carisinyal web banner retina
Carisinyal / Smartphone / Ini Dia Berbagai Perbedaan Seri Smartphone Xiaomi

Ini Dia Berbagai Perbedaan Seri Smartphone Xiaomi

Ditulis oleh Ahmad Tsalis - Diperbaharui 26 Februari 2021

Xiaomi bukanlah siapa-siapa saat masuk ke Indonesia pada Agustus 2014. Umur perusahaan elektronik pimpinan Lei Jun ini juga baru empat tahun kala itu. Namun, siapa sangka kehadiran Xiaomi memberi dampak yang luar biasa buat peta persaingan ponsel di Indonesia dan dunia.

Bisa dibilang, Xiaomi adalah produsen ponsel yang memelopori penjualan via flash sale di toko online. Tanpa iklan, tanpa toko fisik, ponsel redmi 1S diserbu warganet Indonesia. Marketplace Lazada, yang jadi rekan Xiaomi saat menjual redmi 1S pada 2014, bahkan sempat down kala itu. Bayangkan, 10 ribu ponsel redmi 1S ludes dalam 12 menit!

Berawal dari sini, nama Xiaomi semakin mendapat perhatian khusus. Sebab, strategi Xiaomi yang tak menggunakan iklan dan toko fisik saat itu mampu memangkas ongkos produksi. Alhasil, produk dengan spesifikasi apik dengan harga terjangkaulah yang tercipta.

Apalagi, sejak awal Xiaomi mendesain paket penjualannya secara minimalis. Hanya ada sim ejector dan charger selain si ponsel. Pada saat yang sama, produsen lain masih menyertakan headset. Ketimbang beriklan, Xiaomi memilih menggelar beragam acara bersama para pendukung setianya: Mi Fans. Mi Fans tentu punya andil dalam memperkenalkan produk-produk Xiaomi ke masyarakat luas.

Status Xiaomi pun kini berubah menjadi raksasa. Di mata dunia, Xiaomi adalah produsen ponsel ketiga terbesar dengan pangsa pasar 12,1 persen pada kuartal 4 2020. Posisi ketiga juga direngkuh Xiaomi di Indonesia, dengan pangsa pasar 19,95 persen pada Desember 2020.

Untuk merekam jejak Xiaomi di dunia perponselan, kali ini Carisinyal akan merangkum seri ponsel yang pernah dikeluarkan oleh produsen asal Tiongkok ini. Simak ulasannya berikut.

1. Mi

xiaomi mi 10t bobot

Perjalanan Xiaomi di dunia perponselan diawali dari seri Mi. Racikan pertama mereka adalah Mi 1 yang dijual pada 2011 khusus untuk pasar Tiongkok, setahun setelah mereka punya antarmuka MIUI. Lini produk seri Mi diposisikan Xiaomi sebagai ponsel kelas atas (flagship), tetapi dengan harga kompetitif.

Ponsel seri Mi selalu dipasangi chipset kelas premium seperti Snapdragon 800 series. Sayangnya, ponsel flagship dari Xiaomi tak pernah singgah di Indonesia secara resmi. Baru pada 2020 publik nusantara disuguhi trio Mi 10 series, yakni Mi 10, Mi 10T, dan Mi 10T Pro. Sebelumnya, yang tiba di Indonesia hanyalah flagship versi murah, yaitu Seperti Mi 4i (2015) dan Mi 8 Lite (2018).

Selain chipset premium, ciri lain dari seri Mi adalah disematkannya fitur-fitur keren. Misalnya, detektor detak jantung, teknologi pengisian cepat nirkabel, sistem pendingin cairan (vapor chamber), sensor sidik jari di bawah permukaan layar, hingga kamera telefoto (seperti di Mi 11 Ultra). Kemudian, seri ini juga selalu diberikan proteksi kaca Corning Gorilla Glass terbaru.

2. Mi Mix

mi mix 3 3

Sebelum desain layar full view jamak digunakan pada zaman sekarang, Xiaomi telah lebih dahulu mengawalinya dengan Mi Mix. Mi Mix berani tampil beda karena desainnya seperti tak punya 'kepala'. Maklum, ponsel ber-bezel tipis belum lazim saat itu.

Lucunya, kamera depan tetap ada di HP keluaran 2016 itu, tetapi ditempatkan di bezel bagian bawah. Bagian bawah menjadi tempat yang paling rasional untuk kamera depan, karena dulu belum mengenal punch-hole. Inovasi kembali diperlihatkan Xiaomi saat meluncurkan Mi Mix 3. Ponsel ini menarik perhatian karena desain kamera depan pop-up-nya yang manual. Untuk memunculkan kamera depannya, seseorang mesti menggeser layar ke arah bawah layaknya ponsel sliding candybar zaman dulu.

Lewat seri Mi Mix, Xiaomi mencoba bereksperiman dengan hadirkan ponsel berdesain unik dengan material premium. Material yang digunakan untuk penutup belakang ponsel seri Mi Mix biasanya kalau tidak keramik berarti kaca Corning Gorilla Glass. Dari ciri-cirinya tersebut, sudah jelas bahwa Mi Mix dijual untuk memenuhi ekspektasi kaum glamor pecinta fesyen. Meski begitu, spesifikasi yang diberikan tidak main-main karena selalu disematkan chipset kelas atas seperti Snapdragon 800 series.

3. Mi Note

Xiaomi Mi Note 10

Mi Note adalah ponsel seri flagship berlayar besar dari Xiaomi. Kemungkinan, ini adalah upaya Xiaomi untuk menyaingi flagship berukuran jumbo kompetitor seperti Samsung Galaxy Note dan Huawei Mate. Meski begitu, langkah Xiaomi sebetulnya agak terlambat karena generasi pertama Mi Note (Snapdragon 801) baru meluncur pada 2015. Sebelum 2015, Xiaomi cuma punya Redmi Note series untuk mengisi segmen penyuka layar besar.

Di sisi lain, Xiaomi sepertinya belum sepenuh hati mengembangkan seri ini. Pasalnya, mereka belum rutin mengeluarkan edisi baru dari seri ini setiap tahun. Tak seperti seri Mi yang selalu punya model baru kala tahun berganti. Saat generasi pertama muncul, lini ponsel Mi identik dengan chipset kelas atas dan fitur-fitur premium.

Namun, sejak Mi Note 3 lahir (2017), chipset kelas wahid tak lagi digunakan. Mesk begitu, fitur-fitur premium tetap diberikan. Seperti, Mi Note 10 Pro yang memakai chipset premium mid-range Qualcomm Snapdragon 730G. Ponsel berlayar AMOLED 6,47 inci ini adalah smartphone pertama di dunia dengan lima kamera belakang. Salah satu kameranya berlensa telefoto 12 MP dengan kemampuan zoom 3,7 kali.

4. Mi A

Xiaomi Mi A2 Lite

Google sudah punya Pixel sebagai ponsel yang dijamin paling awal mendapat update, baik itu update patch keamanan ataupun sistem operasi. Akan tetapi, untuk sebagian orang, Pixel dianggap terlalu mahal. Apalagi, ponsel ini tidak dijual di semua negara, Indonesia salah satunya.

Alhasil, Google meluncurkan proyek Android One untuk mengajak produsen ponsel membuat produk dengan jaminan update paling awal, tetapi dengan harga terjangkau. Xiaomi pun menjadi salah satu produsen yang ikut dalam proyek ini.

Debut Xiaomi di proyek Android One dimulai dengan meluncurkan Xiaomi A1 pada 2017. Ponsel ini ternyata mendapat sambutan baik. Terutama bagi mereka yang senang dengan spesifikasi mumpuni ala Xiaomi, tetapi tidak terlalu suka dengan antarmuka MIUI. Ponsel Mi menggunakan antarmuka Android Vanilla (murni) tanpa dipermak neko-neko. Konon, Android murni lebih stabil, tidak boros RAM, dan hemat konsumsi daya.

Karena itu, ponsel Mi yang 'cuma' dipasangi chipset kelas menengah Snapdragon 600 series bisa lancar digunakan bertahun-tahun. Sayang, kabar mengatakan bahwa Xiaomi sudah tak lagi bergabung dengan proyek Android One. Praktis, seri Android One dari Xiaomi berhenti di Mi A3 yang meluncur pada 2019. Sementara itu, produk Android One terakhir dari Xiaomi yang masuk ke Indonesia adalah Mi A2 series.

5. Mi Max

Xiaomi Mi Max 2

Menurut definisi zaman dulu, smartphone yang punya bentang layar 5,1 sampai 7 inci disebut dengan phablet (kependekan dari phone tablet). Istilah ini muncul karena standar layar ponsel zaman dulu tidak sebesar sekarang. Mi Note yang dijelaskan di atas pun masuk kategori ini jika mengacu istilah zaman dulu. 


Setahun berselang setelah meluncurkan Mi Note (2015), Xiaomi mencoba peruntungannya untuk melahirkan seri lain yang juga berlayar jumbo. Yakni Mi Max, sebuah ponsel berlayar 6,44 inci, ber-chipset Snapdragon 650, dan didukung baterai 4850 mAh. Ponsel ini ditujukan buat yang suka layar lebar tetapi tidak memerlukan spesifikasi dewa. Itulah hal yang membedakan Mi Max dengan Mi Note.

Selain layar dan baterainya yang jumbo, sisi menarik seri Mi Max adalah banderolnya yang murah. Harganya tidak pernah lebih dari 6 juta rupiah. Atribut lain yang tersemat di ponsel seri ini bisa dibilang biasa-biasa saja. Belum diketahui apakah Xiaomi akan melanjutkan pengembangan seri ini setelah terakhir kali meluncurkan Mi Max 3 pada 2018.

6. Redmi

Redmi 1s

Seri ponsel Redmi muncul pertama kali pada 2013, tiga tahun setelah Xiaomi berdiri. Ponsel pertama seri ini adalah Redmi 1 yang dipasarkan hanya lewat daring. Lini produk Redmi ditujukan untuk kelas menengah dan entri dengan harga terjangkau. Harganya ada di kisaran 1 sampai 2 jutaan rupiah.

Baterai berkapasitas besar menjadi jualan utama Xiaomi di seri ini. Hal itu mereka perlihatkan sejak melahirkan Redmi 3 (4100 mAh) pada 2016. Bisa dibilang, Redmi 3 adalah pionir HP murah berbaterai besar. Baterai besar ditunjang dengan ukuram RAM dan memori internal di atas rata-rata untuk kelas harganya.Redmi juga jadi rujukan orang-orang yang ingin memakai ponsel ber-chipset Snapdragon dengan harga terjangkau.

Maklum, orang-orang zaman dulu masih skeptis dengan MediaTek yang katanya tak gegas, cepat panas, dan boros. Namun, belakangan ponsel Redmi tidak hanya memakai Snapdragon seri 400 atau 600. Seperti Redmi 9 yang memercayakan dapur pacunya pada MediaTek Helio G80. Mulai 2019 Xiaomi memutuskan Redmi sebagai sub-brand mereka. Hal ini membuat Redmi beroperasi secara independen, tetapi masih dalam pengawasan Xiaomi. 

7. Redmi Note

redmi note 9 pro desain

Awalnya, seri Redmi Note adalah versi layar besar dari Redmi. Seiring perkembangan zaman, standar ukuran layar ponsel pun semakin membesar. Kini tak ada lagi perbedaan ukuran layar antara seri Redmi dan Redmi Note secara signifikan.

Fenomena itu membuat level Redmi Note ditingkatkan satu anak tangga di atas seri Redmi. Perhatian publik pun akhirnya beralih ke seri ini, karena kehadirannya senantiasa ditunggu-tunggu setiap tahun. Pasalnya, perwajahan smartphone berspesifikasi mumpuni, fitur lengkap, dan harga terjangkau, tercermin dari seri ini. Terutama varian Pro yang dibanderol sekitar Rp3 jutaan.

Hal itu seperti yang ditunjukkan oleh Redmi Note 8 Pro dan suksesornya, Redmi Note 9 Pro. Dua ponsel kelas premium mid-range itu diacungi jempol karena mengusung konfigurasi kamera lengkap, sudah memakai teknologi penyimpanan UFS, dan punya NFC. Tidak RAM dan storage yang lega dan baterai berukuran besar beserta teknologi pengisian cepatnya.

8. POCO

Xiaomi punya senjata kedua (selain Redmi Note) guna bisa beradu di kelas menengah. Senjata itu mereka beri nama POCO. Seri pertama POCO memulai sepak terjangnya pada 2018 dengan produk Pocophone F1. Ponsel tersebut sempat menjadi bahan perbincangan dan dielu-elukan oleh masyarakat, tak terkecuali masyarakat Indonesia.

Pasalnya, Xiaomi 'hanya' memberi harga paling tinggi Rp5,2 juta untuk ponsel dengan Snapdragon 845 itu. Maka dari itu, Xiaomi bisa disebut sedang berjualan HP 'flagship' dengan setengah harga. Sebab, rata-rata ponsel dengan Snapdragon kepala 8 dibanderol paling tidak Rp10 juta. 

Hal sama dilanjutkan Xiaomi pada POCO F2 Pro yang dirilis Juli 2020. POCO F2 Pro dipersenjatai Snapdragon 865, kamera depan pop-up mekanis, sensor fingerprint scanner di bawah permukaan layar, dan diliputi kaca gorilla glass baik di depan maupun di belakang. Spesifikasi yang demikian berikut harga jauh di bawah ponsel kelas atas membuatnya diberi julukan flagship killer.

Seiring perkembangan waktu, POCO juga menyajikan ponsel killer untuk kelas menengah dan entri. Seperti POCO X3 NFC dan POCO M3. Jika melihat dari atribut yang disematkan, ponsel POCO sepertinya dirancang untuk memiliki keunggulan tertentu, sehingga diharapkan menjadi yang terbaik di kelasnya. Adapun status POCO saat ini sama seperti Redmi, yakni beroperasi secara independen dengan pengawasan Xiaomi.

9. Black Shark

Black Shark 3

Tren gaming di ponsel Android mengemuka sejak berbagai kompetisi digelar di berbagai tingkat. Sayangnya, tidak semua pabrikan besar punya produk ponsel yang didedikasikan khusus untuk menunjang kebutuhan gaming. Celah itu lantas dimanfaatkan oleh sekelompok orang Tiongkok untuk mendirikan perusahaan teknologi bernama Black Shark pada 2017.

Beberapa orang awalnya mengira bahwa ini adalah sub-brand dari Xiaomi seperti POCO dan Redmi. Namun, pihak Black Shark menegaskan bahwa mereka adalah perusahaan independen yang pengembangan, pemasaran, dan layanan purna jualnya tidak tergantung oleh Xiaomi. Mereka juga tidak mendapat pengawasan dari Xiaomi.

Meski begitu, Xiaomi adalah investor utama mereka. Sekitar 46 persen modal Black Shark berasal dari kucuran dana Xiaomi. Debut Black Shark di Indonesia terjadi pada 2019 dengan ponsel Black Shark 2 dan Black Shark 2 Pro. Sebagai ponsel gaming, Black Shark punya selalu dibekali chipset premium dan baterai awet. Serta layar mumpuni dengan refresh rate dan touch sampling rate tinggi.

Selain itu, supaya punya kestabilan performa, ponsel Black Shark punya sistem pendinginan khusus. Seperti Black Shark 3 yang punya sistem pendinginan cairan (vapor chamber). Jika kurang dingin, pihak Black Shark juga menjual kipas khusus (FunCooler Pro). Ponsel Black Shark biasanya dijual dengan rentang harga Rp11-12 juta.

Demikian ulasan mengenai seri ponsel Xiaomi yang pernah meluncur. Sebagai salah satu pelopor ponsel berkualitas dengan harga merakyat, Xiaomi tentu tak ingin citra tersebut pudar. Menghapus citra tersebut bisa berakibat kehilangan basis massa yang mencintai produk mereka.

Pepatah bilang, mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Itulah mengapa Xiaomi konsisten menghadirkan produk berbanderol relatif lebih miring di setiap segmen.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram