis secara offscreen (1440p - 3DMark Wild Life Vulkan 1.1), skor 5666 berhasil dicetak Zenfone 8.

sumber: gsmarena.com

Dari hasil ini, Zenfone 8 dengan Snapdragon 888-nya menunjukkan kemampuan CPU dan GPU yang baik. Sekadar informasi, unit yang dites GSM Arena adalah varian 16 GB RAM dengan memori internal 256 GB. Namun, tes di atas hanyalah pengujian dalam sekali waktu, alias tidak merepresentasikan performa secara berkelanjutan.

Hal itu memberi kegundahan bagi para penguji jika Zenfone 8 digunakan dalam waktu yang lama. Pasalnya, Snapdragon 888 menuntut sistem manajemen termal yang baik. Sementara dengan bentuk yang mungil, Zenfone 8 jelas tidak punya ruang lebih untuk memasang komponen penyaluran panas istimewa layaknya HP bertubuh bongsor seperti ROG Phone 5.

Kegundahan ini terjawab setelah uji dengan aplikasi 3D Mark Wild Life Stress Test dilakukan. Uji ini sederhananya yakni memberi beban kerja tertinggi pada CPU dan GPU, untuk melihat seberapa lama sebuah ponsel mampu mempertahankan performa tertinggi.

Hasilnya, GSM Arena mendapati Zenfone 8 mengalami penurunan kinerja CPU hingga 15% dalam satu sesi uji. Tidak diketahui mode apa yang dipakai, GSM Arena hanya menyebut bahwa ponsel disetel dalam konfigurasi refresh rate 120 Hz.

Sedangkan Mishaal Rahman dan tim XDA-Developers memakai aplikasi CPU Throttling tes untuk melakukan uji serupa. Hasilnya, Zenfone 8 mengalami penurunan kinerja CPU ke level 60% dari performa puncaknya selama satu sesi uji (30 menit). Raihan itu didapat ketika ponsel disetel dengan mode Dynamic.

Penurunan kinerja CPU berhasil diperbaiki ke level 76% dari performa puncak ketika Mishaal Rahman menyetel ponsel pada mode High-performance. Rahman pun meyakini bahwa High-Performance bisa menanggulangi penurunan performa pada Zenfone 8.

Uji CPU Throttling - High performance mode (sumber: xda-developers.com)

Pasalnya, saat Rahman menguji kemampuan GPU dengan aplikasi 3DMark‘s Wildlife Extreme Stress Test, ponsel ini menunjukkan gejala serupa. Mode High-Performance membuat kinerja GPU hanya turun ke level 84,5% dari performa puncak. Sedangkan mode Dynamic bikin kinerja GPU terjun ke level 53,9% dari performa maksimal.

Jika diimplementasikan di kondisi nyata, mode High-Performance sangat dianjurkan untuk dipakai jika Anda tengah memainkan gim dengan refresh rate tinggi. Walaupun hal itu membuat ponsel jadi rakus daya. Apa yang diyakini Rahman ini terbukti ketika ia menjajal gim ponsel terberat di dunia, Genshin Impact.

Mode Dynamic hanya mampu membuat Zenfone 8 mencapai 48 fps, meleset sekitar 18,4% dari fps target, yakni 60. Rahman memperoleh hasil yang lebih baik saat menggunakan mode High-Performance. Namun, ponsel jadi terlalu panas dan Rahman tidak menyarankan memakai Zenfone 8 untuk bermain gim berat dalam waktu lama.

Di luar aktivitas gaming, Zenfone 8 sangat lancar digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Alisson Johnson mengaku bahwa ponsel ini sangat responsif, animasinya lembut, dan sangat gegas saat berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Adapun keunggulan performa Zenfone 8 tidak berasal dari chipset Snapdragon 888 saja. Ada peran dari teknologi RAM berteknologi LPDDR5 dan memori internal berbasis UFS 3.1.

Mishaal Rahman pun sempat mengetes kecepatan storage UFS 3.1 milik Zenfone 8 dengan aplikasi AndroBench. Hasilnya, memori internal ini bisa meraih kecepatan baca sekuensial 1935,73 MB/detik dengan kecepatan tulis sekuensial 762,6 MB/detik.

6. Baterai Cukup dengan Pengisian Cepat

sumber: asus.com

Jujur saja, Anda pasti ragu dengan kemampuan baterai ASUS Zenfone 8. Maklum, kapasitas yang dibawanya 'cuma' 4000 mAh. Ukuran kapasitas ini memang tidak kecil, tetapi tidak lebih besar dari kebanyakan ponsel zaman sekarang. Anda harus memaklumi hal ini karena Zenfone 8 adalah ponsel yang kecil.

Dalam pengujian yang dilakukan GSM Arena, Zenfone 8 bisa dipakai telepon selama 21 jam 54 menit dalam sekali cas. Waktu pakai berubah jadi 12 jam 34 menit kalau digunakan untuk browsing, dan 15 jam 47 menit saat dipakai buat menonton video.

Secara keseluruhan, ponsel ini menghasilkan endurance rating 88 jam yang artinya cukup. Tidak buruk-buruk amat buat HP dengan kapasitas baterai kecil dan chipset monster. Eric Zeman mengaku bahwa ponsel ini nyaris bisa bertahan seharian dengan mode laju penyegaran 120 Hz.

Kalau diturunkan jadi 90 atau 60 Hz, kata Zeman, pasti ada sisa daya baterai saat ponsel selesai dipakai seharian. Masih menurut Eric Zeman, daya tahan baterai bisa ditingkatkan lagi jika fitur Always-on Display dimatikan.

Sementara itu, Mishaal Rahman mendapatkan waktu pakai 3,1 jam saat memainkan gim Genshin Impact pada setelan grafis tertinggi dengan level kecerahan layar paling mentok.

Untungnya proses pengisian baterai ponsel ini cukup cepat. Berbekal charger 30 W yang disertakan dalam paket penjualan, baterai Zenfone 8 bisa terisi 60% hanya dalam setengah jam pengecasan. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk mengisi sampai penuh cuma 1 jam 28 menit, demikian menurut tes yang dilakukan GSM Arena.

7. Speaker Mantap

sumber: asus.com

ASUS menyematkan konfigurasi speaker yang mantap buat ASUS Zenfone 8, kendati statusnya bukanlah ponsel gaming. Speaker stereo yang dipasang di ponsel ini bukan speaker sembarangan. Speaker atasnya memakai magnet berukuran 10 x 12 mm, sedangkan speaker bawah punya magnet berukuran 12 x 16 mm.

Dua-duanya ditenagai amplifier Cirrus Logic CS35L45 dan disetel oleh perusahaan spesialis audio, Dirac. Menurut uji yang dilakukan GSM Arena, kelantangan suaranya masuk kategori bagus, yakni -26.6 LUFS (Loudness Unit Full Scale). Kata GSM Arena, komposisi suaranya cukup berimbang pada level volume menengah dan atas.

Sementara itu, Eric Zeman bilang tidak ada distorsi kendati ia menyetel lagu beraliran metal, dance, dan techno dengan keras. Suara simbal drum sangat nyaring terdengar pada level volume atas. Kemampuan audio yang baik dari Zenfone 8 dilanjutkan ke area jack audio 3,5 mm.

Jika Anda hendak mendengar musik dengan headset kabel, pengalaman immersive yang diberikan bakal tiada dua. Sebab, Zenfone bisa menyetel audio beresolusi tinggi dengan bit rate 384 kHz/32-bit. Kemampuan ini hadir berkat dukungan codec Qualcomm Aqstic DAC.

Kekurangan ASUS Zenfone 8

Anda tak akan pernah menemui kesempurnaan karena mencarinya adalah kesia-siaan. Begitu juga dengan Zenfone 8 yang tidak lepas dari kekurangan. Beberapa poin kekurangan di bawah ini akan menjelaskan titik lemah dari si ponsel.

1. Refresh Rate yang Tidak Akurat

sumber: asus.com

Sudah menjadi hal wajar bila ponsel flagship sudah mendukung laju penyegaran 120 Hz. Zenfone 8 pun menganut tren tersebut dengan optimasi dinamis. Artinya, ponsel akan otomatis melakukan penyesuaian laju penyegaran ke 90 atau 60 Hz untuk menghemat baterai.

Sayang penyesuaian otomatis ini masih harus diperbaiki, begitu menurut GSM Arena. Pasalnya, Zenfone 8 tak mau menampilkan gambar dalam mode 90 atau 120 Hz saat GSM Arena mencoba sejumlah judul gim - termasuk yang mendukung refresh rate tinggi. Alhasil, seluruh gim hanya bisa ditampilkan dalam mode 60 Hz.

Lucunya, saat disetel manual pada mode 90 Hz, gim berjalan pada 60 Hz. Sedangkan ketika setelan 120 Hz diaktifkan, beberapa gim tak mau pindah dari tampilan 90 Hz.

Sebaliknya, saat ponsel digunakan untuk hal yang ringan, seperti browsing atau menonton video di YouTube, ponsel tak mau turun otomatis dari mode 90 atau 120 Hz ke laju penyegaran 60 Hz. Masalah ini juga ada kaitannya dengan pengaturan konsumsi daya pada baterai.

Jika mode Dynamic yang diaktifkan, masalah ketidakakuratan laju penyegaran seperti dijelaskan di atas bakal terjadi. Di sisi lain, mengaktifkan mode High-performance memang bisa membuat gim berjalan pada laju penyegaran 120 Hz.

Akan tetapi, setelan refresh rate tinggi ini tak bisa turun saat ponsel tidak membutuhkannya, seperti ketika dipakai untuk menonton video. Hal ini jelas memicu baterai ponsel cepat habis. Oleh sebab itu, ASUS mesti segera memberikan update software untuk membereskan masalah ini.

2. Pemindai Sidik Jari dan Haptic Feedback Biasa Saja

sumber: asus.com

ASUS Zenfone 8 memaksimalkan fungsi panel Super AMOLED dengan menaruh sensor pemindai sidik jari di bawah permukaan layar. Pemindai sidik jari tipe ini memang kekinian. Namun demikian, Mishaal Rahman tidak memperoleh impresi yang baik.

Sebab, menurut dia, sensor pemindai sidik jari di ponsel ini punya respons yang lebih lambat ketimbang ponsel lain. Akurasinya bisa sangat bagus, tapi juga bisa sangat menyebalkan. Rahman pun memberi tips agar masalah yang ia alami tidak terjadi untuk pengguna.

Tipsnya yakni melakukan perekaman sidik jari dengan kondisi pencahayaan dan kebersihan layar yang bervariasi. Usahakan merekam sidik jari dalam kondisi gelap, di dalam ruangan, dan luar ruangan, serta dengan layar yang bersih dan kotor.

Rahman juga menilai bahwa haptic feedback alias getaran balik yang ditimbulkan Zenfone 8 biasa-biasa saja. Bukan berarti ponsel ini memiliki dinamo getar yang buruk. Hanya saja, kelembutan getarannya tidak seperti ponsel flagship pada umumnya.

3. Overheat dan Pembaruan Software Terbatas

sumber: asus.com

Sebagaimana dijelaskan di poin kelima pada bagian kelebihan, ASUS Zenfone 8 belum punya sistem manajemen termal sebaik saudaranya ROG Phone 5. Hal ini dapat disadari karena bentuk mungil si ponsel membuatnya tidak memiliki ruang lebih untuk ditempati rangkaian pendinginan yang kompleks.

Alhasil, panas yang dihasilkan oleh chipset Snapdragon 888 kurang bisa ditanganinya dengan lebih baik. Terutama saat beban kerja ponsel sedang tinggi-tingginya. Panas yang ditimbulkan bahkan membuat Mishaal Rahman merasa tidak nyaman untuk menggenggam ponsel ini. Karena itu, sebaiknya Anda tidak berlama-lama memainkan gim berat di Zenfone 8.

Sementara itu, ASUS melakukan pendekatan yang berbeda dari produsen lain mengenai software. Produsen lain biasanya mencoba untuk membuat penampilan antarmuka yang tak mirip dengan Android murni. Namun, antarmuka ZenUI sangat bersih dan amat mirip dengan sistem operasi Android 11. Itu adalah hal yang bagus.

Hanya saja, ASUS belum bisa menaikkan daya tawar yang selama ini lemah bagi ponsel Android. Daya tawar itu yakni update software jangka panjang. Sesuai dengan rekam jejaknya, ASUS hanya akan memberi peningkatan software sebanyak dua kali.

Tentunya hal ini bisa saja membuat pecinta HP kecil tidak jadi berpaling ke ASUS. Karena dengan harga yang sama-sama mahal, mereka akan tetap menjatuhkan pilihan pada Apple iPhone yang minimal memberi peningkatan software sebanyak 5 kali. ASUS bahkan masih tertinggal dari Samsung yang menjamin peningkatan software hingga 3 kali.

Simpulan

ASUS mencoba mengubah persepsi dunia terhadap smartphone melalui Zenfone 8. Sebuah smartphone dengan dimensi yang lebih bersahabat dengan tangan. Bukan tidak mungkin bila Zenfone 8 berhasil mendulang kesuksesan, produsen lain bakal mengikuti jejaknya dalam menciptakan HP kompak berspesifikasi tinggi.

Walau begitu, Zenfone 8 hanyalah langkah awal dari ASUS. Maka tak bisa dimungkiri bahwa ponsel semacam ini perlu penyempurnaan pada masa mendatang. Masalah seperti panas berlebih pada Zenfone 8 seharusnya bisa diatasi dengan mendesain ulang sistem pendinginan yang optimal buat ponsel kompak.

Jika ditanya untuk siapakah ponsel 5G ini diciptakan, jawabannya adalah untuk mereka yang punya perhatian lebih pada desain. Kendati demikian, sektor lain seperti, tampilan, kamera, performa, audio, dan pengisian daya juga tidak kalah sip. Karena itu, Zenfone 8 yang punya dukungan NFC dan WiFi 6e ini layak dibeli!

Hingga artikel ini ditulis, satu-satunya ponsel Android yang bisa menjadi rival Zenfone 8 untuk segmen HP kompak adalah Samsung Galaxy S21 5G. Ukuran layarnya memang sudah tembus 6,2 inci. Namun, ukuran ini relatif lebih kecil daripada ponsel-ponsel flagship lainnya.

Galaxy S21 bisa menjadi alternatif karena tidak sepanas Zenfone 8. Ia juga punya ketahanan baterai yang lebih baik kendati ukurannya sama-sama 4000 mAh, dan dijamin memperoleh peningkatan software sebanyak 3 kali. Hanya saja, build quality Galaxy S21 sedikit ada di bawah Zenfone 8 karena bodinya bermaterialkan plastik.

Selain itu, jack audio dan dan charger dalam paket penjualannya absen. Kemudian, Anda juga bisa melirik Apple iPhone 12 bila terbiasa dengan ekosistem Apple. Layar ponsel ini memang masih 60 Hz. Namun, ia menawarkan kamera, performa, dan daya tahan baterai yang mirip. Satu-satunya masalah hanyalah harganya yang jauh lebih mahal.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram